Tak Kenal Pasar, Anda Perlu Broker Profesional

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Jual-beli-sewa properti seperti rumah dan apartemen bisa dilakukan sendiri atau dengan jasa perantara alias broker. Dulu broker masih bersifat informal, dijalankan mereka yang dianggap mengenal wilayah di mana lokasi properti berada. Julukannya kerap berkonotasi negatif: calo tanah, biong dan lain sebagainya.

Dok. Majalah HousingEstate

Dok. Majalah HousingEstate

Namun, sejak tahun 90-an muncul broker formal yang bernaung di bawah badan usaha resmi dengan aneka merek global atau lokal seperti Era, Century 21, Ray White, LJ Hooker, Coldwell Banker, Keller Williams Li Realty, Benhokk, dan lain-lain.

Broker formal diasumsikan lebih profesional karena sebelum bekerja, mereka dilatih dulu oleh perusahaan pemegang merek tempat mereka bernaung. Jadi, mereka mengerti properti dan pasar, jaringan pemasarannya lebih luas sehingga properti yang dijajakan bisa terjual lebih cepat, menguasai seluk beluk transaksi properti yang aman dan semua legalitasnya, dan mampu memproses transaksi dengan baik.

Sekarang dengan perkembangan teknologi informasi, jual-beli-sewa properti menjadi terbuka termasuk harganya. Cakupan pemasarannya pun lebih luas lagi. Siapapun bisa mengakses situsnya dan membandingkan harga aneka properti yang ditawarkan di dalamnya. Apakah itu berarti jasa broker tidak diperlukan lagi karena kita bisa memasarkan dan membeli properti melalui berbagai situs online itu?

“Tidak, jasa broker masih sangat diperlukan walaupun jualan properti online sudah banyak,” kata Lina Cioko, prinsipal XM Property Mayjen Sungkono, Surabaya (Jawa Timur), kepada HousingEstate pertengahan Januari lalu. “Kalau pemilik langsung yang pasang iklan, biasanya jarang dapat respon. Tapi, melalui agen properti bisa lebih banyak (respon) karena kita punya banyak listing (calon penjual dan pembeli),” lanjutnya. Agen juga lebih memahami pasar. Jadi, bisa mengajak konsumen berkonsultasi untuk menentukan harga yang lebih realistis sehingga propertinya lebih cepat terjual.

Lebih aman

Pendapat senada diutarakan Tony Eddy, Presiden Direktur Keller Williams Indonesia. Menurutnya, di Amerika Serikat (AS) yang sudah sangat maju baik dunia digital maupun bisnis brokerage propertinya pun, broker tetap diperlukan. Pasalnya, tidak semua informasi pasar diketahui calon pembeli dan penjual, seperti infrastruktur baru yang mempengaruhi harga properti di kawasan. Kalaupun tahu, belum tentu mereka mengerti pengaruhnya terhadap sebuah properti.

“Intermediasi (broker profesional) juga perlu untuk memastikan properti yang ditransaksikan aman. Beli properti tidak bisa seperti membeli barang elektronik,” ujar magister properti dari University of Wisconsin (AS) itu.

Selain itu broker juga lebih mengetahui kondisi pasar yang sebenarnya, trennya, detail dan legalitas tanah di kawasan, pajak dan bea, proses transaksi sampai emosi konsumen atau psikologi pasar.

Bahwa, dalam praktik banyak broker tidak perform, itu karena image yang terlanjur melekat pada broker sebagai profesi iseng-iseng yang bisa dimasuki orang yang tidak berpendidikan, bokek dan seterusnya.

“Padahal, ini profesi yang serius seperti pengacara yang menuntut orangnya fokus, jujur dan terbuka, menguasai pasar, selalu meningkatkan diri, sehingga konsumen percaya dengan profesionalitas dan integritasnya. Karena itu Keller Williams selalu mengadakan training (untuk para brokernya),” jelas Tony.

Ia menambahkan, yang dipilih konsumen dari broker pertama-tama orangnya, bukan merek perusahaannya. Itulah kenapa dari merek yang sama ada broker yang sukses, ada yang tidak. “Broker itu kombinasi brain (kecerdasan) dan brand,” tukasnya.

Berkaitan dengan itu, bila memilih broker, ia menyarankan konsumen pertama-tama menanyakan, di kawasan mana fokus kerjanya. Jadi, anda tahu memang mempercayakan aset kepada orang yang tepat.

Setelah itu tanyakan lagi, sudah berapa lama bergelut di profesinya, sudah berapa transaksi yang dibukukan dan adakah referensinya, apakah si broker memiliki referensi pasar mengenai properti yang akan dipercayakan kepadanya, apa yang akan dikerjakannya untuk anda dan adakah nanti pelaporan berkala?

“Kontrak konsumen dengan broker berlaku tiga bulan. Dalam kontrak tertera hak dan kewajiban kedua pihak. Bila selama kontrak broker tidak menjalankan tugas menurut kontrak, anda bisa menjewernya. Kalau setelah tiga bulan propertinya belum terjual, kontrak bisa diperpanjang atau tidak,” kata founder perusahaan konsultan properti Tony Eddy & Associates (Jakarta) itu.

Pendapat ini didukung Lina. “Cari agen yang sudah menguasai area, punya data pasar lengkap dan jaringannya banyak. Jadi begitu (properti anda) dia share di grup, yang respon banyak,” katanya.

Konsumen bisa menggunakan jasa lebih dari satu broker untuk propertinya. Tapi, kata Tony, broker profesional akan menolak open listing (properti bisa dipasarkan oleh broker manapun) seperti itu. “Karena brokernya jadi nggak fokus,” katanya.

Sepadan

Menggunakan jasa broker mengharuskan anda membayar komisi 2–3 persen dari nilai transaksi tergantung kualitas broker, merek, dan nilai propertinya. Komisi lazimnya dibayar penjual, walaupun pembeli yang puas bisa saja juga memberi “uang capek” kepada broker.

Kecuali pembeli juga menyewa broker sendiri untuk membantu mencarikan properti yang cocok, ia juga harus membayar komisinya. Komisi resmi itu dibagi broker dengan perusahaan pemegang merek.

Komisi sebesar itu sepadan karena pemilik rumah tahu beres. Semua sudah diurus broker dengan bantuan profesi lain seperti notaris. Bahkan, sebagian broker mau membantu sampai ke tahap pengajuan kredit ke bank bila transaksi menggunakan kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA). Kalau semua diurus sendiri oleh konsumen, bukan hanya menyita waktu tapi juga bisa membuat stres.

Tony menjelaskan, untuk rumah seharga Rp200–300 jutaan, orang mungkin bisa menjualnya sendiri, tidak perlu jasa broker, karena pasarnya mudah dipahami. Itulah kenapa tidak banyak broker yang mau menangani properti seharga itu selain karena komisinya juga mungil.

Tapi, untuk properti miliaran, apalagi yang dibeli untuk tujuan investasi dan kita keder dengan pasarnya, jasa broker profesional amat diperlukan.

Contohnya kondominium hotel (kondotel) yang marak ditawarkan pengembang. Supaya menguntungkan sebagai investasi, konsumen perlu memahami prospek pasarnya, perhitungan pengembalian investasi, kredibilitas developer dan lain-lain.

“Ini butuh jasa broker profesional karena hanya sedikit konsumen yang paham. Broker menjadi mediator yang cerdas dan bisa dipercaya konsumen,” ujarnya.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me