Singapura Masih Lokasi Favorit Pekerja Asing asal Asia

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Banyak faktor kenapa pekerja asing menyenangi sebuah kota atau negara tempat mereka ditugaskan. Antara lain kultur, kondisi alam dan fisik lingkungan sampai keamanannya. Karena makin banyak perusahaan multinasional yang memiliki kantor di banyak negara, makin banyak pula lembaga/perusahaan jasa pembuat peringkat lokasi kota favorit bagi ekspatriat ditempatkan.

(Foto: AirTheWorld)

(Foto: AirTheWorld)

Salah satunya ECA International (Employment Condition Abroad Limited) yang setiap tahun membuat survei Location Ratings System untuk mengetahui tingkat kesulitan beradaptasi para pekerja asing itu terhadap lokasi tugas barunya. Pemeringkatan diperlukan oleh banyak perusahaan multinasional guna memberi bayaran yang layak bagi pekerjanya yang ditempatkan di suatu negara.

Survei peringkat ini dilakukan terhadap 480 lokasi di seluruh dunia yang mengevaluasi faktor-faktor iklim dan kualitas udara, ketersediaan layanan kesehatan, rumah dan utilitasnya, isolasi, akses ke jaringan sosial dan fasilitas hiburan, infrastruktur serta keamanan personal dan kondisi politik.

Hasil survei terbaru ECA menunjukkan, Singapura masih menjadi kota (negara) paling layak huni bagi ekspatriat atau pekerja asing asal Asia. “Singapura secara tradisional selalu menjadi pemuncak peringkat kota layak huni yang dibuat ECA. Hasil tahun ini tidak berbeda dengan hasil survei tahun lalu,” kata Lee Quane, Regional Director Asia ECA International.

Menurutnya, ada beberapa faktor utama penyebabnya. Antara lain rendahnya tingkat krimininalitas, kemudahan jangkauan ke sekolah, fasilitas kesehatan yang berkualitas baik, juga rendahnya tingkat polusi udara dibanding kota-kota lain di kawasan Asia.

Kondisi itu tidak didapat di kota-kota besar lain di Asia. Bahkan, peringkatnya ada yang menurun dibanding hasil survei tahun lalu. Hong Kong contohya, hanya berada di urutan ke 28. “Penyebabnya, kualitas udara dan polusinya belum membaik dari tahun-tahun sebelumnya sehingga menurunkan peringkatnya,” ujar Quane.

Faktor yang sama membuat sejumlah kota di China daratan pun turun peringkatnya pada hasil survei tahun ini. Beijing misalnya, turun 10 peringkat ke posisi 134. Selain faktor tersebut, tambahnya, faktor lain adalah makin ketatnya peraturan sensor pada internet dan pembatasan untuk virtual private networks (VPNs) dalam 12 bulan terakhir.

Hal serupa terjadi pada Kuala Lumpur (Malaysia) yang tahun ini merosot ke peringkat 126. Ini bisa dibilang peringkat terburuk ibukota Malaysia ini. Bahkan, dalam lima tahun terakhir peringkatnya tak pernah membaik. Padahal sebelumnya KL pernah berada di posisi 25.

Penyebabnya, jelas Quane, selain tingginya tingkat polusi udara, belakangan juga kian tingginya tingkat kriminalitasnya. Beruntungnya, nilai tinggi masih diberikan pada faktor kondisi utilitas dan ketersediaan hunian yang layak sehingga KL masih menjadi salah satu pilihan favorit pekerja asing.

Sementara peringkat kota-kota di Jepang lebih baik, masih dalam kelompok 10 besar. “Kota-kota di Jepang secara konsisten masih tetap jadi pilihan tempat para ekspatriat Asia saat direlokasi ke luar negeri,” kata Quane.

Banyak faktor yang menyebabkannya. Tapi, yang terutama karena kualitas dan kuantitas infrastruktur serta fasilitasnya yang mumpuni. “Terutama Tokyo, karena faktor tersebut, membuat tahun ini peringkatnya naik 10 tingkat,” katanya.

20 Teratas Peringkat Kota Layak Huni Bagi Ekspatriat Asia

Lokasi Peringkat

2018

Peringkat 2017
Singapura 1 1
Brisbane, Australia 2 2
Adelaide, Australia 3 2
Sydney, Australia 3 2
Osaka, Jepang 3 5
Perth, Australia 6 7
Nagoya, Jepang 6 7
Tokyo, Jepang 6 11
Wellington, Selandia Baru 9 6
Canberra, Australia 10 9
Copenhagen, Denmark 10 9
Yokohama, Jepang 10 11
Darwin, Australia 13 15
Melbourne, Australia 13 13
Bern, Swiss 13 13
Amsterdam, Belanda 16 19
Eindhoven, Belanda 16 19
The Hague, Belanda 16 15
Auckland, Selandia Baru 16 15
Stavanger, Norwegia 16 15

 

Meskipun berkualitas hampir serupa, hal itu tidak terjadi pada Taipes (Taiwan) yang tahun ini berada di posisi 65. Alasan para ekspatriat, karena kota itu berisiko tinggi pada bencana alam seperti gempa bumi dan topan.

Di luar Asia pilihan teratas para pekerja asing Asia adalah Brisbane, Adelaide dan Sydney di Australia. Tiga kota itu bahkan mengalahi Melbourne yang menurut lembaga survei lain mendapat peringkat layak huni tertinggi. Selain fasilitas dan infratruktur yang sangat baik, faktor pendukungnya adalah rendahnya tingkat kejahatan dan polusi udara.

Sementara di Eropa, Copenhagen (Denmark) lebih disukai daripada London (Inggris) yang hanya menempati peringkat ke-67. Adapun New York, Amerika Serikat, hanya ada di posisi 82. Rendahnya pilihan atas London dan New York bagi ekspatriat Asia cukup mengagetkan.

Sebab hal itu berkebalikan dengan pilihan pekerja asal Eropa dan Amerika yang begitu menyukai kedua kota global itu. Faktor penyebabnya bisa jadi karena pekerja asal Asia mengkhawatirkan tingkat kejahatan dan kualitas udara di kedua kota tersebut.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me