Menjaring Konsumen Potensial dari Pembeli End User (1)

Big Banner

Majalah Properti Indonesia edisi Mei 2018 menurunkan ulasan tentang upaya pengembang membidik pembeli enduser manakala konsmen yanmg juga investor sat ini dalam kondisi wait and see.

Di tengah lesunya bisnis properti, pembeli pemakai (end user) kini menjadi tulang punggung bagi penjualan para pengembang. Beberapa tahun ini, pembeli investor menurun drastis. Mereka melakukan aksi wait and see menunggu pasar membaik sehingga tidak melakukan aksi menjual atau membeli properti. Tak heran jika para pengembang kini mengulik benar potensi pasar atas dasar kebutuhan. Dan sejumlah pengembang besar mulai memburu segmen end user sebagai pasar potensial dalam mengenjot laju penjualan.

“Para investor sudah membeli properti beberapa tahun belakangan. Nah, mereka belum bisa melepas propertinya karena kondisi belum bagus. Jadi mereka tahan properti yang sudah dibelinya sambil menunggu kondisi membaik dan harga properti meningkat sehingga jika dijual para investor mendapatkan keuntungan. Karena memasang aksi wait and see, mereka juga tidak memiliki dana untuk belanja properti saat ini,” kata Preadi Ekarto, Komisaris Utama ISPI Group.

Dominasi pembeli end user bisa dilihat dari hasil survei yang dilakukan Rumah.com. Survei Rumah.com Property Affordability Sentiment Index H1-2018 yang diselenggarakan bersama Iembaga riset Intuit asal Singapura menunjukkan fakta bahwa calon pembeli properti lebih banyak berasal dari kalangan yang hendak membeli rumah pertama mereka untuk ditinggali.

Sebanyak 62% responden merupakan pencari rumah pertama dan upgrader, atau orang yang pindah ke rumah dengan kualitas yang lebih baik, bisa dari segi ukuran maupun lokasi. Sementara itu, hanya 17% yang merupakan investor. Sisanya mencari properti untuk tempat usaha.

Tujuan membeli properti juga berkaitan erat dengan usia dan penghasilan para responden dimana responden milenial lebih banyak berada dalam kategori pembeli rumah pertama, sementara para investor berasal dari responden yang lebih berumur.

Hasil survei ini juga menunjukkan bahwa milenial muda berusia 20-29 tahun, yang berniat membeli rumah pertama sebanyak 69% dan hanya 12% yang berniat untuk investasi. Sementara milenial tua (30-39 tahun), 48% mencari rumah pertamanya dan 21% berniat untuk investasi.

Investor properti paling banyak berasal dari golongan usia di atas 49 tahun, yakni sebesar 33%. Hanya 16% yang masih akan membeli rumah pertamanya. Sementara jika dilihat dari penghasilannya, 59% responden berpenghasilan di bawah Rp7 juta, berniat membeli rumah pertama mereka dan 12% berniat investasi. Dari kalangan berpenghasilan menengah (Rp7 juta-Rp15 juta), 47% masih mencari rumah pertama, sedangkan 23% sudah berani untuk berinvestasi. Dari kalangan berpenghasilan tinggi (di atas Rp15 juta), sebesar 47% berniat berinvestasi di bidang properti.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, mengatakan bahwa perilaku investasi masyarakat masih dipengaruhi kondisi nasional, terutama situasi politik menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak.

Kondisi ekonomi makro saat ini stabil meski cenderung flat. Arah kebijakan suku bunga masih stabil, tetapi ruang penurunannya masih terbatas. Namun demikian, stabilitas tersebut mengindikasikan ada harapan untuk menjadi lebih baik. “Konsumen properti, terutama dari kalangan investor, masih dalam posisi wait and see. Mereka menunggu situasi politik dan kondisi ekonomi makro. Masyarakat lebih memilih untuk menabung ketimbang investasi.

Sedangkan permintaan hunian saat ini lebih banyak berasal dari hunian sedang, ukuran luas 22-70 m2. Permintaan ini lebih banyak dari kalangan pembeli yang memang benar-benar sedang membutuhkan rumah untuk ditinggali,” jelas Josua.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me