Solusi Rumah Cerdas Buat si Langgas

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Pergi terburu-buru meninggalkan rumah dan kelupaan mematikan lampu atau AC? Tak perlu lagi menelepon asisten rumah tangga atau kerabat di rumah untuk mematikannya. Sekarang kontrol peralatan listrik di rumah bisa dilakukan lewat gawai di genggaman semudah membuka aplikasi game.

Teknologi smarthome memungkinkan rumah terkoneksi secara otomatis. Solusi digital ini dapat menghubungkan berbagai perangkat listrik dan elektronik di rumah menjadi satu dalam sistem pengendalian yang dapat diakses melalui ponsel pintar.

solusi-rumah-cerdas-buat-si-langgas

“Konsep seperti ini akan menghadirkan konsep hunian yang lebih baik dan memudahkan penghuni. Smarthome sudah sejak lama diterapkan di Jepang dan di sini (Indonesia) masih membutuhkan edukasi,” kata Presiden Direktur Panasonic Indonesia Hiroyoshi Suga. Panasonic baru-baru ini bekerja sama dengan pengembang PT Intiland Development menerapkan smart home solution dan network & surveillance system di proyek perumahan Serenia Hills, Jakarta Selatan.

Produsen alat listrik ABB (Swiss) dan Schneider (Perancis) yang masuk ke Indonesia lebih dari 30 tahun lalu juga sudah lama memperkenalkan teknologi rumah cerdas ini. Namun, peminatnya memang belum banyak dan permintaan sistem otomatisasi baru sebatas mengatur penggunaan lampu dan alat pendingin.

“Aplikasi ini cocoknya memang untuk rumah generasi milenial (langgas) karena mereka yang paling ngerti teknologi, dunia digital,” kata Ferry Kurniawan, Marketing Manager PT Schneider Indonesia. Ia menyebutkan, penerapan sistem smarthome bisa memberi solusi penghematan listrik yang efektif di rumah.

“Jadi, ini bukan untuk keren-kerenan tapi memang bisa mengurangi tagihan listrik,” ujarnya.  ABB misalnya, mengklaim sistem otomatisasi bangunan yang diusungnya bisa mengurangi konsumsi listrik hingga 30 persen jika diterapkan secara menyeluruh. Beberapa perumahan menengah atas di megapolitan Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) sudah menerapkannya di produk terbarunya.

Basic hingga advance

Sistem smarthome bisa diterapkan mulai dari yang sangat dasar seperti pengaturan lampu dan alat pendingin udara (AC). Schneider  menawarkan paket mulai dari Rp15 juta untuk mengoneksikan lampu-lampu di empat ruangan dan tiga unit AC. “Sekarang paling banyak diminta untuk mengontrol lampu dan AC saja,” kata Ferry.

Sedangkan paket basic dari Panasonic sudah sangat lengkap menyediakan layar 7 inci untuk berbicara dengan tamu yang akan masuk rumah, 3 kamera CCTV, video phone, AC dan perangkat lainnya yang bisa dimodifikasi dalam 50 skenario.

Misalnya, membuka pintu/jendela otomatis, menyalakan lampu, memicu alert di smartphone saat ada pergerakan di dalam rumah, timer untuk perangkat elektronik dan lain sebagainya.

Sistem smarthome yang lebih advance umumnya bisa diprogram sesuai kebutuhan penghuni. Program mencakup penghitungan otomatis yang mengkombinasikan berbagai perangkat. Wagner Manurung, Product Marketing Manager Electrification Products (EP) Division Low Voltage PT ABB Sakti Industri mencontohkan, setting kebutuhan penerangan di sebuah ruang 2.500 lumens, maka sistem akan memenuhi satuan kekuatan cahaya itu dengan mengkombinasikan berbagai perangkat terhubung, tidak hanya lampu tapi juga tirai.

“Jika di luar matahari bersinar cerah, sensor tirai akan terbuka optimal untuk memasukkan cahaya alami dan lampu di dalam ruang meredup secara otomatis sehingga listrik bisa dihemat,” katanya. Pemakaian listrik (data meter) juga dapat dihitung otomatis dan bisa diinformasikan ke pengguna.

solusi-rumah-cerdas-buat-si-langgas_2

Sistem kabel dan nirkabel

Sistem smarthome bisa diterapkan pada bangunan baru dan lama. Syaratnya, perangkat listrik dan elektronik berbasis digital telah kompatibel dengan sistem otomatisasi yang akan dijalankan. Schneider misalnya, menawarkan rangkaian produk Ulti EzInstall3 Wireless Home Control yang dapat diinstal tanpa kabel atau wireless. “Aplikasi sangat mudah, nggak usah bongkar rumah untuk pasang kabel baru,” ujar Ferry.

Konsumen cukup mengganti saklar dengan seri Ulti EzInstall3 tanpa harus mengganti kabel lama. Lampu-lampu yang terhubung hanya perlu diganti dengan lampu jenis dimmer jika menginginkan skenario pencahayaan yang bisa diredup-terangkan. Schneider menggunakan sistem frekeunsi radio Zigbee, semacam jaringan Bluetooth, untuk mengendalikan perangkat listrik agar saling terhubung lalu masuk ke WiFi router untuk bisa diakses dari ponsel.

Sistem penerima sinyal Zigbee berupa kotak kecil yang bisa mengoneksi hingga 30 perangkat (device). Tersedia juga aplikasi lebih canggih Video Door Entry Touch Screen Modul berupa sistem kamera di pintu depan yang bisa memberi informasi secara online siapa orang yang bertandang ke rumah melalui notifikasi di ponsel pintar berupa sajian gambar dan suara.

“Kita bisa langsung tahu siapa yang datang, walaupun kita nggak ada di rumah. Kita juga bisa menjawab melalui aplikasi suara yang terdengar langsung oleh tamu di rumah dan membukakan pintu dari jarak jauh,” jelas Ferry.

Ada juga sistem berteknologi sensor Argus Occupancy Sensors untuk diterapkan pada koridor atau kamar mandi. Sistem sensor ini mengirimkan sinyal ke lampu untuk  otomatis menyala jika ada pergerakan orang dan segera mati jika tidak ada orang di ruangan.

Sementara ABB menawarkan sistem otomatisasi rumah memakai kabel dalam rangkaian ABB i-bus KNX. “Seluruh perangkat listrik di rumah syaratnya harus berbasis protokol KNX termasuk MCB (miniature circuit breaker), baru bisa terhubung,” kata Wagner.

KNX adalah standarisasi jaringan protokol komunikasi untuk otomatisasi bangunan. Standar ini banyak diadopsi perangkat listrik dan peralatan elektronik yang beredar di pasaran Eropa. Instalasi kabel baru menyangkut kabel data dan kabel power dibutuhkan untuk menjalankan sistem ini.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me