Potensi Besar dari Konsumen Generasi Millineals (3)

Big Banner

Sebagai stakeholder pemerintah, Menteri Pertanahan Sofyan Djalil mengatakan pihaknya akan melakukan perubahan beberapa kebijakan di bidang pertanahan. Sehingga diharapkan bisa mengatasi mahalnya harga tanah yang menghambat generasi milenial memiliki rumah.

Sofyan meminta agar kenaikan harga tanah bisa dikombain dengan sistem perpajakan. Di mana nantinya, kenaikan harga tanah yang berlebihan akan dikenakan pajak lebih. Di tengah keterbatasan lahan, sudah saatnya para pengembang mulai melirik hunian berkonsep TOD. Hal ini guna menyediakan hunian bagi masyarakat di tengah keterbatasan lahan.

Yoris Sebasian dalam bukunya Generasi Langgas, mengatakan, karakter generasi milenial adalah orang-orang yang efisien, termasuk dalam hal urusan tempat tinggal. “Generasi milenial tidak membeli rumah. Prinsip mereka sharing economy. Ke depan generasi milenial ini akan besar kemungkinan hidupnya berpindah-pindah (nomaden),” ujar ahli pemasaran digital, Tuhu Nugraha.

Bahkan lanjut Tuhu, sudah ada yang membuat kos-kosan yang berpindah-pindah. Nanti setelah MRT jadi, ada rumah bentuknya kos-kosan di sepanjang jalan MRT, tiap bulan bisa pindah. “It’s smart, kita sewa bulanan dan bisa berpindah-pindah,” tambahnya.

Selain itu, di era teknologi seperti sekarang ini, berbagai kemudahan juga dapat dijumpai generasi milenal dalam urusan mobilitas dengan hadirnya transportasi aplikasi berbasis aplikasi hingga tempat tinggal sementara (home stay), apartemen kos-kosan hingga rental kamar di rumah-rumah besar melalui jaringan franchise bisnis properti.

Menurut laporan Bank Indonesia mengenai preferensi konsumen terhadap investasi berbentuk properti, memang turun 0,6 persen menjadi 22,5 persen selama bulan Oktober 2017 saja. Sementara itu, sebanyak 65,9 persen konsumen menyatakan tidak memiliki rencana membeli atau membangun rumah dalam 1-2 tahun mendatang. Angka ini naik dari sebelumnya 64,4 persen. Sebaliknya, jumlah konsumen yang menyatakan adanya kemungkinan membeli atau membangun rumah menurun dari 29,1 persen menjadi 26,9 persen.

Konsultan properti Colliers mencatat, pertumbuhan harga rata-rata apartemen di Jakarta pada kuartal III sebesar 1 persen bila dibandingkan kuartal sebelumnya, dan 4,5 persen bila dibandingkan
kuartal yang sama tahun lalu. Harga rata-rata apartemen di kawasan Central Business District Jakarta yaitu Rp50,07 juta per meter persegi. Di wilayah Jakarta Selatan tercatat Rp37,7 juta per meter persegi.

Adapun untuk area non primer senilai Rp24,3 juta per meter persegi. Lebih lanjut Ferry mengatakan, salah satu opsi ke depan, bagi generasi milenial yang belum bisa membeli hunian di dalam kota, pilihannya adalah sewa sampai menunggu punya uang cukup untuk membeli hunian sendiri. Dengan demikian, sampai kapan pun hunian akan terus dibutuhkan.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me