Konsep Co-Living Space Kos-Kosan Modern Bagi Generasi Milenial (2)

Big Banner

Director Head of Research and Consultants Savills Indonesia Anton Sitorus kepada Kompas.com mengatakan, co-living space belum masuk ke Indonesia secara luas, walaupun secara fundamental ini adalah kebiasaan orang Indonesia, yaitu kos-kosan. Menurut Anton, co-living space berbeda dengan kos-kosan seperti yang dikenal di Indonesia. Konsep utama dari hunian bersama ini adalah sharing atau berbagai.

“Jadi, di sana (London) ini (co-living) sebenarnya enggak beda jauh dengan AirBnb. Kita punya rumah, ada kamar kosong, itu dijual di AirBnb. Akhirnya jadi sharing juga, cuma di luar itu dipopulerkan. Konsep ini sangat cocok bagi generasi milenial yang bekerja di tengah kota, namun belum memiliki keinginan untuk membeli rumah atau apartemen. Para generasi milenial ini memiliki karakteristik yang unik, yaitu suka kebebasan, fleksibel serta cassual. Hal ini dianggap cocok dengan konsep co-living itu sendiri. Di London sudah mulai berkembang, tapi di kita belum,” papar Anton .

Sementara Vice President Coldwell Banker Commilenial untuk mampu memiliki tempat tinggal, terakomodasi oleh perkembangan hunian berkonsep co-living. Banyak apartemen yang difungsikan sebagai hunian bersama tersebut. Menurut Dani konsep hunian co-living memiliki kemiripan dengan hunian kos yang marak di Jabodetabek. Namun, desain yang dihadirkan dalam co-living mengadopsi desain ruang kerja bersama (co-working space). Di mana, para pekerja tinggal dan bekerja di tempat yang sama.

Co-living, kata Dani, memiliki kisaran harga sewa yang berbeda dibandingkan hunian indekos pada umumnya. “Awalnya ini memang lebih diakomodasi oleh kaum milenial yang memang berkaitan erat dengan internet. Semua hal yang berkaitan dengan teknologi,” jelas Dani kepada Bisnis. Di Indonesia, bisnis co-living space sudah mulai dilirik, salah satunya oleh perusahaan startup bernama LIVE yang saat ini bernaung di bawah induk perusahaan The Palapa Group. LIVE didirikan oleh empat orang alumni SMAN 8, yakni Satrio Rama Widyowicaksono, Pandu Satrio Nugroho, Ryan Gulfa Wijaya, dan Richard Max Gustav Schulz.

“Jauhnya lokasi kerja serta kemacetan membuat waktu menjadi tidak efisien. Kolaborasi yang baik antarpelaku di dunia startup hanya bisa dicapai dengan co-living space. Dengan begitu, para penghuni bisa saling terhubung secara terus menerus,” tutur Satrio Rama Widyowicaksono, seperti dinukil dari laman Tech in Asia Indonesia.

Menurutnya, co-living space merupakan konsep tempat tinggal seperti apartemen atau kamar kos yang ditujukan untuk para pengusaha dan founder startup. Di dalamnya ada sebuah ruang kerja bersama yang bisa digunakan para penghuni untuk bekerja, serta berkolaborasi dengan penghuni lain.

Sejak didirikan pada 2015 lalu, LIVE mendapat pendanaan tahap awal sebesar USD400 ribu (sekitar Rp5,4 miliar) dari angel investor. Dana segar tersebut pun telah digunakan untuk mendirikan sebuah pilot project bernama Panorama Residence, sebuah hunian 46 kamar yang berlokasi di Jatinangor, Sumedang.

Sementara nomadhouse.io mulai de- ngan Project Bali. Ada juga Caravanserai, co-living yang tergolong baru yang dibuat oleh seorang developer muda, Bruno Haid. Haid mengeluarkan konsep co-living ini dengan mewujudkan Caravanserai di 3 negara berbeda, yaitu Mexico, Portugal dan Indonesia. Tujuan co-living ini adalah untuk menciptakan lingkungan yang menginspirasi dan mendorong kolaborasi para kreator.

Di Caravanserai ada banyak fasilitas bersama yang bisa dipakai. Seperti coworking space, restoran, home theater, Wi-Fi, perpustakaan, area fitness, dan lain-lain yang tentunya bisa menghemat living cost dibandingkan tinggal sendiri. PT Pos Properti, anak usaha PT Pos Indonesia (Persero), tahun ini juga berencana akan masuk ke bisnis co-living space setelah sebelumnya masuk ke bisnis co-working space. Handriani Tjatur Setijowati, Direktur Utama PT Pos Properti Indonesia menggambarkan, co-living space secara sederhana sebagai kos-kosan yang berpadu dengan co-working space atau bisa dikatakan mirip dengan apartemen berlayanan.

”Kami akan mulai kembangkan di Bandung dengan luas tanah sekitar 500-600 meter persegi di area komersil yang dekat dengan lokasi kampus. Co-living ini rencananya lebih besar dan tinggi bangunannya, seperti apartemen tetapi satu kamar bisa diisi beberapa orang, ada pantry, kamar mandi, ruang belajar bersama,” kata Handriani.

Ia menjelaskan, bisnis pengembangan aset Kantor Pos Indonesia menjadi co-living serta ruang kolaborasi coworking space ini dilakukan untuk menyasar generasi milenial. Co-living space ini bisa dimanfaatkan tidak hanya mahasiswa, tetapi juga pekerja yang jauh dari lokasi tempat tinggalnya. Ada pun biaya investasi yang dikeluarkan Pos Properti Indonesia untuk mengembangkan co-living space dan co-working space berkisar antara Rp10 miliar sampai Rp15 miliar.
“Investasinya kecil tidak sampai Rp25 miliar untuk satu lokasi karena kami juga akan menawarkan pada para investor dan developer yang membangun. Kami hanya investasi di tanah saja, lalu nanti skemanya bagi hasil,” kata Handriani. Meski dikembangkan menjadi ruang kolaborasi dan tempat tinggal bersama, kantor layanan PT Pos tetap dipertahankan selain untuk memfasilitasi konsumen dalam mengirim barang dan melakukan pembayaran, juga sebagai ikon perusahaan.

Pos Properti Indonesia sejak tahun lalu proaktif menawarkan ke sejumlah investor untuk pengembangan aset PT Pos Indonesia. Apalagi perseroan tersebut memiliki jaringan 4.700 kantor secara keseluruhan di Indonesia. Pos Properti mulai menyusun rencana pengembangan aset terutama di atas lahan 1.000 meter persegi untuk ditawarkan kepada investor, baik dalam bentuk ruang kolaborasi, co-living space, maupun hotel. MPI YS

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me