Konsep Archineering untuk Arsitektur dan Interior, Udah Tau?

Big Banner

 

Gazebo Gedong Panjang karya arsitek Dani Hermawan. Bangunan ini merupakan contoh penerapan konsep archineering. Dipamerkan di IndoBuildTech, yang berlangsung 3- 6 Mei 2018, di Booth 6-F-2, Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang. Foto: Rumah123/Dok. Viro

 

Udah tahu teknik rancang bangun terkini yang disebut archineering? Konsep archineering merupakan konsep arsitektur dengan menekankan kelenturan dan kekuatan bahan untuk mewujudkan imajinasi desain para perancang, baik untuk tujuan arsitektur maupun interior.

Dengan konsep archineering memungkinkan material dapat dibentuk, ditekuk, dan tentunya dianyam sesuai dengan pola atau bentuk yang dinginkan. Selain fleksibel, material ini juga berumur panjang karena berisfat tahan lama, tahan segala cuaca, dan tidak mudah terbakar (fire retardants).

Baca juga: Bangunan Terbang Melayang di London

Mau contoh bangunan yang menggunakan konsep archineering? Kamu bisa lihat langsung di IndoBuildTech, yang berlangsung 3- 6 Mei 2018, di Booth 6-F-2, Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang. Bangunan itu disebut Gazebo Gedong Panjang karya arsitek ternama, Dani Hermawan. Gazebo ini terdiri atas dua lantai dan mengombinasikan budaya arsitektur Nusantara, yakni konsep rumah panggung, penggunaan atap alang-alang, dan dinding yang masih dianyam menggunakan tangan.

Konsep archineering diperkenalkan Viro pada 2015. Viro merupakan merek dagang dari PT Polymindo Permata, perusahaan asli Indonesia yang telah berdiri sejak 1985. Perusahaan ini merupakan pioner yang memperkenalkan material berkategori eco faux. Inovasi bahan atau serat ini berasal dari bahan non-natural High-Density Polyethylene (HDPE) maupun kombinasi antara bahan natural dengan non-natural.

Baca juga: Ga Nyangka, Bangunan di Kolong Tol Ini Ternyata Musala!

Kombinasi bahan tersebut dirancang sedemikian rupa menerapkan ilmu pengolahan material. Melalui kombinasi ini, tercipta materi yang keindahannya serupa dengan bahan alami, namun dengan masa pakai yang lebih lama dan kualifikasi khusus, yakni tidak mudah terbakar dan tidak beracun, sehingga dapat menjadi alternatif bahan yang lebih ramah lingkungan.

Melalui pendekatan bahan dan desain yang bersifat tradisional dan mengedepankan tema tropis, Viro sekaligus melestarikan budaya anyam lokal Indonesia. Pengerjaan produknya bersifat hand-made atau masih memberdayakan para perajin.

Baca juga: Arsitektur Bangunannya Cantik-Cantik Gini, Siapa yang Menolak Tinggal di Tangsel?

“Proyek archineering pertama kami adalah pembuatan dinding samping eskalator (escalator wall) di Hotel Aloft Kuala Lumpur Sentral, yang terinspirasi dari simbol kesuburan, selaras dengan fungsi dinding tersebut yang terkesan seakan mengantar tamu hotel menuju Ballroom yang kerap digunakan untuk acara pernikahan,” kata Executive Vice President PT Polymindo Permata, Johan Yang, dikutip dari keterangan tertulisnya, Jumat (4-5-2018).

 

Totem Anyam Tameng Borneo, hiasan etnik di Gazebo Gedong Panjang . Foto: rumah123/Dok. Viro

 

Produk archineering yang merepresentasi budaya khas beberapa wilayah Indonesia bisa kamu saksikan di pameran IndoBuildTech 2018. Sebut saja tameng anyam yang terinspirasi dari tameng Suku Dayak, dan warna oranamen tenun Suku Badui, serta anyaman serupa alat musik Tifa khas Papua, yang seluruhnya dikreasikan menggunakan serat eco faux Viro. Di dalam Gazebo hadir juga ornamen prototipe totem yang dipasok ke taman hiburan Disney’s Animal Kingdom di Florida, Amerika Serikat.

Nah, mungkin kamu jadi terinspirasi untuk bikin arsitektur bangunan atau interior etnik dengan konsep archineering?

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me