Industri Keramik Nasional Menanti Perlindungan (2)

Big Banner

Sebagai upaya meredam lonjakan impor, Asaki kemudian mengajukan tindakan pengamanan perdagangan (safeguards) kepada Komite Pengamanan Perdagangan Indonesia (KPPI) yang diwakilkan oleh lima perusahaan sebagai petisioner. Sejak 29 Maret 2018 lalu KPPI mulai melakukan penyelidikan safeguards atas lonjakan volume impor ubin keramik yang masuk ke Indonesia. “Dari bukti awal permohonan yang diajukan pada 26 Maret 2018 lalu, KPPI menemukan adanya lonjakan volume impor barang ubin keramik,” kata Mardjoko, Kepala KPPI.

Ada beberapa indikasi yang mengakibatkan ancaman kerugian serius bagi industri keramik dalam negeri. Di antaranya, peningkatan jumlah barang yang tidak terjual, serta penurunan volume produksi dan penjualan domestik. Selain itu, lonjakan impor keramik ini telah berimbas pada berkurangnya jumlah tenaga kerja lantaran menurunnya produktivitas dan kapasitas terpakai pabrik. Kerugian finansial bagi industri keramik lokal juga tidak dapat terhindarkan lagi.

Dimulainya proses penyelidikan safeguard impor keramik ini tentu menjadi angin segar bagi pelaku industri dalam negeri. Edy Suyanto, Wakil Ketua Asaki berharap, proses ini dapat segera diselesaikan, sehingga impor ubin keramik dapat ditekan. Bila terbukti terjadi kecurangan pada produk keramik impor sehingga safeguard diterapkan, maka produksi keramik domestik akan kembali bergairah. Menurut Edy, meningkatnya produk impor sangat mempengaruhi kinerja industri keramik dalam negeri. “Perkiraan Asaki tahun 2017 tingkat utilisasi produksi nasional hanya sekitar 70%,” katanya.

Senada, Sekretaris Perusahaan PT Keramika Indonesia Asosiasi Tbk. Verawaty Trisno Hadijanto mengharap, penyelidikan safeguard ini membuat industri lokal terangkat lagi. “Semoga keramik lokal dapat berkembang lagi,” imbuhnya.

Meningkatkan daya saing

Menanggapi soal safeguard, Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto menyebutkan sebaiknya industri tidak hanya mengandalkan safeguard saja. “Tapi jadikan industri ini (keramik) bisa bersaing dari segi desain tidak dengan harga saja,” ujarnya. Airlangga tidak menampik bahwa industri keramik yang termasuk industri pengolahan ini menyumbang PDB yang besar bagi negara. Menurut Kemperin, sampai 2017 porsi industri pengolahan mencapai 20,16% dari total PDB nasional.

“Harapannya tahun ini investasi bisa naik, dimana target investasi industri pengolahan bisa senilai Rp345 triliun,” kata Airlangga. Tipikal industri ini menjadi perhatian pemerintah lantaran penyerapan tenaga kerjanya yang besar mencapai 150.000 pekerja.

Elisa sependapat dengan Airlangga. Menurut Elisa, produsen tetap harus meningkatkan daya saing karena safeguard tersebut relatif sementara. Safeguard merupakan salah satu pengaman industri dalam negeri dari gempuran produk impor. Namun, safeguard tidak bisa berlaku selamanya sehingga industri tidak bisa berlindung sepenuhnya pada kebijakan ini. “Biasanya kan safeguard untuk 3 tahun hingga 5 tahun, hanya sementara dalam menjaga keberlangsungan industri selama membenahi daya saing. Kami juga dorong industri keramik bisa bersaing tanpa safeguard,” ujarnya.

Menurut Airlangga, industri keramik nasional masih cukup prospektif dalam jangka panjang seiring dengan pertumbuhan pasar domestik yang terus meningkat. Peluang pengembangan sektor ini didukung pula adanya program pemerintah dalam meningkatkan infrastruktur serta pembangunan properti dan perumahan, yang diharapkan akan menggenjot konsumsi keramik nasional.“Industri keramik menjadi salah satu sektor unggulan karena ditopang oleh ketersediaan bahan baku berupa sumber daya alam yang tersebar di wilayah Indonesia,” kata Airlangga.

Airlangga menyebutkan, kapasitas pro-duksi terpasang ubin keramik nasional tahun 2016 sebesar 580 juta m2 dengan realisasi mencapai 350 juta m2. “Utilisasi-nya sekarang 65%, jadi harus ditingkatkan lagi. Kalau sudah mampu produksi 100 persen, kita bisa menjadi produsen keramik nomor empat di dunia,” tuturnya.

Dengan jumlah kapasitas produksi saat ini, sekitar 87% untuk memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri, dan sisanya diekspor ke negara-negara di kawasan Asia, Eropa dan Amerika. Sementara itu, produksi untuk jenis tableware mencapai 290 juta keping, sanitari sekitar 5,4 juta keping, dan genteng (rooftile) sebanyak 120 juta keping.

“Prospek industri keramik nasional juga dapat dilihat dari pemakaian konsumsi keramik di Indonesia yang masih lebih rendah dibandingkan di negara ASEAN lainnya. Saat ini, konsumsi keramik nasional per kapita sekitar 1,4 m2, sedangkan negara-negara di ASEAN telah mencapai lebih dari 3 m2. Untuk itu, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan mengenai peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN),” tegasnya.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me