Bisnis Ritel Kita Memasuki Masa-masa Senjakala (1)

Big Banner

Laporan khusus (Lapsus) Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Maret 2018 lalu menurunkan ulasan tentang bisnis retail yang kini memasuki masa-masa senjakala. Disebutkan pasca jaringan peritel international semacam 7 Eleven, Lotus, Debenham, GAP serta Clarks memilih menutup gerainya di Indonesia, banyak pihak yang memprediksi jika usia ritel modern dan pusat perbelanjaan di Indonesia hanya tinggal menunggu waktu.

Hal antara lain disebabkan semakin berkembangnya bisnis online dari waktu ke waktu. Menarik, hengkangnya paritel besar itu justru tak menyurutkan tingkat okupansi dan pengunjung mal pada lapisan kelas menengah atas. Lantas, benarkah bisnis ritel di Indonesia mulai meredup dan tak lagi seksi?

Kondisi semacam ini sudah diantisipasi jauh-jauh hari lewat moratorium mal (pusat belanja) di Jakarta sejak tahun 2011 lalu. Maklum, sekitar 450 hektar lahan di Jakarta sudah sesak diisi mal. Tak kurang dari 564 pusat belanja dengan rincian 132 mal, sisanya swalayan, pusat grosir, pertokoan dan pasar tradisional.

Meski moratorium masih berlaku, namun tak menghalangi pembangunan sejumlah pusat belanja yang sudah berizin sebelumnya seperti Shopping Mall Soho di Pancoran, New Harco Plaza di Glodok, dan Aeon Mall Garden City. Selain itu, masih ada tujuh mal dalam rencana pembangunan hingga tahun 2019 di wilayah selatan, timur, dan pusat Jakarta dengan total lahan seluas 35,4 hektar.

Berdasarkan data yang dihimpun Colliers International hingga akhir 2017, sebaran mal terbanyak terkonsentrasi di wilayah utara Jakarta dengan luas seluruhnya sekitar 90 hektar. Urutan kedua di selatan Jakarta dengan seluas 80 ha. Ketiga adalah Jakarta Barat dan Pusat, masing-masing sekitar 75 ha. Adapun luas mal di Jakarta Timur sekitar 34 ha.

Sementara itu perkembangan mal di daerah penyangga Jakarta seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Bodetabek) tak jauh berbeda. Ada beberapa pusat perbelanjaan baru seperti Metropolitan Cileungsi di Bogor dan Q Big Mall di BSD, Tangerang. Pembukaan kedua mal baru tersebut menambah suplai kumulatif ruang ritel di Bodetabek menjadi 2,47 juta meter persegi.

Sebelumnya, menurut laporan Cushman & Wakefield Indonesia, di kawasan Bogor telah masuk Lippo Plaza Keboen Raya, mal ke 66 dari Lippo Group. Sedangkan Living World Alam Sutera melakukan re-branding sebagai ‘The Biggest Home Living and Eat-tertainment Center’.

Colliers memprediksi Bodetabek akan mendapatkan tambahan 15 pusat belanja baru hingga 2020. Pada 2018 masing-masing ada dua mal baru yang dibangun di Bogor dan Bekasi. Ada juga rencana pembangunan dua mal di Bekasi dan satu di Depok pada 2019. Pada 2020, sudah mengantre pembangunan enam mal yang tersebar di Bekasi, Depok, dan Tangerang. Total luas mal baru tersebut sekitar 62 hektare.

Hal ini memperkuat data Colliers sebelumnya yang menyatakan bahwa Tangerang dan Bekasi akan menjadi kota yang memberikan kontribusi signifikan untuk pengembangan ritel. Saat ini, Tangerang sendiri sudah berkontribusi atas ruang retail sebanyak 41%, sementara bekasi 31%. Sementara itu di tahun 2018 akan berdiri Vivo Sentul Lifestyle (Cibinong), Vivo Sentul Trademall (Cibinong), Plaza Indonesia Jababeka (Jababeka), AEON Mall (Sentul). Menyusul kemudian di tahun 2019 Living World Jababeka (Jababeka), AEON Mall Deltamas (Deltamas), Hollywood
Central (Cikarang), Embarcadero (Bintaro), Kota Harapan Indah (Bekasi), Shopping Mall at Green Lake (Cimanggis), Mall at Pesona Square (Juanda).

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com