Kredit Properti via Fintech Beli Rumah Tanpa Tatap Wajah (2)

Big Banner

Dengan perkembangan fintech di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun mengatur fintech terutama soal layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi. Hal itu seperti diatur dalam Peraturan OJK Nomor 77/POJK.01/2016 tentang Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi.

Kebanyakan fintech yg menyediakan kredit produktif, biasanya bunganya hanya sedikit lebih tinggi dibanding perbankan, di sekitar 18-19%. Sementara bunga yang diberikan pada pemberi pinjaman investasi sekitar 10-16%.

Hingga saat ini pelaku fintech yang menawarkan pembiaan peer to peer lending yang menawarkan program investasi properti berjamaah (crowdfunding) masih sangat terbatas. Dua di antaranya Gradana yang dikembangkan Freenyan, mantan Presiden Direktur Bank Sinarmas Tbk dan EthisCrowd, platform crowdfunding syariah untuk pembelian properti. Startup asal Singapura ini telah mempunyai kantor perwakilan di Jakarta, Kuala Lumpur, dan Sydney.

Prinsip kerja Gradana serupa dengan lembaga keuangan pada umumnya, namun dengan konsep peer-to-peer (p2p) lending yang mempertemukan peminjam dan pemberi pinjaman. “Tidak perlu khawatir mengenai keamanan dana yang telah dipinjamkan. Kami memberikan sistem pemantauan yang sistematis serta jaminan agunan properti. Bagi investor sendiri, menanam dana di platform ini lebih menguntungkan dibandingkan bunga deposito. Apalagi tingkat risikonya pun rendah,” kata Freenyan.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me