Peta Pengembangan Industri di Wilayah Jawa Barat

Big Banner

Jawa Barat adalah salah satu wilayah yang cukup gencar melakukan pembangunan kawasan industri. Hal ini juga didukung pemerintah dengan dibangunnya konektivitas menuju kawasan industri di wilayah tersebut, seperti pembangunan Tol Susun Jakarta-Cikampek, Patimban Deep Port, Bandara Internasional Kertajati, Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung, LRT Jakarta-Bekasi, dan Tol Trans Jawa.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, ada sekitar 2.381,97 ha lahan yang tengah dikembangkan menjadi sepuluh kawasan industri baru bertaraf nasional dan internasional di wilayah Jawa Barat. Dari jumlah tersebut, 851,97 ha atau sekitar 35% berada di wilayah Karawang.

Di Karawang, dukungan pemerintah daerah akan pembangunan kawasan industri terlihat dengan hadirnya Karawang New Industry City (KNIC) yang dapat menjadi percontohan bagi kawasan industri di luar pulau Jawa yang ingin mengembangkan kawasan industrinya. KNIC salah satu pengembangan kota industri terintegrasi kelas dunia, di mana keberadaan kota industri ini diharapkan dapat mendorong inovasi dan turut berkontribusi meningkatkan pertumbuhan ekonomi daerah serta menciptakan multiplier-effect yang bermanfaat bagi perkembangan sosio-ekonomi di Karawang dan daerah sekitarnya.

Selain Karawang, Subang, dan Purwakarta juga banyak dijadikan kawasan industri. Menurut Rivan Munansa terus meningkatnya harga lahan di Jabodetabek membuat banyak pengembang menggarap kawasan Subang dan Purwakarta dan Karawang. “Option mencari lahan yang lebih murah menggiatkan pembangunan kawasan industri diluar Jabodetabek.

Subang terkesan jauh untuk transportasi, namun dengan adanya akses tol menjadi mudah ditempuh. Pengembangan di luar Jabodetabek hingga luar jawa selain harga yang masih terjangkau juga gaji buruh dengan UMR tidak setinggi Jabodetabek sehingga tidak memberatkan pengusaha,” ujar Rivan.

Sudah ada beberapa pengusaha yang kavling lahan di sekitar Subang terutama yang dekat dengan exit tol. Selain itu juga di kawasan pelabuhan internasional Patiban. Selain itu dengan dibukanya Bandara Internasional Kertajati bisa mempercepat pertumbuhan kawasan industri di kawasan Jawa Barat.

Sanny Iskandar mengatakan selama ini kawasan industri Jabar hanya dikembangkan di wilayah utara bagian barat, seperti Bekasi dan Karawang. Saat ini, kawasan tersebut sudah mulai jenuh sehingga pengembangan selanjutnya mengarah ke timur. “Jadi tidak hanya Jabar utara bagian barat saja yang berhasil, tetapi juga yang bagian timur meliputi Purwakarta, Subang, Majalengka, Indramayu, dan Cirebon. Nanti akan dibangun beberapa kawasan di sana,” ujarnya.

Selain sebagai pemerataan, Sanny menuturkan pemerintah ingin arus barang tidak hanya terpusat di Tanjung Priok, tetapi juga di Pelabuhan Patimban, Subang. Saat ini Pelabuhan Patimban masih dalam tahap konstruksi dan ditargetkan mulai beroperasi pada Maret 2019.

Tidak hanya pelabuhan, pemerintah juga membangun Bandara Kertajati di Majalengka, yang sudah dibuka jelang Lebaran lalu, dan jalan tol Jakarta-Cikampek yang menyambung ke Cipali hingga Cirebon sebagai dukungan infrastruktur pengembangan kawasan industri Jabar utara bagian timur.

Saat ini, sudah terdapat lima hingga enam pengembang yang mulai melakukan pembebasan lahan dan diperkirakan akan terus bertambah. Menurut Sanny, industri akan mulai bergeser ke Jabar utara bagian timur pada 2020. “Paling sedikit ada 10 kawasan industri di sana dengan variasi luas antara 200 hektare sampai 2.000 hektare. Di Bekasi dan Karawang sekarang ada 22 kawasan industri,” jelasnya.

PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI) menargetkan untuk dapat mulai membangun kawasan industri seluas 3.900 ha di Subang, Jawa Barat pada awal tahun 2019. Persiapan dari pembangunan kawasan industri tersebut sudah mulai dilangsungkan sejak awal tahun 2018 ini. Direktur Utama PT RNI B. Didik Prasetyo mengatakan, tahun ini pihaknya menyiapkan belanja modal (capex) sebesar Rp4,5 triliun untuk pengembangan RNI Group. “Dana tersebut akan digunakan untuk investasi rutin, terutama yang paling besar adalah rencana kita untuk membentuk kawasan industri di Subang sebanyak Rp3 triliun,” ujar Didik.

Didik menargetkan, pada 2020 sudah ada industri yang masuk ke kawasan tersebut. Kawasan Subang dipilih karena dinilai akan menjadi pusat-pusat pertumbuhan industri baru. Lokasi kawasan industri ini nantinya dekat dengan Bandara Kertajati serta Pelabuhan Patimban. Untuk target pasar, kawasan industri tersebut antara lain menyasar Jepang dan Korea.

Pemerintah Kabupaten Subang tengah menyiapkan 5 titik kawasan industri untuk menunjang keberadaan Pelabuhan Patimban. Bupati Subang Imas Ariyumningsih mengatakan penyiapan kawasan industri sudah direncanakan dan dirancang dengan melakukan revisi rencana tata ruang dan wilayah Subang. Kelima kecamatan tersebut menurut Imas yakni Cibogo, Pagaden, Cipunegara, Purwadadi, dan Pabuaran.

Kabupaten Subang akan membangun kawasan industri di lahan seluas 10.000 ha berkapasitas 1,5 juta TEUS di mulut Pelabuhan Patimban sehingga mempermudah distribusi logistik. Pembangunan kawasan industri akan dimulai tahun 2018 dan diharapkan tuntas dalam delapan tahun
pada 2026.

Kapasitas logistik Pelabuhan Patimban yang akan dibangun mencapai 7,5 juta TEUS (satuan ukuran sebesar container 20 feet) di lahan seluas 50.000 hektare yang ditargetkan rampung pada 2026. Hanya, saat ini luas lahan yang memungkinkan dibangun di Kabupaten Subang sekitar 10.000 ha dengan kapasitas sekitar 1,5 juta TEUS hingga tahun 2026. Sementara 40.000 ha sisanya akan disuplai oleh daerah lain yang ada kawasan industri, seperti Karawang, Bekasi, dan Tangerang

Sementara itu pengembang ternama PT Surya Semesta Internusa Tbk salah satu yang terlihat agresif melakukan ekpansi bisnis kawasan industri tahun ini. Setelah mendapatkan tambahan modal dari penjualan kepemilikan di Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) kepada PT Astratel Nusantara senilai Rp2,56 triliun. Perolehan dana jumbo ini membuat bebas bernafas melakukan ekspansi di kawasan industri.

Tahun ini, Surya Semesta Internusa menargetkan akuisisi lahan di Subang sebanyak 500 ha. Jika hingga akhir tahun lalu, SSIA telah berhasil membebaskan lahan 531 ha, maka pada akhir tahun ini, SSIA berharap akan menguasai 1.031 ha di kawasan industri tersebut. Sejak 2014, SSIA sudah mengantongi izin lokasi lahan industri baru di Subang seluas 2.000 ha. Namun lantaran pembebasan lahan lambat, maka peluncuran kawasan ini ditunda ke tahun 2019.

SSIA juga tengah gencar melakukan ekspansi usahanya dalam tiga tahun ke depan dengan berinvestasi senilai Rp4 triliun untuk mengembangkan kawasan industri di Subang dan keterlibatan dalam proyek jalan tol Patimban sepanjang 41 kilometer, Jawa Barat. Dana sebesar Rp4 triliun tersebut terdiri dari Rp1,5 triliun untuk pembebasan lahan kawasan industri sebanyak 800 ha, pembangunan di kawasan industri seluas 400 hektare sebanyak Rp2 triliun dan untuk proyek jalan tol sebanyak Rp500 miliar.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com