Lipsus MPI Berharap Pertumbuhan Ekonomi dari Kawasan Industri Baru

Majalah Properti Indonesia (MPI) belum lama ini menurunkan Liputan Khusus (Lipsus) tentang perkembangan Kawasan Industri (KI) sebagai salah satu pilar yang diharapkan mampu menggerak perekonomian Indonesia. Terjadinya penurunan serapan properti di kawasan industri sedikit banyak berpengaruh terhadap perlambatan ekonomi Indonesia yang berada di angka 5%. Meski terjadi sedikit peningkatan permintaan kawasan industri pada periode 2016-2017, namun justru belum terlihat signifikan. Bahkan, hingga tahun 2018 ini geliat sektor industri diperkirakan tak berbeda jauh dengan tahun 2017.

Menurut data konsultan properti Colliers International Indonesia, penjualan lahan industri Jabodetabek sepanjang kuartal pertama tahun 2018 terindikasi mengalami pelemahan yang semakin dalam. Penjualan lahan industri di kuartal pertama tahun ini masih kurang dari 10 hektare.

Penjualan terbesar dari kawasan industri ModernCikande milik PT Modernland Realty Tbk. (MDLN) seluas 3,55 hektare yang disusul MM2100 seluas 2,52 ha lalu Karawang International Industrial City (KIIC) seluas 1,8 ha. Selebihnya, penjualan kawasan industri dari 4 perusahaan tidak lebih dari 1 ha.

Sementara laporan hasil penjualan kawasan industri hingga kuartal kedua tahun 2018 masih belum dirilis, karena ada beberapa perusahaan yang belum memberikan data kinerja penjualan. “Dibandingkan tahun lalu (2017) memang terjadi penurunan, tapi jika dibandingkan dengan penjualan kuartal pertama tahun 2018 ada sedikit peningkatan. Namun angkanya kita tunggu datanya masuk,” jelas Rivan Munansa, Director Collier International Indonesia pada Properti Indonesia.

Guna memacu pertumbuhan ekonomi khususnya pertumbuhan di sektor industri, Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian mendorong pengembangan kawasan industri. Pelaksana Tugas Direktur Jenderal (Dirjen) Pengembangan Perwilayahan Industri (PPI) Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, saat ini 10 kawasan industri baru sudah beroperasi, ada tiga tambahan kawasan industri yang menyusul akan selesai pembangunannya di 2018.

Dengan demikian di tahun 2018 ada 13 kawasan industri yakni Kawasan Industri Morowali Sulawesi Tengah, Bantaeng Sulawesi Selatan, JIIPE Gresik Jawa Timur, Kendal Jawa Tengah, Wilmar Serang Banten, Dumai Riau, Konawe Sulawesi Tenggara, Ketapang Kalimantan Barat, Tanjung Buton Riau. Selain itu ada juga Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei Sumatera Utara, Palu Sulawesi Tengah, Bitung Sulawesi Utara, Lhokseumawe Aceh.

Pengembangan kawasan yang masuk ke dalam program prioritas nasional memperoleh dukungan pendanaan dari APBN. Pemerintah siap menggelontorkan anggaran senilai Rp269,1 triliun dari RAPBN 2018. Sementara pada 2019, ditargetkan lima kawasan industri yang bakal dibangun, artinya tahun 2019 sudah ada 18 kawasan industri baru yang beroperasi.

Dukungan pemerintah diwujudkan dengan memberikan kemudahan berinvestasi di dalam kawasan industri seperti melalui pemberian insentif fiskal dan nonfiskal serta pembentukan satgas untuk penyediaan gas, listrik, air, SDM, lahan, tata ruang, dan lain-lain. Secara keseluruhan proyeksi investasi di industri sektor manufaktur pada tahun ini mencapai Rp352 triliun.

Jika semua kawasan industri yang telah dibangun dapat beroperasi dengan maksimal. Realisasi investasi kawasan industri di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (Jabodetabek) tahun 2018 tak akan jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan angka penjualan lahan di kawasan industri Jabodetabek hingga akhir 2018 bisa mencapai 250 ha atau sekitar Rp2,5 – Rp5 triliun dengan perkiraan harga lahan Rp1- Rp2 juta/m2. “Paling tidak kami berusaha capaian di tahun 2017 tidak menurun pada 2018,” kata Sanny Iskandar, Ketua Umum Himpu nan Kawasan Industri Indonesia.

Prediksi dari HKI ini sinkron dengan hasil kajian konsultan properti Chusman and Wakefield yang menyebutkan harga lahan kawasan industri di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, bertumbuh 0,3% secara tahunan. Industri yang diproyeksikan masuk ke kawasan Jabodetabek masih akan didominasi sektor makanan dan minuman serta farmasi.

Sementara itu, menurut Head of Research & Consultancy PT Savills Consultants Indonesia, Anton Sitorus mengungkapkan prospek bisnis pengembangan kawasan industri akan semakin membaik ke depan. Para pebisnis melihat prospek tersebut berdasarkan permintaan yang mulai meningkat.

“Permintaan ada tapi pasokan enggak ada, hal ini yang mungkin membuat kawasan industri banyak dibangun, seperti dari sektor consumer good, e-commerce, distribusi online, dan jasa yang semakin meningkat. Sehingga banyak daerah-daerah selain di Jabodetabek, Cikarang, dan Karawang yang sekarang juga muncul di daerah lain seperti Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Makassar,” terang Anton.

Menurut Anton, kawasan industri yang unggul dapat dilihat dari fasilitas yang tersedia baik di dalam maupun di luarnya. Terlebih, jika kawasan industri mendapat dukungan penuh dari pemerintah sehingga dapat berjalan dengan baik dan akan menunjang konektivitas di kawasan tersebut, seperti melalui infrastruktur jalan, water plan, hingga lokasi yang dekat dengan pelabuhan.

Meski demikian, Anton mengatakan jika dilihat dari fasilitasnya, kawasan industri di Jawa dan kota-kota besar yang infrastrukturnya sudah terpenuhi. Dengan demikian sudah tepat langkah pemerintah membuka kawasan industri diberbagai daerah di Indonesia. Saat ini proporsi luas lahan terbangun untuk kawasan industri antara di Jawa dan luar Jawa mencapai 60:40. (BERSAMBUNG)

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com