Membaca Ke Mana Arah Bisnis Properti Bergerak

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Mei 2018 menurunkan laporan utama (Fokus) tentang ke mana arah bisnis properti selanjutnya.

Disebutkan beberapa pengembang sukses membukukan penjualan positif pada kuartal i 2018. Di satu sisi, sejumlah pengembang justru mengaku jika kinerja penjualan masih belum begitu menggembirakan. Saatnya berinvestasi atau menjual properti?

Pada acara Indonesia Property Expo (Ipex) 2018 yang digelar 03 Februari – 11 Februari 2018 lalu, salah satu bank penyelur KPR terbesar di tanah Air BTN melaporkan terbukti mampu mencetak kredit baru senilai Rp9, 34 triliun atau melampaui target yang dipatok sebesar Rp5 triliun, kendati terjadi penurunan pengunjung hingga 33% dibanding tahun sebelumnya.

Dengan pencapaian tersebut, maka hingga 31 Maret 2018, BTN telah menyalurkan kredit properti, baik kredit pemilikan rumah (KPR) maupun konstruksi sebesar Rp24,25 triliun. “Target ini terdiri dari 600 ribu unit untuk KPR subsidi dan 150 ribu unit untuk KPR non subsidi,” ujar Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara, Tbk Maryono beberapa waktu lalu.

Kinerja positif realisasi penyaluran kredit BTN tersebut, setidaknya sejalan dengan unjuk kerja penjualan yang dilakukan sejumlah perusahaan properti sepanjang paruh pertama tahun ini. Merujuk pada pencapaian marketing sales emiten properti yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada kuartal I-2018, misalnya. Sejumlah konglomerasi properti berhasil mencatat pertumbuhan positif. Sebut saja, PT Alam Sutera Tbk, PT PP Properti Tbk, PT Agung Podomoro Land Tbk, PT Pakuwon Jati Tbk, PT Ciputra Development Tbk, PT Bumi Serpong Damai Tbk serta PT Intiland Development Tbk.

Sepanjang Kuartal I 2018, Ciputra Development berhasil membukukan marketing sales sebesar Rp1,61 triliun atau setara 20,9% dari total target yang ditetapkan perusahaan tahun ini yaitu Rp7,7 triliun. Pencapaian tersebut meningkat 33% dari periode yang sama tahun 2017. Disusul PT Bumi Serpong Damai Tbk yang mampu mengantongi pra penjualan sebesar Rp2,52 triliun selama Januari-Maret 2018, atau sekitar 35% dari target Rp7,2 triliun tahun ini. Pencapaian tersebut tumbuh 58% dari kuartal I 2017 yang hanya membukukan pra penjualan Rp1,59 triliun. Kontribusi tersebut berasak dari penjualan rumah tapak sebesar 26%, tanah kavling 26%, apartemen 28%, dan ruko 8%.

BSDE berhasil menjual 475 unit rumah tapak senilai Rp956 miliar atau mening kat 129% dari kuartal I tahun lalu. Ini terutama disumbang dari peluncuran kluster terbaru yaitu Zora, Jadeite dan Tevana di BSD city. Sedangkan penjualan apartemen meningkat 1229% dari kuartal I 2017 menjadi Rp718,2 miliar, penjualan lahan meningkat 404 %, dan penjualan ruko tumbuh 30%.

Kesuksesan tersebut juga diikuti PT Intiland Development Tbk yang meraih pra penjualan sebesar Rp966 miliar atau 29,3% dari target 2018 sebesar Rp3,3 triliun. Perolehan tersebut melonjak 309% dari periode Januari-Maret 2017 yang hanya membukukan Rp236 miliar. Sekitar 78% dari capaian tersebut disumbang dari penjualan apartemen Fifty Seven Promenade yang dirilis sejak Agustus 2017.

Pengembang plat merah PT PP Properti Tbk (PPRO) juga membukukan marketing sales sebesar Rp703 miliar atau 18,5% dari total target Rp3,8 triliun tahun ini. Capaian itu meningkat 9,3% dari kuartal I 2017 lalu yang hanya mencapai Rp643 miliar. Sementara, PT Alam Sutera Tbk (ASRI) berhasil meraup pra penjualan Rp1,42 triliun atau 35,5% dari target Rp4 triliun. Tak hanya itu, pencapaian itu juga melesat 283,7 % dibandingkan kuartal I 2017 yang hanya membukukan Rp370 miliar.

Sedangkan PT Agung Podomoro Land Tbk (APLN) membukukan marketing sales Rp600 miliar, tumbuh 100% dari periode yang sama tahun lalu. Sebelumnya, sejumlah pelaku usaha memperkira-kan secara keseluruhan pasar properti akan terus berjalan dengan moderat dan stabil di paruh pertama 2018, dengan kecenderungan pemulihan di paruh selanjutnya. Ada dua faktor utama yang mendukung pertumbuhan tersebut yaitu faktor kegiatan pertumbuhan ekonomi dan keyakinan daya beli, maupun faktor eksternal seperti halnya pengembangan infrastruktur dankebijakan pemerintah yang mendukung investasi seperti kebijakan kepemilikan asing.

Tahun 2018 juga dianggap sebagai periode stabilitas untuk pasar properti. Maklum, setelah menikmati kegairahannya sejak awal 2010 hingga kuartal II 2013, industri properti dalam negeri kembali melalui masa-masa sulitnya yang dimulai sejak menapaki kuartal III tahun 2013 dan terus berlanjut hingga sepanjang tahun 2017 lalu. Lantas apakah kondisi ini menjadi sinyal bahwa sektor properti dalam negeri sudah kembali pulih?

Properti Indonesia mencatat, meski sejumlah pengembang berhasil membukukan kinerja postif, bukan berarti secara umum sektor properti dalam negeri sudah kembali rebound. Bebeberapa pengembang, khususnya di daerah masih belum bisa lepas dari bayang-bayang perlambatan.

PT Pakuwon Jati Tbk. adalah salah satu pengembang yang mencatat perlambatan tersebut. Pada kuartal I 2018, pra penjualan pengembang Gandaria City ini sebesar Rp605,14 miliar atau turun 7,4% dari periode yang sama di 2017. Pengembang PT Pikko Land Development, Tbk termasuk yang mengeluhkan pelemahan tersebut.

Dilansir Pasardana.id, Direktur Utama PT Pikko Land Developmen, Nio Yantony, mengatakan, sekitar seribuan unit apartemen milik Perseroan belum terjual karena terdampak pelemahan daya beli. ”Pasar properti khususnya high rise kelas menengah belum pulih seperti permintaan tahun 2015,” ujar Nio. Dirinya menambahkan unit-unit yang belum terjual tersebut memiliki rentang harga mulai dari Rp500 juta hingga Rp1,5 miliar. Karena itu, pihaknya tidak akan menaikkan harga jual. ”Harga jual masih sama seperti tahun lalu. Kalaupun naik, hanya 10%,” ujarnya. MPI Riz

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com