Over Sipply Properti Sekunder, Broker Harus Kerja Keras (2)

Big Banner

Banyaknya suplai properti di pasar sekunder membuat harganya juga tertekan, Bahkan di beberapa tempat malah terkoreksi. Erwin mengatakan, salah satu properti yang terkoreksi harganya berada di kawasan Menteng, Jakarta. Jika 2-3 tahun lalu harganya sekitar Rp100 juta per m2, kini terkoreksi menjadi Rp75 juta per m2. Kondisi ini membuat beberapa investor mengambil aksi untuk membeli. “Bagi investor, saat ini time to buy,” kata Erwin.

Hal yang sama dikatakan Ketua Umum DPP AREBI Hartono Sarwono. Di beberapa wilayah yang cukup premium, harga pasar sekunder residensial masih dalam kondisi yang baik meski ada yang mengalami koreksi. Sebut saja wilayah Kelapa Gading, Sunter dan Pondok Indah telah terjadi koreksi harga rumah bekas rata-rata turun 10% – 20%.

Hartono mengatakan, tahun 2017 lalu penyerapan rumah seken atau rumah yang beralih dari investor ke pihak kedua atau end user mencapai sekitar 60%-70%. Yang mana penyerapan paling tinggi terjadi di segmen landed house atau rumah tapak. Penyebabnya adalah sebelum tahun 2016 suplai produk primer besar sekali dan itu kebanyakan diserap oleh investor.”Lalu saat pasar mulai lesu, pembangunan relatif sedikit sehingga pasar sekunder yang kemudian bergerak,” kata Hartono.

Hartono membuat perumpamaan seekor naga untuk menggambarkan dinamika pasar primer dan sekunder sektor properti. “Ibarat Naga, pasar primer menjadi kepalanya dan pasar sekunder menjadi ekornya. Pasar primer sebagai sang kepala harus melihat ke belakang, kondisi ekornya. Tugas pasar primer menjadi market leader, pencipta tren sedangkan sekunder meratakan,” kata Hartono.

Menurut Hartono, pasar primer menjadi penentu tren penjualan dari sisi harga, lokasi, hingga ukuran bangunan. Namun perlu diingat bahwa pasar primer tak serta merta dapat menarik ceruk pasar tertentu. Sehingga dalam prosesnya mesti bergerak lebih lincah supaya tetap bertahan dengan melihat kondisi pasar sekunder yang dianggap lebih mencerminkan kondisi market. “Kalau apartemen atas di pasar sekunder lesu, ya jangan dihajar yang sama di pasar primer, pasti ikut-ikutan lesu, tapi dihajar dengan proyek berbeda,” kata Hartono.

Tahun 2018 diprediksi pasar properti sekunder akan tumbuh sedikit karena masih dalam tekanan. “Kita tetap optimis. Saya perkirakan tahun 2018 tumbuh 10%,” kata Darmadi. Hal yang sama dikatakan Erwin. Menurutnya pembeli di pasar sekuder akan tetap ada, terutama dari end user. “Kebutuhan properti akan terus meningkat walaupun saat ini pembeli lebih selektif dalam membeli. Mereka hanya membeli properti yang memiliki banyak keunggulan,” kata Erwin.

Tony Eddy, Chairman Keller Williams Realty Indonesia (KWRI) menilai produk properti sekunder tetap diminati karena produk sekunder resiko dari pengembang dalam masa pembangunan dan konsumen dalam masa pembelian akan terminimalisir, sebab hunian merupakan kebutuhan pokok yang seharusnya tidak ada resiko dan kejenuhan pasar.

Tony mengatakan keuntungan lain yakni proses pembelian produk sekunder akan lebih cepat dengan cicilan bertahap langsung pada penjual unit. Namun, konsumen juga dapat memanfaatkan metode pembayaran syariah jika menginginkan cicilan jangka panjang. Dengan metode syariah, kata Tony, pihak perbankan akan membeli dahulu unit yang konsumen inginkan dari penjual. Segala proses balik nama sertifikat dan yang berkaitan dengan hak kepemilikan sepenuhnya akan menjadi tanggung-jawab perbankan sebelum dilempar pada pasar konsumen. MPI YS

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me