Pengembang Jakarta Disurvei, Ini Hasilnya

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Asosiasi perusahaan realestate Jakarta yang tergabung adalam Dewan Pengurus Daerah REI DKI Jakarta melakukan survei terhadap anggotanya yang berjumlah 350 perusahaan. Menurut Ketua DPD REI DKI Jakarta Amran Nukman, survei yang baru pertama kali dilakukan ini untuk mengetahui berbagai hal terkait bisnis properti yang dirasakan pengembang di Jakarta.

survey dpd rei

“Ada 333 responden yang mengikuti survei dari total 350 anggota. Hasilnya cukup menarik dan banyak membuka hal-hal baru yang selama ini sudah kita jalankan tapi tidak terdata secara rinci dan runut. Survei ini cukup membuka mata kita untuk tahap awal,” katanya saat memaparkan hasil survei kepada media di Jakarta, Rabu (24/5/2018). Survei dilakukan selama Februari-April 2018 ini.

Total ada 600 proyek yang dikerjakan pengembang Jakarta di berbagai lokasi di Jakarta dan di luarnya. Sebanyak 44,7 persen berupa perumahan menengah atas dan apartemen, 36,6 persen ruko, rukan, perkantoran dan mal, dan 8,1 persen rumah sederhana.

Untuk apartemen lokasinya 65 persen di Jakarta, 7 persen di Bekasi, masing-masing 5 persen di Kota Depok dan Tangerang Raya, 3 persen di Bogor dan Bandung, 2 persen di Surabaya, Semarang, Balikpapan, serta 1 persen di Medan, Yogyakarta, Banten, Bali, Batam dan Sumedang.

Luas lahannya 51 persen mencapai di atas 2 ha, 26 persen kurang dari 1 ha dan 23 persen 1-2 ha. Sebanyak 48 persen pengembang membangun seluas antara 50-100 ribu m2, 32 persen kurang dari 50 ribu m2, dan 18 persen di atas 100 ribu m2. Jumlah tower apartemennya, 43 persen membangun sebanyak tiga tower, 37 persen antara 301-500 unit, 28 persen kurang dari 300 unit dan 22 persen 501-700 unit. Sebanyak 54 persen pengembang menyasar segmen menengah-atas dan 53 persen menjual di harga Rp12 – 30 juta/m2.

Untuk penjualan, 46 persen menjual sebanyak kurang dari 25 unit per bulan dan 44 persen 26-55 unit per bulan. Terkait kondisi ekonomi tahun 2017, 57 persen pengembang menyatakan kondusif untuk bisnis properti dan 66,1 persen menyatakan regulasi pemerintah, kondisi makro ekonomi dan perizinan memengaruhi iklim investasi properti.

Beberapa faktor yang memengaruhi penjualan tahun 2017 adalah daya beli konsumen hanya dijawab oleh 0,6 persen pengembang, terkait lokasi 12,6 persen, perubahan perilaku konsumen 19,1 persen, pembiayaan 21,7 persen. Sementara 36,2 persen pengembang menjawab persaingan pasar terkait supply-demand-price paling memengaruhi penjualan.

“Survei ini membuat kami makin yakin dengan apa yang dirasakan pengembang selama ini. Misalnya, regulasi pemerintah sangat berpengaruh terhadap iklim bisnis. Makanya kita terus aktif berhubungan dengan seluruh stakeholder (pemangku kepentingan). Banyak juga yang bisa disoroti, misalnya kenapa di beberapa wilayah bisnisnya turun. Ini bisa kita berikan arahan hal-hal apa saja yang bisa dilakukan supaya investasi bisa naik lagi,” jelas Amran

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com