Potensi Besar dari Konsumen Generasi Millineals (4)

Big Banner

Industri properti di tahun 2018 diprediksikan akan tumbuh sebesar delapan persen dibanding tahun 2017. Saat ini properti yang nilainya di bawah satu miliar rupiah lebih diminati oleh pasar Indonesia khususnya segmen milenial.

Menurut pengamat properti yang juga pendiri Panangian School of Property, Panangian Simanungkalit, orientasi pengembang tahun ini mengarah kepada pembangunan produk properti yang bisa dijangkau oleh pasar generasi milenial. Apalagi segmen ini berpotensi untuk terus tumbuh hingga sepuluh tahun mendatang.

“Daya beli kelompok milenial didukung oleh orangtua mereka yang sudah mapan secara ekonomi. Kemampuan mereka sendiri dalam membeli properti hanya berkisar antara Rp500 juta hingga satu miliar.

Namun jumlah penduduk dari segmentasi ini akan terus bertambah secara signifikan karena adanya bonus demografi sehingga berpengaruh terhadap industri ini,” tuturnya. Panangian menegaskan bahwa pasar milenial adalah potential market yang akan terus meningkat hingga mencapai puncaknya pada tahun 2030. Bank-bank pemberi kredit perumahan pun saat ini telah membuka diri agar bisa diakses oleh generasi ini. Salah satunya bank BRI Syariah yang telah memiliki 60% (sekitar 2 juta) nasabahnya generasi milenial dengan umur 20-35 tahun.

Seperti diketahui, sepuluh hingga dua puluh tahun mendatang, Indonesia diproyeksi akan mengalami fase bonus demografi, yaitu peluang yang dinikmati suatu negara dikarenakan besarnya proporsi penduduk produktif (rentang usia 15-64 tahun) dalam evolusi kependudukan yang dialaminya.

Pada dekade ini pula, sebut mereka, perekonomian berpeluang meningkatkan produktivitasnya (mengakselerasi), hingga kemudian diikuti dengan meningkatnya tabungan serta tingkat konsumsi masyarakat.

Dengan asumsi, pertumbuhan ekonomi saat itu akan terstimulasi karena penduduk usia kerja bertambah sementara jumlah (relatif) penduduk yang masih bergantung pada orang-tua berkurang. Lembaga riset sekaligus perusahaan konsultan bisnis dan ekonomi, McKinsey Global Intitute (MGI) dalam laporannya yang bertajuk “The Archipelago: Unleashing Indonesia’s

Potential”, September 2012, menyebutkan, sebagai negara berkembang, saat ini Indonesia masih berada pada urutan 16 dengan ekonomi terbesar di dunia. Namun, di tahun 2030 nanti, ranking Indonesia akan berada pada urutan 7, setelah China, Amerika Serikat, India, Jepang, Brazil dan Rusia, serta menggeser posisi Jerman dan Inggris.

Bahkan, jika GDP Indonesia pada 2030 pertumbuhannya sesuai proyeksi yaitu antara 5 atau 6 persen per tahun, maka akan terjadi penambahan sebesar 90 juta kelas menengah baru di Indonesia. Dengan penambahan ini, maka nantinya total masyarakat kelas menengah Indonesia akan menjadi 135 juta jiwa dari sebelumnya hanya sekitar 40 juta jiwa di tahun 2010.

Lonjakan sebesar 90 juta kelas menengah baru tersebut, tentu sebuah potensi yang cukup besar untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebab, para orang kaya baru (OKB) ini tak hanya memerlukan kebutuhan dasar seperti makanan dan pakaian semata, namun juga berbagai kebutuhan lainnya termasuk kebutuhan rumah tangga dan berbagai pelayanan jasa. Sehingga secara tak langsung dapat memicu para investor baik domestik maupun asing yang ingin membenamkan pundi-pundinya. MPI DR/Riz

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me