Pengembangan Township Eksis dengan Strategi Kolaborasi

Big Banner

Majalah Properti Indonesia edisi juni 2018 menurunkan ulasan pengembangan township. Boomingnya sektor properti paska krisis ekonomi 1998, membuat kawasan Jakarta terus disesaki berbagai bangunan, mulai dari kawasan perumahan, perkantoran, apartemen, pusat belanja hingga perhotelan.

Perkembangannya pun tidak lagi hanya terkonsentrasi di dalam pusat kota, namun juga mulai bergeser hingga ke daerah-daerah pinggiran yang menjadi kawasan penyangga. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang akhirnya “hijrah” dari kota induknya dan memilih tinggal di kawasan kota baru karena berbagai kelebihan yang ditawarkan – fasilitas lengkap, lingkungan terjaga dan pembangunan berkesinambungan.

Kondisi inilah yang akhirnya membuat pertumbuhan proyek kawasan perumahan berskala kota mandiri terus bertambah setiap tahunnya. Riset yang dilakukan Properti Indonesia menunjukkan, saat ini setidaknya lebih dari 20 kota mandiri aktif yang tersebar di wilayah Jabodetabek, Bandung dan Surabaya. Dikatakan aktif karena kota-kota mandiri tersebut masih memiliki cadangan lahan yang luas, terus melengkapi pembangunan fasilitas serta memasarkan berbagai produk properti, baik hunian (landed dan apartemen) maupun area komersialnya.

Mengerjakan properti dengan skala raksasa (township development) sudah barang tentu bukan perkara gampang. Terlebih, untuk mendapatkan lahan sebesar yang dibutuhkan – sebagai salah satu syarat utamanya, bukan pekerjaan mudah. Selain juga nilai kapital yang tak sedikit guna merealisasikannya.

Sejak beberapa tahun terakhir,strategi berpartner dengan pengembang asing serta menjual kavling lahan berskala besar menjadi tren di kota-kota mandiri. Selain business oriented, kolaborasi ini juga bertujuan agar dapat memberikan nilai tambah terhadap proyek yang dikembangkan melalui sharing knowledge.

Sebut saja, BSD City yang menggandeng Hongkong Land untuk menggarap area Navapark, CitraRaya Tangerang yang menggandeng Mitsui Fudosan dalam membangun Ecopolis, Lippo Cikarang yang menggandeng Mitsubishi Corporation, Jakarta Garden City yang menggandeng PT Astra Modern Land – perusahaan patungan Astra Land Indonesia dan Hongkong Land dengan PT Mitra Sindo Sukses, anak usaha PT Modernland Realty, Tbk. serta beberapa kota mandiri lainnya.

Kota BSD City, Serpong misalnya. Meski telah dikembangkan sejak 28 tahun silam, proses pembangunan kawasan seluas 6000 hektar ini baru terserap separuhnya saja. Sementara, sisanya sebesar 2900 hektar masih berbentuk cadangan lahan. Saat ini lebih dari 20 ribu rumah telah terbangun di BSD City, dengan rentang harga mulai dari Rp900 juta hingga miliaran rupiah. Sementara, untuk pengembangan sudah memasuki fase ketiga yang diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2035 mendatang.

Belakangan, untuk lebih meningkatkan value BSD City sebagai kota mandiri, PT Bumi Serpong Damai, Tbk. selaku pengembang memilih menggandeng Hongkong Land untuk mengembangkan mix-residential berkonsep resort dan lifestyle berstan dar internasional bertajuk NavaPark. Di atas lahan seluas 68 hektar yang direncanakan, Navapark akan merangkum 233 unit rumah eksklusif, termasuk apartemen, perkantoran, hotel, dan berbagai properti komersial.

Setali tiga uang, kawasan Kota Mandiri CitraRaya Tangerang.The largest Township Development dari Ciputra Grup ini dikembangkan sejak 1997, dan sampai saat ini lebih dari 25 ribu unit rumah serta komersial area telah terbangun. Adapun, rentang harga yang pasarkan saat ini mulai dari Rp500 jutaan sampai dengan Rp3 miliar.

Populasi penduduk di CitraRaya saat ini lebih dari 65 ribu jiwa. Dari total luas lahan sebesar 2760 hektar, seluas 800 hektar diantaranya atau sepertiga dari total lahan telah selesai dikembangkan. CitraRaya juga akan melengkapi berbagai fasilitas lainnya seperti pusat perbelanjaan, hotel, perluasan Eco Plaza, pembangunan Gramedia Bookstore, Showroom Mitshubishi, serta pembangunan kampus 2 Esa Unggul.

Serupa dengan BSD City, Ciputra Group juga menggandeng pengembang asing untuk menggarap salah satu proyek bertajuk Ecopolis. Ecopolis sendiri merupakan joint venture antara Ciputra Grup dengan perusahaan pengembang asal Jepang Mitsui Fudosan. Di kawasan premium ini nantinya akan dibangun beragam hunian eksklusif, komersial area, seperti office park dan pusat lifestyle terbaru di CitraRaya bernama Eco Plaza. Total area yang dibangun di Ecopolis mencapai 100 hektar, dimana 60 hektarnya diantaranya dikembangkan Ciputra Group bersama Mitsui Fudosan. Dari 60 hektar tersebut nantinya juga akan dibangun proyek superblok seluas 10 hektar.

Jika di sebelah barat kota Jakarta ada BSD City dan CitraRaya, maka di Timur Jakarta yang belakangan pesat sekali perkembangannya adalah Lippo Cikarang. Dengan lokasi tepat di sisi jalan tol, 30 kilometer dari Jakarta, Lippo Cikarang yang mulai dikembangkan pada tahun 1990 ini, terhitung paling komprehensif di sini. Namun berbeda dengan BSD City dan CitraRaya yang mengawali pembangunan lebih sebagai kawasan hunian, Lippo Cikarang sejatinya berdiri guna “melengkapi” kawasan industri yang berada persis di sebelahnya dan dibangun oleh pengembang yang sama. Jadilah, Lippo Cikarang dengan lahan seluas 3 ribu hektar sebuah kota mandiri berbasis industri.

Masih di wilayah Timur, tiga developer yang lokasinya saling berdekatan juga kian ekspansif mengembangkan proyek township-nya yakni Jakarta Garden City (JGC), Metland Menteng dan Kota Harapan Indah. Untuk proyek hunian, JGC saat ini sedang fokus pada pembangunan kawasan River Garden. Beberapa fasilitas yang sudah dikembangkan di kawasan seluas 370 hektar ini adalah sekolah national plus, pre school, food garden dengan 16 tenant kuliner pilihan, pasar modern, club house dengan Eco Park seluas 1.2 hektar didalamnya, dan menyusul pusat perbelanjaan AEON Mall, IKEA dan RS. Mayapada.

Tak ingin ketinggalan, kawasan Metland Menteng juga terus menawarkan beragam produk properti mereka, mulai dari rumah siap huni, rumah indent, ruko, area komersial hingga lot kavling tanah untuk komersial dengan luasan mulai dari 1.100 m2 sampai dengan 1,1 hektar. Di Metland Menteng sendiri saat ini telah terbangun sebanyak 2700 unit rumah dan dihuni sebanyak 2.600 Kepala Keluarga (KK). Dari total luas lahan sebesar 135 hektar, sampai saat ini 63%-nya telah dikembangkan.

Di wilayah Jakarta, Kota Bintaro Jaya juga terus menggeber pembangunan proyek hunian-hunian dan area komersialnya. Sejak dikembangkan dan dibangun dari tahun 1979 silam, Bintaro Jaya telah berkembang sangat pesat, baik kawasan hunian (baik landed residential maupun highrise residential), komersial dan fasilitas pendukungnya. Pengembangan kawasan berbasis Transit Oriented Development (TOD) dan Ecommunity (pengembangan ramah lingkungan) adalah konsep pengembangan yang ditawarkan kota mandiri seluas 1500 hektar ini.

Pengembangan terbaru di Bintaro Jaya saat ini adalah Jaya University Town (Jaya U-town) – sebuah kawasan pengembangan terpadu seluas 37 Ha yang mengusung konsep terbaru dan pertama yaitu Kozko dan Ruko. Jaya U-town berada di area Universitas Pembangunan Jaya dan dilengkapi pusat olahraga bulutangkis bertaraf Internasional Jaya Raya. MPI Riz

mpi-update.com