Penting Bagi Apartemen Sediakan Sarana Penghuni Berinteraksi

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Pengelola apartemen sangat perlu menyediakan sarana bagi penghuni untuk berinteraksi dan melakukan kegiatan sosial, yang sekaligus bisa dipakai sebagai alat kontrol dan deteksi dini terhadap situasi apartemen yang berpotensi menimbulkan masalah.

Menurut psikolog Nirmanisa Ruskin, peran pengelola apartemen menjadi penting karena terjadi perubahan gaya hidup sebagai konsekuensi orang tinggal di vertical house (apartemen). Nuansa kekeluargaan dan kehidupan bertetangga seperti di rumah tapak hampir tidak dapat lagi ditemukan dan dirasakan.

Gerobak PKL yang menjajakan aneka penganan yang dihadirkan pengelola di areal kawasan hunian terpadu Green Pramuka City, Jl A Yani, Jakarta Pusat, setiap pagi jam 06.00–10.00, sebagai salah satu sarana penghuni berinteraksi. (Foto: dok Green Pramuka City)

Gerobak PKL yang menjajakan aneka penganan yang dihadirkan pengelola di areal kawasan hunian terpadu Green Pramuka City, Jl A Yani, Jakarta Pusat, setiap pagi jam 06.00–10.00, sebagai salah satu sarana penghuni berinteraksi. (Foto: dok Green Pramuka City)

“Penghuni apartemen cenderung individualistis dan sangat menjaga privasinya. Padahal, manusia mahluk sosial yang butuh bersosialisasi dan berinteraksi. Hal yang mudah dilakukan ketika tinggal di area landed house, sulit dilakukan di apartemen,” kata psikolog jebolan Universitas Gadjah Mada itu seperti dikutip siaran pers Green Pramuka City (12,9 ha), kawasan hunian vertikal terpadu di Jl A Yani, Jakarta Pusat, Jum;at (9/3/2018).

Setiap penghuni juga dituntut dapat mandiri dalam menyelesaikan setiap permasalahannya, termasuk permasalahan personal seperti sindrom perasaan sepi (empty) karena tidak ada orang yang dapat ditemui atau diajak berkomunikasi di huniannya saat menghadapi masalah. Situasi itu berpotensi memicu permasalahan sosial di apartemen bila tidak dikelola dengan baik, karena tidak semua penghuni apartemen memiliki kematangan pribadi yang sama dalam menghadapinya.

“Karena itu peran pengelola sangat penting untuk menyediakan sarana yang mendorong penghuni berinteraksi dan melakukan kegiatan sosial. Pengelola harus menyediakan ruang bagi penghuni untuk bisa berkumpul baik berupa ruang maupun kegiatan bersama,” tutur Nirmanisa.

Direktur Marketing Green Pramuka City Jeffry Yamin berpendapat, ruang-ruang untuk bersosialisasi penghuni itu hanya mungkin diakomodasi apartemen yang sejak awal didesain dengan konsep one stop living (hunian sekaligus tempat bekerja dan memenuhi segala kebutuhan rutin).

“Green Pramuka dikonsep sebagai one stop living di pusat kota yang bukan hanya tempat tinggal dan menikmati hidup tapi juga sarana bersosialisasi bersama komunitasnya,” ujarnya. Apalagi, setelah setahun terakhir Green Pramuka Square beroperasi, para penghuni makin mudah bersosialisasi.

Misalnya, secara rutin setiap Selasa dan Jum’at, Green Pramuka City menggelar Zumba Party yang diikuti seluruh penghuni apartemen.

Selain itu pengelola juga merancang sosialisasi antar penghuni melalui pendekatan kuliner, dengan menghadirkan sajian kuliner di lingkungan Green Pramuka Square sepanjang hari mulai pukul 06.00 sampai jam 24.00.

“Pagi jam 06.00-10.00 sebelum gerai makanan Green Pramuka Square buka, para PKL menyediakan beragam sajian sarapan pagi mulai dari yang ringan hingga yang agak berat,” katanya. Ketika mal buka jam 10.00 hingga jam 22.00, tersedia beragam makanan yang ditawarkan tenant (penyewa) mal dan food court. Saat mal tutup, street food kembali hadir dengan aneka sajian seperti sate padang, angkringan, hingga nasi goreng kepiting,” urai Jeffry.

Ia percaya dengan menyediakan aneka kuliner dalam berbagai sarana itu, penghuni apartemen bisa lebih rileks dan dapat bersosialisasi dengan komunitasnya. “Syukur dengan acara olah raga dan jajan santai para penghuni dapat bertemu dengan sesama penghuni yang selama ini mungkin sulit dilakukan,” katanya.

Total PT Duta Paramindo Sejahtera, pengembang Green Pramuka City, sudah  mengembangkan sembilan dari 14 menara apartemennya mencakup sekitar 9.000 unit hunian.  Dari jumlah itu, sekitar 8.000-an unit diklaim sudah laku. Sebagian besar menara sudah jadi dan sudah ramai dihuni.

Green Pramuka City yang dilintasi busway, tol dalam kota dan memiliki shuttle bus ke bandara Soekarno-Hatta dan sudah dilengkapi mall dan area komersial, saat ini memasarkan unit tipe studio sampai dua kamar 22-33 m2 seharga Rp500–700 jutaan/unit di berbagai menara.

Unitnya yang sudah jadi sudah dilengkapi compact furnished. Pembelian bisa dilakukan secara tunai bertahap hingga 120 bulan atau 10 tahun selain dengan kredit pemilikan apartemen (KPA). Yang mau langsung melunasi uang mukanya 20 persen bisa langsung menghuni unitnya.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me