Jakarta Property Market Review; Sub Sektor Ritel Masih Tertekan

Big Banner

Perusahaan konsultan properti JLL Indonesia merilis laporan quartal 4 2017 tentang permintaan dan penawaran sub sektor retail khususnya di Jakarta.

Rilis yang diterima mpi-update.com Senin 19 Maret 2018 menyebutkan bahwa situasi pasar mal perbelanjaan kini nampaknya belum menunjukkan peningkatan. Ditengah pertumbuhan belanja online, dan kemacetan yang semakin parah, beberapa mal masih bisa menarik penyewa maupun pengunjung dengan menampilkan berbagai hal yang menarik.

Bahwa Beberapa department store terpaksa tutup pada paruh kedua tahun 2017 adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri karena tren belanja online yang terus berkembang dengan pesat. Penawaran e-commerce Indonesia kini semakin canggih dan peminat online terus berkembang.

Walau pun pasokan sub sektor ritel yang sangat terbatas namun tingkat kekosongan juga tetap tinggi. Kendati tanpa pasokan baru tingkat pun penyerapan ritel tercatat masih cukup rendah. Moratorium pengembangan mal di Jakarta sudah ada sejak tahun 2011 sehingga otomatis pasokannya juga sedikit. Hanya Aeon Mall (60.000 sqm) yang selesai di sepanjang tahun lalu. Namun wilayah di luar DKI jakarta yang tidak mengalami moratarium masih memiliki peluang.

Penawaran pertama Aeon (selesai pada tahun 2015) yang berlokasi di kota Bumi Serpong Damai (BSD) di Tangerang, Jabodetabek dan jaringan pipa masa depan Jepang di wilayah Jakarta terdiri dari pusat perbelanjaan terdesentralisasi.

Sementara tahun depan hanya perluasan ke Pondok Indah Mall di Jakarta Selatan yang akan menyuplai space baru. Mal Ini diperkirakan akan selesai tahun 2019.

Di sisi penyewaan tingkat kekosongan juga tetap rendah, permintaan terkuat saat ini berasal dari F & B dan penyewa hiburan yang sering menempati ruang dan / atau ruang yang lebih besar di lantai yang lebih murah. Penyewa seperti pengecer fast fashion yang juga aktif, sering membayar sewa yang lebih rendah dari rata-rata.

Banyak pengecer bergabung dengan salah satu grup ritel besar di Jakarta. Mitra Adiperkasa (MAP), sebagai contoh, saat ini memiliki lebih dari 150 merek di bawah naungannya. Dengan jejak pasar yang besar, kelompok tersebut mungkin dapat bernegosiasi lebih rendah dari harga rata-rata pasar. Meskipun demikian, terlepas dari fundamental pasar yang kuat, pertumbuhan sewa relatif terbatas pada 2017. Rata-rata sewa di pasar ritel utama di DKI Jakarta tetap relatif datar, sementara pertumbuhan sepanjang tahun tercatat sebesar 3,3%

suplai and demand

supplai and demand 2

mpi-update.com