Wuihh…20 Persen Apartemen Mewah Singapura Dikuasai Orang Kaya Indonesia

Big Banner

Warga kelas atas di Indonesia ternyata masih mengincar Singapura sebagai tujuan utama investasi properti luar negeri dengan alasan adanya kesamaan budaya dan kedekatan jarak tempuh dari Indonesia. Asumsi ini dipertegas hasil riset Ray White yang menyatakan bahwa sekitar 20 persen apartemen mewah di Singapura dikuasai orang-orang kaya asal Indonesia.

Country Director Ray White Indonesia, Johann Boyke menyampaikan hal tersebut di sela acara acara Konferensi Pers Crown Group di Jakarta, Selasa kemarin.

Menurut dia, Indonesia saat ini menduduki peringkat ketiga dalam hal kepemilikian properti asing di Singapura. Pertama itu China, kedua Malaysia, dan ketiga Indonesia.

“Indonesia menguasai pangsa pasar 20 persen kepemilikan properti khususnya apartemen mewah di Singapura. Bahkan, angkanya bisa terus naik dalam beberapa tahun mendatang,” katanya.

Dia mengatakan, daya beli masyarakat Indonesia sebenarnya tinggi, terlihat dari banyaknya orang Indonesia berinvestasi properti di Singapura. Kebanyakan dari mereka menanamkan investasi dengan membeli apartemen.

“Banyaknya masih apartemen. Jadi kenapa Singapura, karena Singapura itu dekat, dan budayanya juga hampir sama dengan Indonesia, mulai dari makanan, tata perilaku, dan pola bisnisnya,” katanya.

Australia juga diincar

Selain Singapura, Johann mengatakan, masyarakat Indonesia pun banyak membeli properti di negara Kangguru Australia. Pertumbuhan pembelian properti oleh orang Indonesia di negara ini diprediksikan akan terus naik, seiring dengan banyaknya maskapai penerbangan yang membuka rute baru antar kedua negara.

“Untuk Australia juga cukup baik, ditambah kita lihat sekarang ada Air Asia menuju ke Perth, lalu ada Lion Air yang membuka Batik Air sebentar lagi,” lanjutnya.

CEO Crown Group Iwan Sunito mengatakan, daya beli masyarakat Indonesia cukup tinggi. Bahkan untuk beberapa orang Indonesia sanggup membeli beberapa unit apartemen yang dikelola perusahaannya di Singapura.

“Ada juga orang Indonesia yang tinggal disana, dia beli disana, dia beli lima. Tapi lalu dia bawa keluarganya beli 5 lagi, berarti kita melihat sih, dulu yang pembelian orang luar negeri itu sekitar 10%, sekarang 20% lebih. Itu menunjukkan makin banyak saja orang dari luar negeri yang masuk ke Sydney,” pungkasnya. (bn)

ciputraentrepreneurship.com