Potensi Besar dari Konsumen Generasi Millineals (2)

Big Banner

Dilla Amran, penulis buku Generasi Langgas Millenials Indonesia mengungkapkan, 86 persen generasi milenial memiliki prioritas hidup mendapatkan pengalaman baru. Itu sebabnya, hampir semua waktu dan uang dihabiskan untuk mengejar pengalaman baru dengan tujuan mulai dari menghiasi laman media sosial hingga memperkaya pengalaman mereka.

“Efeknya 2/3 penghasilan mereka habiskan untuk kesenangan, mulai dari liburan, atau menggeluti hobi baru yang membutuhkan biaya besar. Hanya 1/5 yang lari ke tabungan,” kata Dilla pada saat peluncuran Varian Gourmet Spesial dari Fancy Feast di Jakarta.

Tak hanya itu, generasi milenial juga suka membeli barang-barang yang selalu up to date, seperti smartphone. Gaya hidup yang serba praktis dan gadget minded. Membuat generasi milenial memilih tinggal di hunian jangkung atau apartemen.

Menurut Dilla Amran, dogma tinggal di landed house sudah nggak berlaku buat mereka. “Tren di kalangan milenial rumah nggak perlu gede-gede, kalau bisa kecil, tapi keren itu lebih baik. Mereka nggak rela punya rumah jauh-jauh tapi aktivitas mereka di tengah kota,” ungkapnya.

Anton Sitorus mengatakan generasi milenial berkantong tebal memilih untuk tinggal di tengah kota dan dekat dengan tempat mereka beraktivitas. Namun tidak begitu dengan generasi milenial di daerah.

“Mereka masih prioritas tinggal di kompleks perumahan daripada apartemen,” tambahnya.

Ferry Salaonto, Senior Associate Director Colliers International mengatakan, tawaran konsep back to the city dirancang pengembang yang menawarkan konsep mixed use cocok bagi generasi milenial yang memiliki orangtua yang sudah mapan.

“Milenial yang bisa beli dan tinggal di apartemen, menurut saya mereka yang berasal dari keluarga mapan, yang tidak memiliki beban membeli rumah. Mereka biasanya pelaku bisnis start up. Kalau tidak mapan bagaimana meraka bisa tinggal di apartemen. Lokasinya juga dipilih dekat dengan tempat mereka beraktivitas,” ujarnya.

Sementara itu, bagi yang generasi milenial berkantong tipis memiliki pilihan bertempat tinggal di pinggiran kota yang sudah dilengkapi akses transpotasi massal sehingga mempermudah ke tempat aktivitas. “Semakin bagusnya infrastruktur dan maraknya hunian berkonsep TOD (Transit Oriented Development) yang terintegrasi dengan Commuterline, MRT, LRT sudah tidak masalah lagi tinggal di daerah pinggiran. Karena saat ini yang dinilai waktu tempuh bukan lagi jarak,” tambahnya.

Menurut Ferry, ada beberapa kriteria rumah versi generasi milenial. Pertama, mereka tidak menginginkan rumah yang terlalu besar (tipe 27-36) dan berkonsep minimalis. Kedua, rumah modern yang simpel dan sederhana dengan perabot multifungsi sehingga tak perlu membeli banyak perabot.

Ketiga, Akses internet merupakan salah satu hal yang dipertimbangkan oleh mereka saat akan membeli hunian. Tak jarang akses internet menjadi penentu keputusan mereka dalam membeli properti.

Keempat, Generasi milenial memiliki mobilitas tinggi. Tak heran jika kelompok ini memilih untuk mempunyai rumah yang memiliki akses transportasi yang baik. Tak masalah lokasi rumah jauh dari kota, selama lokasinya dekat dengan akses transportasi umum, misalnya stasiun KRL, halte TransJakarta, dan jalan tol.

Kelima, rata-rata generasi milenial mengincar rumah dengan harga mulai dari Rp300 jutaan hingga Rp500 juta. Bagi mereka, harga ini dianggap standar dan masih terjangkau dengan rata-rata penghasilan bulanan mereka.
(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me