Pelonggaran LTV Kredit Properti Kehilangan Momentum

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

HousingEstate.com, Jakarta – Serupa dengan para pengembang properti, pengamat juga kurang antusias menyambut kebijakan pelonggaran batas nilai kredit dibanding agunan atau loan to value (LTV) untuk pemilikan properti yang dilansir Bank Indonesia (BI) akhir Juni lalu.

Permata Bogor Residence | Foto : Susilo

Permata Bogor Residence | Foto : Susilo

Melalui kebijakan yang berlaku mulai 1 Agustus 2018 itu BI mengizinkan bank memberikan persyaratan uang muka nol persen untuk pembelian rumah/apartemen pertama secara kredit (KPR/KPA) untuk semua tipe. Sementara untuk rumah kedua dan seterusnya, uang mukanya disyaratkan minimal 10–20 persen tergantung tipe, jenis hunian dan jenis kredit yang digunakan (konvensional dan syariah akad  murabahah atau syariah akad MMQ dan IMBT).

Menurut ketentuan LTV sebelumnya (September 2016), kelonggaran depe hingga nol persen itu hanya berlaku untuk rumah tapak hingga tipe 70 dan apartemen tipe 21. Dengan kebijakan pelonggaran ini, Gubernur BI Perry Warjiyo berharap pembeli rumah pertama makin mudah mendapatkan hunian.

Selain itu aturan LTV yang baru ini juga mengizinkan penyaluran KPR inden hingga lima fasilitas tanpa melihat urutan, dari ketentuan sebelumnya yang hanya boleh sampai fasilitas atau properti kedua. Ketentuan uang mukanya sama seperti diuraikan di atas. Pelonggaran KPR inden ini diharapkan makin menggairahkan bisnis properti.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, pihaknya sudah sejak 2015 mengusulkan BI melakukan pelonggaran untuk mendongkrak bisnis properti yang lesu sejak 2014. Pasalnya, saat itu bunga kredit termasuk kredit properti (KPR/KPA) terus menunjukkan tren menurun. Penurunan itu didukung penurunan bunga acuan (BI 7 Day Repo Rate) hingga 4,25 persen pada awal 2017.

“Tapi, BI waktu itu tidak merespon usulan tersebut. Baru sekarang pelonggaran dilakukan, dan itu sudah agak telat karena dolar menguat, bunga acuan meningkat cepat selama Juni 2018, sekarang sudah 5,25 persen. Kalau sudah begini, secara berangsur bank-bank pasti juga akan menyesuaikan bunga kreditnya,” katanya kepada housingestate.com di Jakarta, Senin (2/7/2018).

Dengan demikian, kalaupun konsumen bisa membeli properti seperti rumah atau apartemen pertama secara dengan KPR/KPA tanpa uang muka, cicilannya menjadi makin besar. Pasalnya, karena dibeli tanpa depe, angsurannya pasti lebih besar. “Jadi, pelonggaran LTV kredit properti ini kehilangan momentum,” jelas Ali.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me