Permintaan Mulai Naik, Okupansi Perkantoran Tetap Anjlok

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Permintaan ruang kantor di kawasan pusat bisnis utama atau central business district (CBD) Jakarta yang mencakup Jl Jend Sudirman-Thamrin, Jl Gatot Subroto-Rasuna Said dan Jl Prof Dr Satrio-Mega Kuningan mulai menunjukkan peningkatan sejak triwulan akhir 2017. Tahun ini permintaannya (year on year/yoy) diperkirakan naik 15 persen dibanding tahun lalu.

lrt kuningan

Penggerak utama permintaan itu masih perusahaan-perusahaan e-commerce ditambah perusahaan penyedia co-working space (ruang kerja bersama untuk berkolaborasi) asing yang beberapa tahun belakangan agresif berekspansi di Jakarta, dengan permintaan ruang oleh setiap perusahaan lebih dari 5.000 m2.

“Mereka (perusahaan co-working space) memanfaatkan situasi pasar (yang masih lesu), sehingga bisa menegosiasikan harga sewa yang menguntungkan dengan land lord (pemilik proyek),” kata Ferry Salanto, Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia, sebuah perusahaan konsultan properti asing di Jakarta, saat menyampaikan Jakarta Colliers Quarterly triwulan pertama 2018 (Q1) kepada media massa di Jakarta, Rabu (4/4/2018).

Kendati permintaan mulai meningkat seiring makin tingginya pertumbuhan ekonomi, lanjutnya, secara keseluruhan tingkat keterisian (okupansi) gedung perkantoran premium dan grade A di CBD utama Jakarta tetap anjlok hingga 79,1 persen sampai akhir tahun ini. “Soalnya suplai ruang kantor baru dari proyek-proyek baru jauh lebih banyak karena size setiap proyek yang serba besar,” ujarnya.

Tahun lalu suplai baru ruang kantor premium dan grade A baru di CBD utama Jakarta mencapai 500.000 m2 dari sembilan proyek (perkantoran sewa dan beli). Enam proyek di antaranya luasnya 50.000–90.500 m2 per proyek. Sedangkan tahun ini akan masuk sekitar 490.000 m2 suplai baru dari belasan proyek. Sementara penyerapan atau demand-nya diperkirakan 320.000 m2 dibanding tahun lalu yang sekitar 290.000 m2.

Total sepanjang 2018–2021 suplai ruang kantor baru di CBD diperkirakan mencapai 1,8 juta m2 dari lebih dari 27 proyek. Dari jumlah itu sebagian besar luasnya lebih dari 50.000 m2 sampai 200.000 m2 per proyek, ditambah dalam jumlah lebih sedikit proyek dengan luasan di bawah 50.000 m2 per proyek.

“Pasok dari kawasan CBD utama memang paling besar, di luar CBD jauh lebih sedikit. Sepanjang 2018–2021 pasok baru ruang kantor di luar CBD hanya 890 ribu meter persegi (m2),” ungkapnya.

Selama Q1 2018 tingkat okupansi perkantoran premium dan grade A di CBD itu tercatat 68,7 persen dan 77,8 persen, turun dibanding Q4 2017 yang 76 persen dan 78,5 persen. Sedangkan yang grade B dan C di luar CBD masing-masing 91,9 persen dan 86,2 persen dibanding 91,7 persen dan 86,7 persen pada Q4 2017. Akumulasi suplai baik di CBD maupun di luar CBD sampai tahun 2017 mencapai 6 juta m2.

Harga sewa ruang perkantoran di CBD utama itu meningkat dibanding tahun lalu kendati pasar lesu. Selama Q1 2018 misalnya, tarif sewa perkantoran premium dan grade A rata-rata Rp459.100 dan Rp311.055 per m2 dibanding Rp449.283 dan Rp280.854 pada Q4 2017.

“Tapi, itu asking price (tarif yang ditawarkan) karena lokasi kantor di kawasan premium yang harga tanahnya sudah sangat tinggi. Tarif berdasarkan transaksi riil bisa lebih rendah karena masih ada diskon,” kata Ferry.

Diskon ditentukan oleh nama besar atau brand calon penyewa, tingkat okupansi menara perkantoran, dan luasan yang ingin disewa. “Makin kuat brand calon penyewa, bisa makin besar diskonnya. Begitu pula kalau tingkat okupansi proyek rendah, harga sewa riil juga bisa lebih rendah,” katanya.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me