Gedung Perkantoran DKI ; Masih Ada Optimisme di Balik Tekanan

Big Banner

Meski secara umum okupansi masih berada di bawah tekanan, pasokan gedung perkantoran di Jakarta masih terus mengalami peningkatan. Meskipun begitu, masifnya pembangunan infrastruktur serta menjamurnya perusahaan e-commerce dirasa cukup menjadi angin segar untuk sektor ini.

Majalah Properti Indonesia (MPI) mengulasnya dalam edisi April 2018. Disebutkan, secara umum, sektor perkantoran emmang belum menunjukkan geliat positif pada awal tahun 2018 ini. Hal tersebut terlihat dari beberapa perkantoran di Jakarta baik di Central Business District (CBD) maupun non-CBD, banyak yang masih belum terisi (kosong).

Menurut catatan konsultan properti Colliers International, misalnya. Pasar perkantoran di Jakarta saat ini tengah berada dalam situasi tenant-market, alias tenan atau penyewa memiliki posisi tawar yang lebih tinggi dibandingkan pemilik properti atau developer.

Senior Associate Director Colliers inter¬national Indonesia Ferry Salanto mengatakan, situasi ini membuat tenan men¬jadi price sensitve yang mengakibatkan pada tahun lalu, harga sewa ruang perkantoran turun 6,2%. “Sisi positifnya, pada tahun lalu, terjadi peningkatan aktivitas penyewaan ruang perkantoran. Hanya saja, kenaikan harga tidak terjadi signifikan,” paparnya

Berdasarkan laporan Colliers Q4 2017, ada sembilan gedung baru hadir di CBD Jakarta yang menambah 501.927 m2 ruang perkantoran. Pasokan yang melimpah itu, kata Ferry, akan berdampak pada okupansi kantor yang menurun. Sebab, pada tahun 2018, terdapat sepuluh kantor baru beroperasi di ibu kota dengan total area seluas 630.000 m2. Jika gedung tersebut seluruhnya beroperasi, menurut Ferry akan menurunkan okupansi sekitar 3%-4%.

Kendati okupansi turun, tetap ada kenaikan harga sewa properti di CBD Jakarta sebesar 1,5%-2%. Kenaikan tersebut lebih dimotori oleh harga sewa gedung baru yang sudah di atas harga rata-rata gedung perkantoran di sekitarnya.
Sedangkan untuk ruang perkantoran di luar CBD Jakarta, pasokan pada tahun ini akan bertambah lebih banyak dari tahun sebelumnya. Catatan Colliers untuk pasar ini, dari proyeksi 284.000 m2 lahan perkantoran baru yang dibuka pada tahun lalu, kenyataannya 96.000 m2 yang berhasil dibuka atau hanya sepertiganya.

Meski okupansi turun, harga sewa di kawasan itu cenderung naik sekitar 4%. Lagi-lagi karena didongkrak oleh tingginya harga sewa gedung baru yang telah dikatrol oleh pengembang. “Dari sisi biaya konstruksi, menjual ruang kantor dengan harga yang lebih rendah agak sulit bagi developer,” ujar dia.

Ferry melanjutkan, perusahaan perbankan dan e-commerce menjadi tenan yang aktif mencari ruang kantor. “Tahun ini, co-working space juga mulai banyak menyewa ruang perkantoran di Jakarta,” papar dia. Selain itu, diperkirakan keberadaan MRT dan LRT akan mempengaruhi perusahaan dalam hal pemilihan lokasi berbisnis/ kantor. Semakin dekat dengan stasiun MRT/ LRT atau setidaknya dilalui, maka semakin tinggi potensi tingginya tingkat hunian gedung di sekitar. Hal ini akan memperkuat posisi pemilik gedung untuk meningkatkan harga sewa. MPI RAG

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me