Trend Bisnis Penyewaan Apartemen di Jakarta (1)

Big Banner

Majalah Properti edisi Juli 2018 enurunkan ulasan tentang prospek bisnis penyewaan apartemen di jakarta. Banyak pengembang secara khusus membangun apartemen untuk disewakan. Sejalan dengan kebutuhan masyarakat yang tidak sanggup memiliki hunian disebabkan mahalnya lahan di Jakarta.

Tahun ini suplai apartemen di Jakarta akan mencapai 25.410 unit, sedangkan sepanjang 2018 – 2020 mencapai 59.968 unit. Melambatnya laju perekonomian Indonesia berimbas pada penurunan jumlah pembangunan apartemen di Jakarta.

Menurut Colliers International Indonesia, sepanjang tahun 2014–2017 ada 15–30 proyek yang dilansir mencakup sembilan ribu sampai 18 ribuan unit apartemen per tahun. Sementara tahun ini diperkirakan di bawah 10 proyek.

“Sepanjang triwulan pertama 2018 ada tiga proyek yang diluncurkan mencakup sekitar 400 unit hunian,” kata Ferry Salanto, Senior Associate Director Research Colliers Indonesia.

Pertumbuhan kenaikan harga apartemen juga merosot. Kalau sepanjang 2008–2014 rata-rata mencapai 16% per tahun (dari Rp12 jutaan menjadi Rp25 jutaan/m2), tahun 2015–2020 diperkirakan hanya lima persen (dari Rp25 jutaan menjadi Rp35 jutaan/m2). Sementara harga sewanya sedikit meningkat dari Rp361.290 per m2 tahun 2015 menjadi Rp367.947/m2 pada triwulan pertama 2018.

Kalau tahun 2014 okupansi apartemen yang sudah jadi masih 77,8%, tahun 2017 turun menjadi 74,4% dan turun lagi menjadi 73,9% pada triwulan pertama 2018. Karena itu harga sewa diperkirakan tidak akan berubah dalam 1–2 tahun ke depan.

Kini, mulai banyak pengembang properti yang secara khusus membangun apartemen untuk disewakan bukannya dijual. Ferry mengatakan, perubahan tersebut disebabkan karena masih sedikit sekali pengembang yang membangun apartemen khusus untuk disewakan. Ia mencatat hanya ada 5% dari keseluruhan apartemen yang ada di Jakarta yang secara khusus dibangun untuk disewakan.

“Apartemen yang disewakan khusus untuk disewa itu ada beda loh dengan apartemen yang dijual. Kalau yang secara khusus dibangun untuk disewakan itu cuma 5% dari total apartemen di Jakarta,” ujarnya.

Menurutnya, ada beberapa pengembang besar asal negara tetangga seperti Singapura yang berminat membangun apartemen untuk disewakan. Hal tersebut menjadi angin segar bagi properti Indonesia. Sehingga, pemerintah harus mendorong agar lebih banyak lagi pengembang asing yang berinvestasi properti di Indonesia.

“Orang yang mau investasi biarin saja karena mereka akan stop investasi ketika market sudah lesu. Terutama kelas menengah dan atas. Sekarang ini masalah pajak membuat pasar mikir-mikir untuk beli apartemen baru,” jelasnya.

Menurut Ferry, saat ini harga sewa apartemen yang secara khusus dibangun oleh developer masih belum ada kenaikan yang signifikan bahkan cenderung stabil. Sehingga okupasi dari sewa apartemen terus meningkat. “Harga sewa itu cenderung mendatar kalau mengikuti pasar.

Kalau dia apartemen yang tidak dioperasikan yang punya nama, maka harga sewa itu akan mengikuti pasar. Biasanya dia akan bersaing dengan apartemen strata pemilik individu. Jadi kalau kita lihat walaupun market belum terlalu baik harga ini masih stabil,” jelasnya.

Namun untuk pengembang internasional lanjut Ferry, ada sedikit perbedaan harga dibandingkan sewa yang ditetapkan oleh pengembang lokal. Harga sewa apartemen yang dikembangkan developer internasional relatif lebih mahal karena mengikuti ketentuan dari perusahaan pusat.

“Kalau apartemen internasional itu dia punya standar harga yang harus diikuti oleh pusatnya di sana,” ucapnya.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me