Konsep Green Building Masih Sebatas Gimmick (2)

Big Banner

Ketua Ikatan Ahli Bangunan Hijau Indonesia (IABHI) Iwan Prijanto menjelaskan, pembangunan di Indonesia saat ini telah mengalami kemunduran khususnya terkait peningkatan mutu kualitas bangunan. Ironinya, hal tersebut justru terjadi seiring gencarnya rencana percepatan pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Salah satu kemunduran tersebut, ujar Iwan, misalnya pada pembangunan kota baru di berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, seharusnya pemerintah lebih mengutamakan pembenahan pembangunan berkelanjutan di kota besar terlebih dahulu dengan menerapkan kaidah bangunan hijau. “Selama penghuni kota satelit masih bekerja di kota besar hal tersebut bukan jadi solusi. Yang ada justru menambah kemacetan dan menurunkan kualitas hidup masyarakat,” tegasnya.
Dirinya juga menyorot terkait kian maraknya pembangunan hunian berkonsep Transit Oriented Development (TOD) yang termasuk salah satu kategori dalam konsep hunian green building. Menurut Iwan, orang yang tinggal di hunian berkonsep TOD idealnya tidak perlu lagi memakai kendaraan pribadi untuk beraktivitas sehari-hari. Karena cukup berjalan kaki dari satu gedung ke gedung lainnya atau memanfaatkan transportasi massal yang terkoneksi dengan hunian. Namun sayangnya, hunian berkonsep TOD yang banyak ditawarkan saat ini justru lebih mengutamakan sisi komersial dibanding menerapkan prinsip-prinsip bangunan hijau seutuhnya.

“Jika perencanaan TOD tidak memperhatikan kapasitas penghuni dan kawasan sekitar, maka hunian tersebut justru bukan menjadi solusi bagi masyarkat perkotaan. Karena itu, perlu kolaborasi antara pelaku transit, developer, pemerintah, dan masyarakat,” sarannya.

Ditambahkan Iwan, saat ini banyak pengembang yang gencar mempromosikan proyeknya karena mengusung konsep green building, eco building, aeropolis, go green dan konsep-konsep ramah lingkungan lainnya. Padahal, campaign yang ditawarkan baru sebatas marketing gimmick.

“Pada akhirnya menjadi kurang tepat menjual produk properti dengan istilah green building tanpa memberikan fasilitas yang nyaman bagi pejalan kaki hingga adanya konektivitas antara hunian, kawasan komersial, pusat pemerintahan hingga sistem transit yang sehat,” kritiknya.

Sementara itu, mantan Ketua Arsitek Indonesia, Endy Subijono, mengatakan, biaya awal pengembangan bangunan hijau saat ini masih lebih mahal dibandingkan dengan bangunan biasa (10-11% di Indonesia, 3-4% di negara tetangga). Namun, hal itu menjadi sebanding karena diimbangi dengan biaya operasional bangunan yang lebih hemat setelahnya. Karena itu harus dipahami bahwa merancang bangunan hijau adalah sebuah proses menciptakan bangunan yang lebih baik, dan terus makin baik. “Secara arsitektur menyenangkan, diterima secara sosial, memenuhi perhitungan ekonomis, dan bersahabat dengan lingkungan. Di Amerika Serikat contohnya, bangunan rumah hanya mengonsumsi 14 persen air, 40 persen bahan baku, dan 39 persen energi,” papar Endy. DR/MPI
(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me