Proyek Properti TOD Harus Terbuka ke Permukiman Eksisting

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Proyek properti berbasis transportasi massal atau transit oriented development (TOD) yang sekarang ngetren mencakup area dalam radius hingga 800 meter. Proyek juga harus terbuka ke permukiman eksisting di sekitarnya.

Proyek apartemen Grand Dhika City dari Adhi Persada Properti di Bekasi Timur (foto : HousingEstate/Susilo Waluyo)

Proyek apartemen Grand Dhika City dari Adhi Persada Properti di Bekasi Timur (foto : HousingEstate/Susilo Waluyo)

Sigit Irfansyah, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ), menyatakan hal itu kepada housing-estate.com usai diskusi “Solusi Hunian, Transportasi, Akses dan Kualitas Hidup” yang diselenggarakan Synthesis Development, pengembang proyek hunian terpadu (mixed use development) Prajawangsa City (7 ha), Jl Raya Bogor, Cijantung, Pasar Rebo (Jakarta Timur), Selasa (27/2/2018).

Turut berbicara dalam diskusi itu Country Director Institute for Transportation Development Policy (ITDP) Yoga Adiwinarto dan Managing Director Synthesis Development Mandrowo Sapto, selain Presiden Direktur Synthesis Development Budi Yanto Lusli yang memberikan sambutan.

Menurut Sigit, berbeda dengan di banyak negara, basis atau backbone proyek TOD di megapolitan Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi) adalah bus seperti busway atau TransJakarta dan TransJabodetabek.

Tapi, hal itu tidak masalah sepanjang angkutan umumnya bisa diakses dan mengangkut banyak orang di sepanjang jalurnya. Di Jakarta hal itu sangat dimungkinkan karena sekitar 52 persen atau 6,7 juta jiwa populasi di Jakarta tinggal dalam radius hingga 1 km dari halte busway.

Karena itu proyek TOD harus dikembangkan inklusif alias terbuka terhadap lingkungan dan permukiman di sekitarnya sehingga mudah diakses siapapun yang mau menggunakan angkutan umum di area TOD. “Tidak boleh tertutup atau eksklusif. Gang-gang dan jalan tikus yang ada di permukiman eksisting di sekitarnya harus dioptimalkan sebagai akses ke area TOD,” ujarnya.

Mengikuti standar di negara-negara lain, lanjutnya, area proyek TOD mencakup radius hingga 800 meter. Untuk Indonesia yang tropis perlu dihitung betul, berapa jarak yang orang bisa berjalan kaki atau bersepeda tidak lebih dari 10 menit.

Supaya orang mau berjalan kaki atau bersepeda mencapai halte atau stasiun angkutan umum, proyek TOD harus menyediakan peneduh berupa kanopi atau pepohonan rindang serta pedestrian yang cukup lebar. Terlebih di negara tropis yang panas dan lembab seperti Indonesia.

Selain itu di area proyek juga harus tersedia area parkir yang memadai dengan tarif flat. Jadi, yang punya kendaraan pribadi terdorong memarkirkan kendaraan di stasiun, kemudian melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum ke tujuan selanjutnya.

“Jadi, akses satu kilometer dari permukiman ke halte busway terdekat itu harus dibenahi dan terkoneksi serta dibuat teduh dan nyaman. Memang, tetap berat pada tahap awal bagi kebanyakan orang berjalan kaki sejauh itu. Tapi lama-lama orang akan terbiasa,” kata Sigit.

 

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com