Kredit Properti via Fintech Beli Rumah Tanpa Tatap Wajah (1)

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi April menurunkan liputan tentang tren kredit properti via fintech. Disebutkan Sebagai platform peer to peer lending yang menawarkan investasi properti berjamaah (crowdfunding), strategi pembiayaan Fintech properti semakin diminati generasi milennial. Dianggap disrupsi bagi bank konvesional.

Perkembangan teknologi finansial (fintech) di era digital di Indonesia berkembang sangat pesat kurun lima tahun terakhir. Lebih dari 50 juta dolar dikucurkan para venture capital untuk berinvestasi di Fintech sejak tahun 2013. Menurut Henky Suryaputra, Chief Financial Officer Bank Sahabat Sampoerna, sebagian besar fintech fokus pada kredit konsumen multi guna tanpa agunan. Sementara yang secara spesifik bermain kredit properti masih terbatas. ”Volume fintech baru sekitar 14 miliar dolar US. Masih relatif kecil dibandingkan total kredit perbankan yang mencapai lebih dari 350 miliar dolar US,” ujarnya.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) saat ini ada 235 perusahaan fintech, namun hanya 36 fintech yang terdaftar dengan rincian 21 perusahaan milik investor lokal dan 15 merupakan PMA. Selain itu, masih ada 42 perusahaan dalam proses pendaftaran dan 42 berminat untuk mendaftar. Laporan Asosiasi Fintech Indo nesia mengungkap, fintech di Indonesia didominasi oleh pembayaran (payment) sebesar 39% danpPinjaman (lending) 32%.

Salah satu yang membuat fintech begitu cepat diterima masyarakat khususnya generasi milenial adalah proses pembiayaan dilakukan secara online. Bahkan tidak ada tatap muka antara debitur, fintech atau investor. Direktur Kebijakan Publik Asosiasi Fintech Indonesia M. Ajisatria Suleiman mengatakan target pasar pengguna fintech terbesar datang dari kelompok millennial kelas menengah. Adapun, kisaran usianya antara 25-35 tahun dengan pendapatan Rp5 juta sampai Rp15 juta per bulan dan berbekal literasi digital yang baik.

Report Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2017 diketahui total pengguna internet di Indonesia tercatat lebih dari 143 juta pengguna. Angka tersebut didominasi kalangan muda 19 – 33 tahun (49%); Disusul oleh kalangan menengah 34 – 54 tahun (30%).

Namun besarnya segmentasi generasi millennial hanya 5% generasi millennial yang bisa membeli rumah di Jakarta. Hal ini terkendala dengan harga properti yang terus naik tiap tahun yang berdampak pada besarnya uang muka (DP) yang harus dibayarkan.

Selain itu, berkembangnya fintech di properti karena makin dibatasinya sektor perbankan untuk mengucurkan dana ke properti, baik ke pengembang maupun ke konsumen (KPR). Sehingga kebutuhan akan dana ini yang membuat alternatif sumber dana menjadi menarik.

Vice President konsultan properti Coldwell Banker Dani Indra Bhatara mengatakan perkembangan fintech ke sektor properti dinilai sebagai alternatif sumber dana yang menarik. “Khususnya untuk konsumen yang tidak bankable karena bekerja di sektor informal, kesulitan mendapatkan dana dari bank dapat beralih ke fintech,”ujarnya.

Menurut Dani, adanya fintech dapat meningkatkan konsumen yang mampu membeli properti karena memiliki jalur pembiayaan maupun mendorong pengembang untuk dapat mengembangkan proyek baru dengan dukungan dana fintech.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me