Hotel Bujet Booming Berlanjut di Tengah Persingan Ketat (4)

Big Banner

Salah satu operator yang rajin menambah portofolio adalah PT Intiwhiz International, anak usaha PT Intiland Development Tbk yang bergerak di bidang usaha hospitality dan jasa pengelolaan bisnis perhotelan. Moedjianto S. Tjahjono, Presiden

Direktur & CEO Intiwhiz International, mengatakan, ke depannya Intiland masih akan terus membangun hotel-hotel bujet dengan konsep serupa. Sekedar informasi, Intiwhiz saat ini memiliki 22 jaringan hotel yang tersebar di beberapa daerah. Dan, rencananya pada tahun 2018 akan kembali menambah portofolio hotel bujet di Jakarta, Bandung, Karawang dan Manado. “Kalau setahun saja kita bangun 5 hotel, sepuluh tahun kedepan kita punya 50 hotel baru,” jelasnya.

Moedjianto menuturkan, sebelum membangun sebuah hotel bujet, Intiwhiz telah menghitung detil kriteria kota, lokasi, luas tanah dan jumlah kamar, biaya hingga kapan waktu balik modal. Sebab, menurutnya, tak semua kota bisa dimasuki. “Kita tidak akan buka di kota yang harganya tidak reasonable,” jelasnya.

Sementara, untuk kriteria lokasi, harus berada atau dekat dengan pusat keramaian dengan luas tanah sekitar 800-1200 meter persegi yang bisa dibangun 100-120 kamar. Adapun, anggaran untuk tanah maksimal Rp10 miliar sedangkan total investasinya sekitarRp50 miliar. “Kalau kotanya tepat, lokasinya strategis, kita targetkan 8 tahun sudah balik modal,” tandasnya.

Moedjianto mengatakan dari 22 hotel yang dimiliki Intiwhiz sebagian besar adalah hotel bujet bintang 2 dan 3, dengan tingkat okupansi rata-rata 76%. “Tingkat hunian kamar hotel masih bagus di saat belum bergairahnya bisnis hotel,” cetusnya. Untuk hotel dengan brand Whiz Hotel, tarif kamar ditawarkan mulai dari Rp350 ribu hingga Rp400 ribu, Whiz Prime sekitar Rp400 ribu hingga Rp500 ribu, serta Grand Whiz Hotel mulai dari Rp400 ribu – Rp600 ribu.

Terkait permintaan moratorium hotel oleh PHRI, Moedjianto justru tidak sependapat. Menurutnya semakin banyak hotel bisa menarik lebih banyak wisatawan. Ia pun mencontohkan Jepang, dimana di negeri matahari terbit itu hotel begitu mudah ditemui. “Kalau kita ke Jepang tidak khawatir
tidak dapat kamar, karena disana banyak hotel. Nyatanya wisatawan mancanegara hilir mudik tuh ke Jepang,” ujarnya.

Menurut Moedjianto guna menghindari rendahnya okupansi hotel, hal yang harus diperhatikan adalah perhitungan tepat sejak awal perencanaan akan membangun hotel. “Prinsip kita tentukan kota yang berkembang, cari lokasi yang ramai, identifikasi berapa harga dan okupansinya, seperti apa kebutuhan di lokasi tersebut, baru menentukan hotel bintang berapa yang akan dibangun. Bukan kita punya tanah lalu bangun hotel tanpa memperhatikan banyak aspek sebelumnya,” tegasnya.

Sementara itu, Director Research & Advisory PT. Cushman & Wakefield Indo- nesia, Arief Rahardjo mengatakan, per- saingan yang terjadi lebih terlihat antara hotel bujet dengan operator dibandingkan hotel bujet non operator.

Menurut Arif, hotel bujet dengan operator disebutnya lebih unggul dari sisi lokasi, kebersihan, serta koneksi internet yang lazimnya menjad tuntutan para tamu dibandingkan hotel bujet non brand. Selain itu, hotel bujet dengan operator ini juga memiliki kelebihan dengan optimalisasi jaringan pemasaran serta pembagian informasi terkait lokasi jaringan hotel bujet lainnya.

“Perkembangan hotel bujet memang sudah menjamur, bahkan kehadiran operator hotel bujet bisa juga jadi pesaing di antara hotel bujet tanpa operator yang meskipun sudah berdiri lama,” katanya.
“Beberapa pemain utama operator hotel internasional sudah beroperasi cukup lama di Indonesia antara lain Accor, Marriot International, dan Archipelago International sehingga best practice-nya sudah bisa dilihat oleh para pemilik hotel,” ujarnya.

Beberapa jaringan hotel asing antara lain; hotel Accor terdiri dari Novotel, Ibis, Ibis Bujet, Ibis Style (All Seasons), Mercure, Grand Mercure, Sofitel, Pullman, dll atau jaringan managemen hotel Intercontinental (Intercontinental, Holiday inn, dll). Sementara, managemen hotel yang dikelola oleh swasta Indonesia dengan brand-brand yang dimiliki seperti Archipelago Internasional (Quest Hotel, Hotel Neo, Hotel Neo+, Fave Hotel, Harper). Ada juga Santika Hotel Indonesia & Resorts (Hotel Santika, Amaris Hotel), Kagum Hotel (Zodiak Hotel, Serela, Verona Palace, Malaka), Metropolitan Golden Management (Horison, @Hom Hotel, Aziza Hotel), Intiwhiz Internationa (Whiz Hotel, Whiz Prime, Grand Whiz Hotel), Tauziah Hotel Management (Yello Hotel, Pop Hotel, Fox Harris), Grand Zuri (Grand Zuri, Premiere, Zuri Express).

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com