Punya Rumah Kudu Diniatin Begitu Pertama Kali Gajian!

Big Banner
Foto: Rumah123/Getty

 

Pelonggaran Loan to Value (LTV) yang baru saja diumumkan Bank Indoneia (BI) akan memudahkan kamu untuk punya rumah. Dengan kebijakan DP 0%, maka kamu gak perlu nabung sekian lama untuk punya dana uang muka (DP) saat beli hunian, apakah itu rumah tapak ataupun apartemen.

Punya hunian merupakan kebutuhan dasar manusia, gak bisa ditawar. Nah, para milenial yang memasuki dunia kerja harusnya nyadar beda antara kebutuhan dan keinginan.

“Kebutuhan adalah harkat hidup, seperti sandang, pangan, dan papan. Jika bagian ini terganggu, kehidupan juga akan terganggu,” kata perencana keuangan Aidil Akbar seperti dikutip Harian Kompas, Senin (2-7-2018). Pria ini adalah pendiri Aidil Akbar Madjid & Associates.

Baca juga: Saatnya Beli Rumah Tanpa DP, Serbuuu..!

Gimana dengan keinginan? Menurut perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie, pendiri Zap Finance, dikutip dari sumber yang sama, keinginan adalah hasrat yang kalaupun gak terpenuhi, gak akan ngaruh terhadap kemampuan manusia untuk bertahan hidup. “Jadi, tolong dibedakan antara kebutuhan alat angkut transportasi dari rumah ke lokasi kerja dan keinginan menggunakan mobil keluaran terbaru sebagai alat transportasi dari rumah ke lokasi kerja,” katanya.

Gaya hidup dan kebutuhan hidup di kota besar, menurut Aidil, membuat generasi milenial butuh biaya ekstra untuk mendapatkan kemapanan. Mereka butuh rumah dan kendaraan pribadi. Dengan gaji rata-rata milenial yang bekerja di Jakarta sekitar Rp5-6 juta per bulan, mereka lebih memilih sewa hunian ketimbang beli rumah yang harganya sekitar 100 bulan gaji pertama mereka.

Generasi milenial dianggap masih kesulitan menentukan mana kebutuhan dan mana keinginan. Mereka cenderung memenuhi aktualisasi diri dengan mengikuti gaya hidup. Aidil menyarankan agar para milenial menggunakan 40% dari gajinya untuk kebutuhan konsumsi, termasuk sandang, pangan, dan papan. Sedangkan yang 30% untuk berinvestasi, dan yang 30%-nya lagi untuk membayar cicilan dan utang.

Baca juga: Bergaji di Bawah Rp4 Juta? Bisa Beli Rumah Ini Kok!

Persentase tersebut, menurut Aidil, akan efektif kalau si milenial sudah punya dana darurat yang besarnya 2-3 kali gaji. Dana darurat ini awalnya dikumpulkan dari bagian 30% gaji yang untuk pos bayar cicilan dan utang (kalau baru masuk dunia kerja kan belum punya utang). Kalau nanti sudah memiliki dana darurat, barulah berutang, semisal cicilan KPR.

Gimana dengan dana buat liburan? Menurut Prita, karena itu bukan kebutuhan rutin, maka dananya dikumpulkan dari penghasilan non-rutin juga, semisal THR dan bonus tahunan. Perihal dana liburan, Regional Agency Manager BNI Life, Andy Nugroho, mengingatkan para milenial agar menghindari pembayaran dengan kartu kredit untuk memenuhi gaya hidup, termasuk liburan.

Baca juga: Kalau Gaji Udah Gede, Baru Deh Beli Rumah, Yakin Kamu?

“Kegiatan untuk memehuni hasrat dan keinginan, termasuk berlibur, penting untuk menyegarkan kembali diri kita. Tapi, perlu diingat, untuk mengejar keinginan, kita lebih baik disiplin dalam menabung daripada berutang,” kata Andy dikutip dari sumber yang sama.

Menurutnya, kalau utang tak direncanakan dan dikelola dengan baik, dikhawatirkan terjadi defisit neraca keuangan pribadi. Untuk memulihkan kondisi ini butuh waktu tahunan, sehingga niat untuk beli hunian bisa gagal lho!

Jadi, penting banget kamu, para milenial, bisa membedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Beli hunian itu merupakan kebutuhan, maka rencanakan sejak kamu mendapat gaji pertama. Niat punya rumah jangan sampe gagal!

rumah123.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me