Cukur, Ngopi dan Baca Buku

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Mengikuti perubahan zaman, barbershop kini bermunculan dengan konsep interior yang stylish dan menarik. Generasi milenial menyebutnya lebih instagramable atau fotogenik sehingga layak diunggah di media sosial seperti Instagram.

Salah satunya Its BarberClub yang dibuka dua tahun lalu di Mall Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan. Barbershop mungil di ujung koridor di lantai dasar ini menyajikan sentuhan industrial yang terbuka dalam tatanan interiornya.

Aksentuasi sapuan cat warna hijau tua menjadi simbol yang menonjol di sudut-sudut ruang. Area barbershop yang kecil memanjang dan membentuk L ke belakang, mengintegrasikan tiga fungsi sekaligus: tempat cukur, toko buku dan kafe.

Display buku yang menghias koridor barbershop

Display buku yang menghias koridor barbershop

Toko Buku

Tidak seperti barbershop umumnya, impresi pertama yang tertangkap dari pintu masuk justru seperti toko buku. Koleksi buku-buku berbahasa Inggris dipajang pada susunan rak kayu terbuka berpenopang batang-batang besi yang terletak tepat di sisi samping pintu.

Rak-rak buku juga dipasang sepanjang koridor yang mengarah ke kafe. Di situ diselipkan tumpukan balok-balok kaca yang memberi batas dengan area salon. Ditambahkan juga lapisan kawat jaring kotak-kotak di belakang masing-masing rak yang menguatkan kesan industrial.

Area cuci rambut diberi aksen wallpaper dinding bata ekspos dan cat hijau

Area cuci rambut diberi aksen wallpaper dinding bata ekspos dan cat hijau

Barber Spa

Area cukur kapasitasnya saat ini terbatas untuk tiga pelanggan dengan satu unit bangku untuk cuci rambut. Suasana yang tercipta di area ini sangat hidup dengan aksen warna hijau, wallpaper motif bata ekspos dan lukisan mural hitam-putih pada dinding.

Setiap kursi potong rambut menghadap ke dinding mural yang bergambar potongan-potongan komikal orang yang tersenyum jenaka. Meja untuk peralatan terbuat dari kayu jati belanda yang tampak kontras berwarna kuning muda. Di ujung ruang dipasang kaca cermin untuk memberi ilusi lebih luas.

Servis yang diunggulkan selain grooming, adalah penataan rambut, kumis dan jenggot, dan barber spa untuk perawatan wajah. “Kita siapkan masker dan massage wajah pakai produk yang spesifik betul-betul buat laki-laki karena kulitnya lebih tebal dan berminyak,” kata Ari Pribadi, pemilik sekaligus desainer interior Its BarberClub.

Untuk pelayanan itu dibutuhkan waktu 45-60 menit per pelanggan. “Jadi, bukan tempat bercukur aja, tapi pengunjung bisa nikmatin suasana barbershop lebih leluasa,” jelasnya.

Kafe Maoki dirancang khas industrial

Kafe Maoki dirancang khas industrial

Kafe Maoki

Kafe yang terletak di bagian belakang juga memiliki akses ke arah area parkir mall yang terbuka secara langsung. Kursi-kursi kayu dengan kaki-kaki besi berwarna hitam terlihat simpel mengisi ruang. Ada juga bangku memanjang dengan bantalan empuk tepat di seberang dapur. Dinding belakangnya diisi artwork unik berupa komposisi pot-pot dan cermin dengan berbagai bentuk geometris. Sisi pantry terlihat didesain menarik dengan lampu-lampu gantung model bola lampu pijar.

Kafe Maoki menawarkan menu western, Asia dan Indonesia yang khas dengan tatanan penyajian makanan dalam piring sekelas hotel bintang lima. Seruput segarnya es kopi susu dan sedapnya nasi goreng ala Maoki jika bertandang ke sini.

Area barbershop didesain menyambung dengan kafe di bagian belakang

Area barbershop didesain menyambung dengan kafe di bagian belakang

No Women No Cry

Konsep Its BarberClub mengacu pada sejarah masa lalu barbershop di Eropa sekitar akhir abad ke-19. Saat itu barbershop digandrungi bukan sekadar tempat bercukur, tapi juga tujuan pria-pria untuk ngobrol dan bersosialisasi. “Ngobrolnya di luar soal agama dan politik bareng teman-temannya. Konsep tempatnya no woman, no cry. Jadi nggak ada wanita yang bergabung,” urai Ari.

Ketika memulai bisnisnya setahun lalu, ia mengakui sudah terlanjur banyak berkembang barbershop atau tempat cukur pria baik di pinggir-pinggir jalan maupun di dalam mall. Karena itu ia berusaha menghadirkan rumah pangkas rambut dengan kemasan berbeda.

“Dari sejarahnya kita kembangin dikit konsepnya menjadi barber lounge yang menggabungkan salon, kafe dan toko buku kecil,” kata alumni Unika Parahyangan (Bandung) jurusan arsitektur ini.

Ari membayangkan pelanggannya dapat memanfaatkan cukup satu jam istirahat kantor untuk mencukur rambut, makan siang dan membeli buku di satu tempat. “Sambil nunggu antrian, customer bisa makan siang, ngopi-ngopi atau baca-baca buku dulu,” ujarnya. Ia berkolaborasi dengan toko buku “Books and Beyond” untuk memajang koleksi buku dan menggandeng putrinya mengelola kafe.

Agar pelanggan makin nyaman, Its BarberClub juga sudah memiliki aplikasi digital bekerja sama dengan vendor Minutesapp. Setiap pelanggan dapat membuat janji melalui aplikasi di telepon pintar untuk menghindari antrian, termasuk menginformasikan jenis treatment yang ingin dilakukan dan kapster yang dipilih.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me