Menjaring Konsumen Potensial dari Pembeli End User (3)

Big Banner

Untuk menjaring pembeli end user, berbagai cara dilakukan oleh para pengembang. Andy K. Natanael, Founder kosultan pemasaran Proviz, mengatakan, cara untuk menggaet pembeli end user berbeda dengan pembeli investor. “Pembeli investor harus menekankan pada berapa besar keuntungan yang bisa didapat. Sementara end user, menekankan pada value project dan kemudahan membeli,” ujar Andy yang saat ini banyak menjadi konsultan pemasaran pengembang yang membidik segmen pasar end user.

Untuk memberikan kemudahan dalam membeli, PT Astra Modern Land, pengembang proyek township ASYA seluas 70 hektar di Jakarta Timur, baru saja menjalin kerjasama dengan dua perbankan.“Kami berharap kerjasama ini dapat meningkatkan penjualan ASYA, karena sebagian besar konsumen end user ASYA memilih membayar KPR melalui bank. Harapan kami semoga customer dapat merasakan kemudahan dalam melakukan pembayaran,” ujar Wibowo Muljono, Presiden Direktur PT Astra Modern Land.

Sementara itu, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi PT Intiland Developement Tbk. Archied Noto Pradono mengungkapkan bagi segmen end user, kebijakan penurunan suku bunga akan menjadi lebih menarik. “Saat ini posisi kami harus memancing konsumen. Salah satunya penurunan bunga sebagai faktor yang kami kombinasikan dengan konsep dan value project sendiri,” katanya.

Hal yang sama dikatakan Senior Associate Director Research Colliers International Ferry Salanto yang mengungkapkan pasar residensial memiliki dua karakter yang berbeda. Konsumen menengah bawah memiliki konsen utama pada kemampuan untuk membeli, baik menyediakan down payment (DP) dan cicilannya. Alhasil, faktor bunga bank yang rendah sangat terpengaruh.Sedangkan untuk konsumen kelas atas yang membeli apartemen untuk berinvestasi, hendaknya perlu didorong dengan iklim berusaha yang lebih kondusif agar investasinya membuahkan hasil.

Adrianto P. Adhi, Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk. (SMRA) mengatakan saat ini kondisinya pembeli tipe investor masih menahan pembelian properti baru. “Jadi sebagian besar hingga 90% pembeli kami saat ini dari end user. Akhir tahun lalu Summarecon Serpong, hunian Symphonia, habis terjual hingga 363 unit. Dengan range harga Rp 1,2 miliar banyak end user yang beli,” kata Adrianto.

SMRA menargetkan pertumbuhan bisnis hingga 11% di tahun dengan patokan penjualan bersih Rp4 triliun. Meski ada kabar bahwa suku bunga kredit KPR di industri perbankan mulai ada kenaikan, Adrianto mengaku tak mengubah target tersebut. “Kami masih optimistis dengan target tersebut sebab kenaikan suku bunga belum terjadi kan? Kita lihat saja,” sebut Adrianto.

Untuk menyaring pembeli end user di perumahan Summarecon Emerald Karawang, Summarecon melakukan cara yang unik. “Untuk lebih meningkatkan target end user, warga Karawang yang memiliki KTP Karawang serta karyawan yang dapat memberikan bukti berupa Surat Keterangan Kerja dari berbagai kawasan industri yang ada di wilayah Karawang akan mendapatkan nomor urut prioritas 1 sampai 50 tanpa melalui sistem undian,” kata Albert Luhur, Executive Director PT Summarecon Agung Tbk. MPI YS
(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com