Desain Membumi dan Ramah Lingkungan

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Sejumlah arsitek muda berkolaborasi menggelar pameran kecil bertajuk Eco Local. Mereka berbicara soal kepekaan terhadap ekologi dan lokalitas. Digelar selama 10 hari akhir tahun lalu di Jag’s Kitchen, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pameran menampilkan konsep dan maket delapan bangunan residensial.

Delapan arsitek yang terlibat, masing-masing mewakili firma desain yang didirikannya dan telah berpengalaman lebih dari 10 tahun.  Arsitek dan penulis Prabham Wulung memberikan abstraksinya dalam pameran, bahwa bersikap lokal untuk menghasilkan produk yang membumi saja tidak cukup, melainkan juga harus memikirkan daya dukung lingkungan dari setiap produk atau ide yang diciptakan perancang, pencipta atau penemu. Delapan karya berikut ini membawa pesan-pesan itu. Yakni, unggul sekaligus selaras dengan konteks lokal dan ramah lingkungan. Bisa menjadi inspirasi anda.

 

Sagala’s House (satu gambar)

Arsitek: Aribowo D Sukaton

ADS (Jakarta)

eco-local_sagalas-house

Rumah tinggal di atas lahan 200 m2 ini ingin menghadirkan konsep ramah lingkungan melalui pencahayaan alami yang cukup, sirkulasi udara yang baik, penggunaan solar panel sebagai tenaga listrik dan rencana pengolahan air hujan. Dengan rasio koefisien dasar bangunan (KDB) 50 persen, diperoleh massa bangunan yang dikelilingi area terbuka. Sesuai keinginan pemilik mendapatkan rumah yang sejuk dan nyaman, diterapkan banyak bukaan jendela untuk sirkulasi udara pada bangunan. Selain itu, pengolahan air hujan dimanfaatkan kembali untuk menyirami atap rumah di saat terik matahari, sehingga mengurangi panas masuk ke dalam. Desain bangunan yang sederhana berusaha menjawab kebutuhan akan ruang yang optimal untuk berkumpulnya anggota keluarga dari segala usia. Halaman di area depan difungsikan sebagai taman bermain anak, lantai dasar difokuskan untuk tempat kumpul keluarga, dan lantai tiga terdiri dari area dalam (indoor) dan luar (outdoor) untuk berkumpul kerabat dan sahabat. Perencanaan tata ruang dimaksimalkan. Material bata ekspos dan finishing dinding tanpa cat menghiasi sebagian besar tampilan rumah.

 

A9 Eco (House) dua gambar

Arsitek: Budiarti dan Erick

BEStudio (Jakarta)

eco-local_a9-eco-house

Rumah yang nyaman dan fungsional dirancang untuk tiga keluarga saat ini dan direncanakan bisa dibagi dua pada kondisi tertentu. Posisi kaveling yang memanjang ke utara-selatan membuat arsitek ingin memecah konfigurasi massa agar lebih pendek (tipis) untuk menghasilkan orientasi utara-selatan dari setiap massa bangunan. Arsitek menyelipkan area hijau di tengah kaveling di antara dua massa, sehingga keduanya mendapatkan keuntungan untuk memasukkan cahaya matahari ke dalam bangunan seluas-luasnya. Hasilnya, nyaris di setiap ruangan kita bisa melihat pohon yang tersebar dari taman di bagian depan, tengah dan belakang. Perbedaan tekanan udara akibat bayangan pepohonan juga akan makin membuat aliran udara alami berjalan lebih baik ke dalam ruang-ruang. Green coverage ditambahkan berupa roof garden di sekitar skylight pada bagian atap carport yang memanjang di bagian depan. Taman tersebut merupakan area hobi dari sang pemilik yang berprofesi sebagai dokter, sekaligus bisa mengurangi heat island effect dari keberadaan bangunan terhadap lingkungan sekitarnya.

 

Ordinary Space (satu gambar)

Arsitek: Andi Pratama

ANDParsitek (Tangerang, Banten)

eco-local_ordinary-space

Rumah ini berusaha menyelesaikan tantangan di luas lahan terbatas sekitar 125 m2 dengan kebutuhan ruang yang banyak. Arsitek tetap memperhatikan unsur rumah yang ramah lingkungan dengan aplikasi ventilasi udara silang antara depan dan belakang bangunan. Pembuatan taman dalam dan taman atap juga diharapkan mampu memperbaiki iklim mikro pada bangunan dan lingkungan di sekitarnya, selain dapat dimanfaatkan untuk aktivitas berkebun bagi penghuni. Unsur arsitektur modern dan lokalitas yang seolah kontradiktif disandingkan bersama. Eksterior dengan massa berupa susunan tumpukan kotak dan penggunaan material kaca membuat bangunan tampak modern. Tetapi ketika memasuki interiornya penghuni akan bisa merasakan hawa lokalitas melalui penggunaan furnitur kayu dan anyaman rotan. Modernitas juga terlihat dari konfigurasi ruang yang berbeda dengan budaya orang Indonesia, yakni penempatan dapur di area pintu masuk utama. Dapur dirancang tidak lagi memiliki imej yang berantakan, tapi justru menjadi bagian terpenting untuk diperhatikan kebersihannya.

 

Recreating Space By Local (dua gambar)

Arsitek: Farrizky Astrawinata

Moreids (Jakarta)

eco-local_recreating-space

Karya ini mencoba mendefinisikan kembali ruang arsitektur rumah tinggal bersama dalam konteks lingkungan di Yogyakarta sebagai daerah tujuan wisata yang memicu pemanfaatan ruang privat untuk mendukung perkembangan kota tersebut. Peraturan kota dan peraturan usaha menjadi acuan dalam pembentukan arsitektur. Menitikberatkan kepada ruang bersama sebagai identitas spirit kultur interaksi dan toleransi yang sudah lama terbangun di Yogyakarta. Ruang bersama dibuat terbuka secara fisik agar terjadi interaksi antar sesama penghuni dan juga interaksi penghuni dengan alam. Keterbukaan juga mendukung terjadinya pencahayaan alami dan pertukaran udara secara bebas. Ekspresi material pembentuk ruang dari material pasaran tanpa identitas baru seperti, bata, batako kerawang, batu kali, plester aci ekpos, kayu, baja dan genteng tanah liat. Mendekatkan keakraban kita terhadap persepsi material dan bentuk yang sudah ada di Yogyakarta.

 

Stilt House #2 (satu gambar)

Arsitek: Michael Julius Brohet

MJBarchitects (Depok, Jawa Barat)

eco-local_stilt-house

Perancangan rumah eksperimental ini ingin mengangkat kualitas ruang rumah panggung tradisional dalam hunian perkotaan. Diterjemahkan dengan kesatuan ruang keluarga, ruang makan dan teras di lantai kedua yang memanjang sampai dengan batas Garis Sempadan Bangunan (GSB) sejauh tiga meter ke depan. Ruang keluarga dengan plafon tinggi dan ruang studi pada lantai mezanin adalah kualitas ruang yang biasa ditemui dalam rumah panggung Minahasa (Sulawesi Utara). Kamar tidur utama dan dua kamar anak berada di lantai dasar menghadap ke taman samping sebagai sumber cahaya dan udara. Hunian dalam lahan 7 x 20 m2 ini memiliki bukaan di keempat sisi dan massa bangunan yang tidak menempel pada dinding tetangga, sehingga membuat rumah terang dan pengudaraan alaminya baik. Sistem pengolahan air buangan ramah lingkungan dengan beberapa sumur resapan untuk menampung air hujan yang sebagian dipakai kembali untuk kegiatan servis (menyiram tanaman dan toilet), dan sebagian diresapkan ke dalam tanah. Pemanfaatan tenaga surya untuk kebutuhan listrik memanfaatkan bidang atap yang luas. Lantai kayu dan furnitur tanam menggunakan kayu olahan yang tahan rayap, stabil terhadap muai-susut dan tahan lama.

 

Urban Farming For Food Security (satu gambar)

Arsitek: Sigit Kusumawijaya

SiG, architect & urban designer (Jakarta)

eco-local

Konsep rumah ramah lingkungan dengan penggunaan material hasil daur ulang, ventilasi silang yang dipadukan dengan urban farming (pertanian perkotaan) ini tidak hanya menawarkan keasrian dari sudut estetika dan pengkondisian suhu mikro, namun juga memberi nilai tambah bagi penghuni melalui pemanfaatan tanaman-tanaman yang bisa dipanen dan dikonsumsi. Hunian juga mempunyai ruang sosial untuk warga sekitar. Sebagian lahan dialokasikan untuk area semi publik berupa ampiteater, perpustakaan umum dan area berkebun bersama. Untuk mengoptimalkan ruang, area berkebun tersebar dari lantai dasar hingga seluruh area rooftop dan sisi massa bangunan dengan metode vertikultur dan kebun vertikal. Secara jangka panjang, konsep pertanian perkotaan bertujuan mengenalkan gaya hidup sehat dengan cara menanam tanaman pangan selain tanaman hias untuk menuju kemandirian dan ketahanan pangan yang dimulai dari skala terkecil, yaitu keluarga.

 

Mimicking The Dayaks (dua gambar)

Arsitek: Michael dan Noerhadi

rdmadesigns (Bandung, Jawa Barat)

eco-local_mimicking-the-dayaks

Rumah vila ini dirancang dengan gubahan massa membentang sepanjang 70 meter dan melayang setinggi 3-6 meter dari permukaan tanah. Bangunan berusaha menerapkan prinsip Rumah Betang milik suku Dayak di Kalimantan berupa rumah panggung yang memanjang. Seperti halnya fungsi sosial pada Rumah Betang, sebagian besar ruang di vila ini untuk kebutuhan sosialisasi pemilik dengan para kerabatnya. Memakan hampir setengah dari luas total bangunan, area tersebut dibuat semi terbuka dan ditempatkan menyerupai rumah panggung. Kolong bangunan pada level kontur utama menyatu dengan halaman luas di sisi-sisinya yang hampir separuhnya berupa kontur curam. Tampilan bangunan dikehendaki seringan mungkin untuk meminimalisisr kehadirannya pada lansekap yang ada. Pemilihan material pada massa bangunan yang melayang di atasnya diatur agar dapat meneruskan pandangan ke sisi yang bersebrangan secara maksimal sekaligus menampilkan bentuk atap pelana seutuhnya. Adaptasi rumah panggung ini diharapkan juga dapat mengurangi kelembaban dengan memaksimalkan ventilasi silang di ruang dalam dan bagian luar bangunan, yaitu melalui sisi bawah untuk kenyamanan bertinggal para penghuni.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com