Daya Tarik Proyek Skala Kota, Tak Pernah Pudar (2)

Big Banner

Direktur Utama PT Summarecon Agung Tbk. Adrianto Pitoyo Adhi mengatakan perlu waktu panjang dan berbagai liku yang dilalui membangun Kota baru. Kota Summarecon Bekasi, misalnya. Sebenarnya tanah Summarecon Bekasi sudah dibebaskan sejak tahun 1980, namun dibiarkan menganggur hingga kota Bekasi dinilai sudah mulai matang dan bisnis properti membaik secara makro, baru pada tahun 2009 dimulai penggarapan lahan.

Bekasi dipilih sebagai salah satu pengembangan proyek kota baru karena potensi Kota Bekasi yang merupakan kota satelit DKI Jakarta. Dengan fungsi penyangga, biasanya muncul kantung-kantung komunitas masyarakat, dimana kalau pagi, semua berangkat ke Jakarta untuk bekerja.Malamnya kembali. Itu fungsi kota satelit.

Sementara itu, Nanik J Santoso, Senior Director Ciputra Group yang sempat diberi tanggung jawab mengembangkan hunian skala kota di Jonggol mengatakan, perlu kerja keras dan totalitas dalam membangun sebuah kota baru. Tidak mudah membangun hunian berskala township di Citra Indah City Jonggol. Menurutnya berbagai ilmu marketing, manajemen, operasional hingga motivasi dikerahkannya guna mendongkrak proyek yang mati suri menjadi proyek yang menghasilkan.

Membangun sebuah kota baru selain diperlukan kapital dan berskala jangka panjang, juga diperlukan keberanian memulai proyek besar tersebut. Apalagi disaat kondisi ekonomi dan geliat bisnis properti yang belum kembali menggeliat. Pengamat properti dari Colliers Indonesia, Ferry Salanto mengatakan pembangunan beberapa kota baru lokasinya mendekati pembangunan infrastruktur yang sedang dibangun pemerintah.

“Pembangunan infrastruktur membuat daerah pinggiran memiliki koneksi yang terintegrasi dengan Jakarta sebagai pusat kota, hal ini yang mendorong pertumbuhan properti,” katanya. Ferry mencontohkan meskipun jaraknya jauh dengan Jakarta, namun kawasan Cikarang dan Karawang menjadi mudah dijangkau dan berkoneksi langsung dengan Ibu kota, berkat pembangunan infrastruktur.

Beberapa proyek infrastruktur di kawasan tersebut yakni jalan tol layang Jakarta-Cikampek, Kereta Cepat Jakarta-Bandung, dan Light Rail Transit (LRT) koridor Cawang-Bekasi Timur-Cikarang. Selain itu pembangunan Pelabuhan Patimban dan Bandara Kertajati, Majalengka.

Menurut Ferry, maraknya pembangunan properti tak hanya di Jawa Barat, tapi juga terjadi di sekitar kota-kota besar. Dia menyebutkan kota-kota pinggiran sekitar Surabaya dan Semarang pun akan mengalami hal yang sama, sebagai dampak dari infrastruktur yang sedang digenjot pemerintah.

Sementara itu, Pengamat Tata Kota, Yayat Supriyatna menambahkan dengan adanya tansportasi seperti Light Rail Transit (LRT), Kota Bekasi bisa bergeser fungsi. Misalnya, Kota Bekasi bisa menjadi kota pusat perdagangan, pusat perkantoran, dan pusat perbisnisan. Ia pun mengungkapkan Pemerintah Kota Bekasi harus siap dengan datangnya transportasi kereta ringan dengan menyediakan sistem layanan yang mengedepankan kecepatan. “Seharusnya fokusnya adalah bagaimana Bekasi dengan kemudahan akses transportasi ini membuat Bekasi mandiri, dan muncul pusat kegiatan baru,” katanya.

Senada dengan Yayat, Director Head of Research and Consultancy Savills Indonesia, Anton Sitorus, mengatakan kesuksesan pembangunan proyek skala kota akan tergantung pada perencanaan dan strategi yang digunakan. Menurut dia, salah satu faktor yang mempengaruhi ialah pengadaan perumahan yang terjangkau untuk masyarakat. Anton melihat pengadaan rumah terjangkau masih sangat jarang. Padahal, kebutuhan masyarakat akan perumahan di kawasan Jabodetabek masih banyak, meski pasar properti secara umum sedang melemah.

Strategi lainnya adalah membangun akses infrastruktur seperti yang dilakukan Summarecon di Bekasi. Summarecon memutuskan membangun fly-over akses menuju Summarecon Bekasi sepanjang 1 kilometer dan menelan biaya hingga Rp200 miliar dan diserahkan kepada pemerintah kota sebagai aset.

Meski mengeluarkan biaya miliaran, namun dampak terhadap penjualan sangat signifikan, termasuk menjadi potensi investasi yang sangat prospektif karena capital gain yang didapat melonjak tajam. Sebagai contoh, jika harga awal rumah yang ditawarkan hanya Rp550 juta, maka setelah fly-over beroperasi melonjak menjadi Rp 2,2 miliar. Begitu juga dengan ruko dari harga Rp 1,5 miliar kini menjadi Rp5,8 miliar. MPI DR

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com