Bisnis Ritel Kita Memasuki Masa-masa Senjakala (3)

Big Banner

Menurunnya penjualan sektor ritel menurut survei Nielsen karena terjadinya penurunan daya beli masyarakat kelas menengah dan bawah. Hal ini dapat dilihat dari beberapa faktor seperti turunnya Take Home Pay (THP/Gaji total) termasuk komponen lembur, komisi, jasa, sampai pemasukan lainnya yang ternyata ada penurunan.

Selain itu masyarakat kelas menengah-bawah ini mengalami kenaikan living cost (biaya hidup). Sampai-sampai, konsumsi produk fast moving yang biasanya merupakan kebutuhan sehari-hari masyarakat ikut menurun. Misal saja penjualan mie instan hingga September 2017 secara volume tercatat turun 4,4 persen, susu turun 0,2 persen, dan kopi turun 1,5 persen. Sebaliknya, masyarakat memilih membawa bekal makanan dan membuat snack sendiri yang terlihat dari peningkatan belanja tepung terigu 28,1%, minyak goreng 13,4% dan susu cair 13,8%. Mereka juga memilih produk dalam kemasan kecil (sachet) untuk mengontrol penggunaannya.

Pengamat Faisal Basri dalam tulisan Transformasi Struktural dan Daya Beli juga memaparkan terjadi penurunan daya beli pada kelompok 40% termiskin. Nilai tukar petani sejak November 2014 hingga Agustus 2017 turun dari 102,87 menjadi 101,60. Khusus untuk NTP pangan penurunannya lebih tajam, dari 102,0 menjadi 98,3. Dia menggaris bawahi, NTP di bawah 100 perlu diwaspadai.

Di samping itu, Faisal mengatakan ada beberapa indikasi penurunan daya beli telah merembet ke kelompok 40% berpendapatan menengah, khususnya menengah- bawah dan menengah-tengah. Dia antaranya akibat pencabutan subsidi listrik untuk pelanggar 900 VA. Jumlah mereka sekitar 19 juta. “Akibat pencabutan subsidi itu, pengeluaran rerata kelompok ini untuk listrik naik tajam dari Rp80.000 per bulan menjadi Rp170.000 per bulan,” tutur Faisal.
Lantas bagaimana dengan masyarakat kelas menengah-atas? Laporan Nielsen menyebut, kelas menengah atas masih menunggu situasi di mana mereka hanya ‘wait and see’. Namun ada indikasi di mana pengeluaran lifestyle cenderung terus tumbuh.

Riset Nielsen menunjukkan masih terjadi pertumbuhan konsumsi di masyarakat kelas atas sekitar 34%. Masyarakat kelas atas ini masih mengeluarkan pendapatannya untuk biaya lifestyle seperti biaya makanan di restoran, namun tetap wait and see.

Masih menurut survei Nielsen terkait industri Food and Beverage yang secara keseluruhan tumbuh 38 persen sepanjang tahun ini. Bisnis restoran tumbuh 34 persen, bisnis makanan cepat saji tumbuh 41 persen, gerai makanan lainnya sebesar 28 persen.

Penjelasan mengenai kondisi masyarakat kelas menengah atas ini, sinkron dengan analisis Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Ari Kuncoro beberapa waktu lalu. Ari menyebut ada pergeseran konsumsi pada masyarakat kelas menengah atas. Sebagian besar golongan kelas ekonomi ini cenderung menunda konsumsi barang tahan lama untuk sekadar menikmati waktu luang.

Salah satu indikasi yang dijadikan acuan oleh Ari adalah keingingan masyarakat untuk rekreasi atau menikmati waktu senggang ke luar kota. Kemacetan yang sering terjadi di sepanjang ruas tol Jagorawi arah Puncak, Bogor dan tiket kereta api yang terjual habis saat akhir pekan yang panjang menjadi salah satu parameternya.
Pengamat Ekonomi Faisal Basri menyatakan masyarakat kelas menengah atas melakukan pengalihan (switching) dari porsi pendapatan untuk belanja ke tabungan. Pada triwulan II-2016 porsi pendapatan masyarakat yang ditabung sebesar 18,6%, pada triwulan II-2017 naik menjadi 21,1%. “Survei Kepercayaan Konsumen oleh Bank Mandiri juga menunjukkan kecenderungan serupa dan berlanjut. Berdasarkan survei itu, porsi pendapatan masyarakat yang ditabung naik dari 20,6% pada Juli 2017 menjadi 21,1% pada Agustus 2017,” kata Faisal.

Sementara itu Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Stefanus Ridwan mengatakan sepinya pusat perbelanjaan bukan karena dampak dari terus berkembangnya bisnis online. Pasalnya hingga akhir tahun lalu konstribusi penjualan bsinis online hanya 1% dari total penjualan ritel.

Menurutnya saat ini banyak mal yang terus melakukan perubahan demi terus menarik perhatian pengunjung. Dari yang sebelumnya hanya menjadi tempat jual dan beli, kemudian meluas menjadi destinasi nongkrong dan dan sebatas makan masyarakat saat liburan. Bahkan, buat sebagian orang, mal kini hanya menjadi tempat pusat kebugaran dengan hadirnya gym-gym di berbagai sudut mal.

Associate Director Retail JLL Cecilia Santoso mengatakan, meski adanya terjadi penurunan tingkat okupansi mal secara umum, namun untuk mal premium lebih antisipatif. “Mereka membuat komposisi peritel yang lebih menarik dan mampu menarik masyarakat untuk mengunjungi pusat perbelanjaan,” kata Cecilia.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me