Vienna, Kota Paling Layak Huni di bagi Ekspatriat Dunia

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Walau perekonomian masih belum stabil, bahkan sudah mulai ada yang mengganggu situasi politiknya, kota-kota di Eropa masih menawarkan kualitas hidup tinggi. Tidak heran kalau masih menjadi kota tujuan idaman para ekspatriat (pekerja asing) saat ditugaskan ke luar negeri. Demikian salah satu hasil survei tahunan Quality of Living yang sudah diadakan 20 kali oleh Mercer Consulting Group.

(Foto: eurocheapgo)

(Foto: eurocheapgo)

Sementara itu, kota-kota di negara yang masuk kategori emerging market masih terus berjibaku menstabilkan kondisi ekonomi dan politiknya demi mendapat peringkat tinggi pada dekade mendatang. Untuk itu mereka terus berinvestasi pada infrastruktur, fasilitas rekreasi dan perumahan, guna lebih menarik pebisnis dan talenta multinasional.

Mercer Consulting Group adalah perusahaan konsultan yang terkait dengan organisasi dan sumber daya manusia. Survei dilakukan pada 450 kota di seluruh dunia. Faktor-faktor yang dinilai meliputi kondisi politik dan sosial serta ekonomi dan budaya. Lalu kesehatan, pendidikan, fasilitas publik dan transportasi. Kemudian rekreasi, kondisi consumer goods, perumahan, dan lingkungan alam.

Pada survei terbaru Vienna, ibu kota Austria, kembali menjadi pemuncak sebagai kota paling layak huni bagi ekspatriat. Posisi ini sudah kesembilan kali ditempati kota tempat kelahiran musisi klasik Johann Strauss itu.  Posisi kedua ditempati Zurich, kota terbesar di Swiss, sementara Auckland (Selandia Baru) dan Munich (ibukota wilaya Bavaria, Jerman) sama-sama berada di tempat ketiga. Tak ada posisi keempat, peringkat kelima ditempati Vancouver (Kanada) sekaligus menjadi peringkat pertama untuk kota-kota di kawasan Amerika Utara.

Untuk Asia-Pasifik kota paling layak huni ditempati Singapura, walaupun di tingkat dunia negara kota itu hanya menempati peringkat ke-25. Untuk kawasan Asia Timur lima kota di Jepang menempati peringkat atas. Yakni Tokyo dan Kobe sama-sama di peringkat 50, Yokohama (55), Osaka (59) dan Nagoya di tempat 64. Lainnya berada di bawah kelima kota itu. Yaitu Hong Kong di peringkat 71, Seoul (79) dan Taipei (84).  Sementara dua kota di Tiongkok, Shanghai dan Beijing masing-masing di peringkat 103 dan 119.

Adapun kota-kota di Asia Tenggara, Kuala Lumpur mengalahkan yang lain dengan peringkat 85. Disusul Bangkok (132), Manila (137) dan Jakarta di posisi 142. Di Asia, Dhaka terbilang kota yang paling tidak layak karena hanya mendapat peringkat 216. Salah satu faktor pendorong ke bawahnya adalah buruknya kondisi sanitasi di kota di Banglades itu.

Survei kali ini juga menekankan pada faktor sanitasi kota yang mencakup penilaian terhadap kualitas dan kuantitas pengelolaan air kotor dan sampah, serta untuk air bersih serta penanganan polusi udara. Untuk faktor ini Honolulu (Hawai-AS) menempati posisi tertinggi diikuti Helsinki (Finlandia) dan Ottawa (Kanada).  Adapun yang terendah Dhaka (230) dan Port au Prince, Haiti (231).

Untuk faktor tersebut di kawasan Asia, Kobe (Jepang) bisa dibilang dinilai paling baik karenanya menempati peringkat ke-8. Sementara untuk faktor kualitas hidup kota-kota di Australia dan Selandia Baru bertahan di Top 20, yakni Auckland (3), Sydney (10), Wellington (15), dan Melbourne (16).

 

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me