Industri Keramik Nasional Menanti Perlindungan (3)

Big Banner

Airlangga meminta produsen keramik melakukan diversifikasi produk dengan berbagai desain serta menggunakan motif khas Indonesia untuk meningkatkan per- mintaan dari konsumen. Bahkan, lanjut Airlangga, yang juga tidak kalah penting adalah industri keramik perlu melakukan pembaruan sarana dan prasarana penun-jang produksi. “Misalnya, memodernisasi pabrik dengan teknologi digital printing serta menggunakan peralatan yang mam-pu memproduksi keramik dengan ukuran besar sesuai tren pasar luar negeri dan domestik,” imbuhnya.

Menperin menyampaikan, industri ke- ramik dalam negeri perlu melakukan trans-formasi secara bertahap sesuai dengan perkembangan teknologi Industry 4.0 yang sedang berjalan. “Kami terus mendorong agar sektor ini mampu mengkombinasikan teknologi digital di antaranya dalam proses produksi, desain, hingga quality control,” paparnya.

Menurut Airlangga, saat ini pelaku industri di seluruh dunia sedang bertransformasi untuk menyambut era revolusi industri keempat tersebut, di mana akan menekankan platform Internet of Things dengan proses produksi secara terintegrasi. Tujuannya untuk mencari langkah-langkah efisiensi dan optimalisasi proses produksi agar mencapai hasil yang lebih maksimal.

Menperin meyakini, industri keramik Indonesia mampu berkompetisi di era perdagangan bebas dan berekspansi ke mancanegara. “Langkah strategis yang harus dijalankan, antara lain penguatan struktur industri, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), inovasi teknologi melalui research and development, serta pembangunan infrastruktur,” paparnya.

Oleh karena itu, Kementerian Perindustrian terus memacu kinerja industri keramik dalam negeri melalui pemberian berbagai insentif serta mengusulkan sebagai sektor yang harus mendapatkan harga gas kompetitif. “Industri ini membutuhan gas sebagai sumber energi yang tidak tergantikan dan tidak boleh terhenti selama 15 tahun dengan proporsi mencapai 20-26% dari struktur biaya produksi,” ungkap Airlangga.

Apalagi, menurutnya, industri keramik merupakan salah satu kelompok manufaktur yang menjadi penggerak pertumbuhan industri nasional selama 25 tahun terakhir. Sektor yang diandalkan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan industri tahun ini yang ditargetkan bisa melampaui lima persen sehingga menambah sumbangan pada perekonomian nasional.

Potensi industri keramik nasional juga ditopang dengan SDM yang kompeten, di mana jumlah serapan tenaga kerja di sektor padat karya ini sebanyak 100 ribu orang. Untuk memenuhi kebutuhan SDM yang sesuai permintaan dunia kerja, Kemenperin telah mengembangkan program pendidikan vokasi yang link and match antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri.

“Kami harapkan industri bekerja sama dengan SMK untuk menghasilkan tenaga kerja yang terampil dan terdidik, sehingga dapat langsung bekerja di industri,” tegas Airlangga. Langkah ini sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 9 tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK untuk Peningkatan Kualitas dan Daya Saing SDM Indonesia. “Kami akan memfasilitasi kerja sama dengan Italia untuk vocational training di bidang pelatihan dan pengembangan desain keramik,” tambahnya.

Kemenperin mencatat, peranan sektor industri pengolahan nasional terhadap total PDB nasional di tahun 2017 mencapai 20,16%, terbesar dibandingkan sektor lainnya sehingga menjadikan sektor manufaktur sebagai penggerak perekonomian nasional.“Untuk itu, Kemenperin giat menarik investasi di sektor industri pengolahan karena memberikan multiplier effect yang luas bagi perekonomian seperti peningkatan nilai tambah, penyerapan tenaga kerja, dan penerimaan negara,” jelas Airlangga.

Pada tahun 2017, perkembangan industri pengolahan nonmigas nasional dinilai cukup baik dengan pertumbuhan sebesar 4,84%, meningkat dibandingkan tahun 2016 sebesar 4.43%. Kinerja ekspor industri pengolahan juga mengalami peningkatan sebesar 13.14% dibanding tahun 2016 sehingga nilainya menjadi USD125,02 miliar. “Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi lagi pada tahun 2018 ini, kami menargetkan pertumbuhan sektor industri pengolahan non migas sebesar 5,67% dengan total target investasi sebesar Rp345,4 triliun,” tutur Airlangga. MPI YS

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me