Pilih Kloset Jongkok Atau Duduk?

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Dok : Majalah Housing Estate Edisi Februari 2014

Dok : Majalah Housing Estate Edisi Februari 2014

HousingEstate.com, Jakarta – Mengurusi cara buang hajat atau BAB terutama soal posisi duduknya mungkin terkesan remeh temeh atau sekedar persoalan pribadi yang tak perlu dibahas. Padahal penting karena menyangkut kesehatan. Tapi, sampai kini soal dua posisi (duduk atau jongkok) itu masih menyisakan perdebatan di kalangan tenaga kesehatan, produsen saniter dan pelaku gaya hidup.

Di kebanyakan masyarakat Asia, BAB jongkok dinilai sebagai yang paling ideal. Tradisi, budaya, dan harga klosetnya yang lebih ekonomis menjadi beberapa alasannya. Sementara budaya kloset duduk yang diadopsi dari kebudayaan Barat diklaim lebih higienis, rileks, nyaman, serta sesuai dengan gaya hidup modern yang praktis.

 

Mengikuti perkembangan zaman, kloset duduk disukai karena lebih higienis. Di sisi lain sebagian ahli kesehatan menyebut kelebihan kloset jongkok.

 

Lalu, manakah yang lebih baik? Semuanya tentu berpulang pada selera, kebiasaan, penilaian dan gaya hidup masing-masing. Nah, sebelum memutuskan, ada baiknya Anda simak pendapat di bawah ini.

Jongkok bikin lancar

Dalam banyak penelitian, para ahli kesehatan merekomendasikan kloset jongkok untuk BAB. Alasannya, jongkok adalah cara nenek moyang membuang kotoran dari dalam tubuh sampai pertengahan abad ke 19 saat kloset duduk ditemukan.

Menurut dokter Joseph Mercola, ahli osteopathic, posisi jongkok secara naluriah makin mendekatkan tubuh serta mengoptimalkan kerja usus dan otot saat BAB. “Sementara duduk akan membuat kerja tambahan bagi usus dan otot yang memiliki efek biologis tidak diinginkan, bahkan mempengaruhi aliran darah ke jantung,” katanya seperti dikutip www.mercola.com.

Dalam penelitian yang diterbitkan tahun 2012 di Journal Digestive Diseases and Sciences seperti dilansir www.medicaldaily.com, melalui sebuah survei dokter Dov Sikirov memaparkan pengaruh posisi duduk atau jongkok saat BAB pada kenyamanan.

Responden dibagi dalam tiga posisi berbeda, BAB di kloset setinggi 16 inci dan 12 inci serta jongkok di atas wadah plastik. Setiap responden diminta mencatat waktu BAB.

Hasilnya, dalam posisi jongkok orang butuh 51 detik untuk mengosongkan perutnya, sedangkan dalam posisi duduk 130 detik. Dengan jongkok tubuh dinilai sejajar serta paling benar dalam pengosongan usus. Jongkok membuat usus lurus dan melemaskan dubur.

Duduk lebih higienis

Di Indonesia BAB jongkok juga masih lebih banyak dipilih karena harga klosetnya jauh lebih terjangkau dibanding kloset duduk. Tapi, Naning Adiwoso, Ketua Umum Asosiasi Toilet Indonesia (ATI) mengatakan, meski banyak direkomendasikan para ahli kesehatan, posisi jongkok saat BAB amat merepotkan manula karena kebanyakan mereka memiliki masalah dengan kaki.

Dok : Majalah Housing Estate Edisi Februari 2014

Dok : Majalah Housing Estate Edisi Februari 2014

Kalaupun mereka bisa jongkok, sesudahnya mereka akan merasa kesemutan, bahkan tulang kakinya sakit sehingga sulit digerakkan. “Jadi, secara penggunaan lebih sehat pakai kloset duduk,” katanya. Karena itu ia tetap menyarankan menggunakan kloset duduk.

Apalagi, produsen saniter sudah menciptakan kloset yang lebih ergonomis menyangkut ketinggiannya dari lantai, sehingga BAB bisa tetap lancar dan nyaman seperti pada kloset jongkok. Kohler, produsen saniter dan fitting premium asal Amerika Serikat (AS) misalnya, merilis kloset khusus untuk orang Asia setinggi 40 cm yang dinilai tidak kependekan atau ketinggian.

Santy Alaysius, desainer interior dari Domisilium Studio PLC (Jakarta) mengatakan, kloset duduk makin banyak pilihannya yang bisa disesuaikan dengan gaya hidup. Terlebih dewasa ini ketika kamar mandi mulai jadi bagian dari lifestyle.

“Memang ada benarnya kloset jongkok membuat otot-otot lebih terlatih sehingga mengurangi proses mengejan. Tapi, zaman dulu sama sekarang berbeda. Sekarang melatih otot bisa dilakukan di gym atau pusat kebugaran. Di samping itu kloset duduk lebih higienis, lebih nyaman, serta lebih cantik di kamar mandi,” kata perempuan yang menyenangi yoga ini.

Kloset duduk, kata Naning, juga lebih higienis. Yang dimaksud higienis adalah: bersih, tidak berbau, dan pinggirannya tidak basah. Pinggiran kloset yang basah akan menjadi sarang bakteri penyebab penyakit kulit dan kelamin. Kloset jongkok cenderung sulit memenuhi standar ini.

Untuk menjaga higienitasnya itu, kloset duduk biasanya juga dilengkapi shower jet untuk berbilas dengan air bilasan bisa lebih terkontrol, dibanding penggunaan bak air atau ember dan gayung pada kloset duduk yang air bilasannya bisa menyiprat ke mana-mana.

Saat menggelontor (flushing), kloset sebaiknya juga ditutup agar bakteri dari kotoran di lubang (bowl)-nya tidak beterbangan. Di kloset duduk kita bisa melakukannya karena kloset dilengkapi penutup selain dudukan, pada kloset jongkok tidak ada.

“Setiap toilet juga perlu menyediakan cairan anti septik atau tisu basah anti bakteri untuk membersihkan dudukan kloset,” katanya. Kloset jongkok tidak dilengkapi dudukan melainkan langsung diinjak saat berjongkok.

Toilet juga harus dilengkapi tisu kering untuk mengeringkan area genital sehabis berbilas atau tangan sehabis dicuci. Yang ini berlaku baik untuk kloset duduk maupun jongkok. Pilih tisu khusus toilet yang bisa hancur dan menghilang di dalam kloset.

Orang suka salah kaprah mensterilkan kloset dengan cairan karbol. Ini harus dihindari karena bisa merusak air tanah dan bakteri pengurai kotoran di tangki septik. Nah, sekarang anda pilih kloset duduk atau jongkok?

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me