Over Sipply Properti Sekunder, Broker Harus Kerja Keras (1)

Big Banner

Majalah Properti Indonesia edisi bulan lalu meurunkan liputan tentang pasar sekunder yang terkoreksi karena kelebihan pasokan. Disebutkan, banyaknya suplai properti di pasar sekunder membuat harga tertekan. Bahkan di beberapa tempat mulai terkoreksi.

Banyak pihak memprediksi, saat ini adalah periode di mana banyak broker properti akan mati. Terutama bagi broker properti yang semangatnya masih sama seperti 2-3 tahun lalu. Pasalnya saat ini kondisi sudah berubah drastis. Jumlah properti di pasar primer (baru) dan sekunder (bekas) sangat berlimpah, tidak sebanding dengan dengan jumlah pembeli. Kondisi kelebihan pasokan, terutama terjadi pada produk apartemen.

Darmadi Darmawangsa, Presiden Direktur ERA Indonesia yang juga mantan Ketua Umum DPP Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI), menuturkan, saat ini broker properti harus bekerja lebih keras dan harus memiliki daya juang dan mimpi yang besar. Jika tidak, maka dia akan “mati”. “Jika dulu broker properti hanya melakukan prospek 5 orang, dapet 1 potensial, sekarang harus melakukan prospek 20 orang baru dapet 1 potensial,” papar Darmadi.

Broker properti adalah profesi yang menjual jasa perantara jual-beli dan sewa properti, baik di pasar sekunder maupun primer. Mereka mendapat komisi dari penjual jika terjadi transaksi. Salah satu pihak yang terkena imbas dari kondisi pasar properti adalah para broker properti. Pasca krismon, profesi broker properti tumbuh pesat seiring dengan booming-nya bisnis properti.

Darmadi mengatakan, tahun 2017 lalu, ERA Indonesia hanya meraih pertumbuhan transaksi sebesar 5% dibanding tahun sebelumnya. Jumlah yang kecil tentunya dan memperlihatkan betapa masih lesunya pasar properti. Sampai saat ini transaksi yang diraih para broker properti yang tergabung dalam bendera ERA Indonesia masih kebanyakan dari pasar sekunder. Kata Darmadi, persentasenya mencapai 60%.

Pasar sekunder selama ini memang menjadi sandaran utama bagi broker properti. Pasalnya, komisi di pasar sekunder lebih cepat keluar dibandingkan di pasar primer. Komisi dipergunakan sebagai dana operasional para broker. “Porsi amannya adalah 70% transaksi di pasar sekunder, sisanya di pasar primer,” kata Erwin Karya, Associate Director Ray White Indonesia.

Darmadi mengatakan, broker properti terbagi dua, ada yang spesialis di pasar sekunder dan di pasar primer. Mereka yang spesialis di pasar primer tidak mudah untuk memasuki pasar sekunder. Pasalnya, di pasar sekunder dibutuhkan keahlian lebih. “Di pasar sekunder, broker harus mencari penjual dan pembeli. Sementara di pasar primer, produk sudah disediakan oleh pengembang, broker properti tinggal mencari pembeli,” kata Darmadi.
Namun, seiring banyaknya properti yang diluncurkan pengembang dan pengembang
mengandalkan broker properti untuk memasarkannya, ditambah dengan berbagai insentif dan bonus jika broker berhasil memasarkan, banyak broker properti spesialis pasar sekunder yang akhirnya memasuki pasar primer.

“Apalagi pasar primer sekarang tidak bisa lagi seperti dulu, hanya membuka stand di sebuah mal. Sekarang harus lebih agresif memasarkan. Dan broker properti pasar sekunder dibutuhkan karena mereka memiliki data base pembeli yang banyak,” kata Darmadi.
(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me