Peta Pengembangan Industri di Wilayah Luar Jawa

Big Banner

Data Kemenperin menunjukkan hingga akhir 2017, di Jawa terdapat 57 kawasan industri. Sementara itu, di Sumatera ada 21 kawasan industri, Sulawesi (4 kawasan industri), dan Kalimantan (5 kawasan industri).

Seacra nasional jumlah kawasan industri melonjak dari 74 menjadi 87 kawasan dengan luasan hingga 59.700 hektar. Sebanyak lebih dari 40 persen peningkatan jumlah dan luas kawasan industri tersebut terjadi di luar Pulau Jawa. “Untuk kawasan industri di luar Jawa mengalami peningkatan luas dari 28,01 persen pada 2014 menjadi 42,42 persen pada 2017,” kata Airlangga Hartarto.

Airlangga menambahkan, Kemenperin bakal terus mendorong pengembangan kawasan industri terutama di luar Pulau Jawa. Hal tersebut merupakan upayanya untuk mempercepat pemerataan pembangunan nasional. Adapun tingginya angka pertambahan dan perluasan kawasan industri di luar Pulau Jawa tak terlepas dari masih banyaknya ketersediaan lahan di luar Pulau Jawa. “Karena ketersediaan lahan di luar Jawa masih relatif luas, maka peningkatan persentase luas kawasan industri di luar Jawa lebih tinggi dibanding di Jawa,” imbuh Airlangga.

Sejumlah konsorsium swasta juga berminat mengembangkan kawasan industri di lokasi-lokasi strategis di luar Jawa. Salah satunya adalah Grup Bakrie, yang berambisi membangun kawasan industri berbasis logam senilai US$ 2 miliar di Kalimantan Timur. Bakrie menggandeng investment banking dan industri manufaktur asal Tiongkok, serta merangkul pengelola kawasan industri ternama Thailand. Di kawasan industri terpadu ini akan dibangun industri baja, alumunium, industri otomotif, dan pembangkit listrik. Kaltim dipilih sebagai lokasi karena dekat dengan lokasi
tambang batubara Kaltim Prima Coal (KPC) milik Grup Bakrie.

Itulah tren baru konsep kawasan industri, terutama yang berbasis di luar Jawa. Kawasan industri dibangun di dekat sumber energi. Strategi ini akan mendorong efisiensi, karena pabrik-pabrik yang berada di kawasan industri bakal terjamin oleh pasokan energi dengan harga murah. Terlebih lagi bila pabrik-pabrik di kawasan industri merupakan jenis industri yang mengonsumsi energi dalam jumlah besar, seperti pabrik baja atau semen.

Tumbuhnya kawasan industri di luar Jawa yang dikelola secara profesional tentu akan menciptakan sumber-sumber pertumbuhan ekonomi regional yang baru. Bahkan bila memungkinkan, kawasan industri itu bisa naik status menjadi kawasan ekonomi khusus. Penyebaran lokasi kawasan industri di luar Jawa diharapkan pula mempersempit kesenjangan spasial antara Jawa dan luar Jawa.

Sementara itu kawasan industri juga sedang dikebut, salah satunya kawasan industri kelautan dan perikanan (KIK) Paser yang diintegrasikan dengan KIK Bulumuning di Kabupaten Penajam Paser Utara, dan KIK Kariangau di Kota Balikpapan.

“Sejak lama kami ingin setiap daerah memiliki sektor unggulan berupa industri ramah lingkungan. Di mana, industri tersebut tidak lagi harus bergantung pada sumber daya yang tak terbarukan,” kata Awang Faroek.

Ke depan pihaknya bertekad untuk melakukan ekspor langsung hasil perikanan ke beberapa negara tujuan seperti, Amerika, Inggris, Uni Emirat Arab, Jepang, China, Taiwan, Hongkong, Singapore, Vietnam dan Thailand. Kaltim sejauh ini diklaim sudah bisa mencapai swasembada dan bahkan sudah melakukan ekspor sejak beberapa tahun lalu.

Peta Pengembangan Kawasan Industri 4.0

Industri adalah salah satu penopang pertumbuhan ekonomi di Inodnesia. Kinerja sektor industri diharapkan terus tumbuh guna roda perekonomian berjaalan kencang. Pemerintah mengharapkan indonesia bisa menjadi salah satu negara industri, Menteri perindustrian Airlangga Hartanto mengatakan, indoensia bisa menjadi Negara industrri 2035

Menurut Airlangga, Kontribusi sektor manufaktur industri sekitar 18% terhadap PDB, jasa yang terkait industri 12%, kegiatan industrri dibidang jasa 30% (bengkel, after sales, distribusi). “Target 2018 Pertumbuhan range 4,9-5,2%. Sementara itu, kontribusi industri lebih dr 30% sehingga bisa mendukung peningkatan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

Guna meningkatkan kinerja dari kawasan industri, pemerintah akan meningkatkan jaringan internet 5G di kawasan industri. Terkait hal tersebut, Kemenperin telah berkoordinasi dengan Kemenkominfo membahas regulasi serta menggandeng PT Telkom selaku operator penyedia layanan internet.

Menurut Airlangga, dalam upaya penerapan jaringan internet 5G di kawasan industri tersebut, saat ini masih dirancang peta wilayah pemasangannya. “Industri 4.0 membutuhkan kecepatan data hingga 5G. Kalau datanya pakai yang lemot, ketika mau lihat proses di pabrik dan yang tampil di monitor akan ada time lag, waktu yang tidak cocok,” ungkapnya.

Airlangga mengatakan memasuki era digital saat ini, industri harus diimbangi dengan kualitas jarigan Internet yang cepat. Pemasangan jaringan Internet 5G tersebut terkait dengan pelaksanaan peta jalan Making Indonesia 4.0. Adapun, dalam peta jalan Making Indonesia 4.0 terdapat lima sektor pengembangan industri manufaktur yang akan menjadi percontohan, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, serta elektronik.

Salah satu kawasan industri yang juga dilengkapi dengan teknologi 4.0 adalah kawasan industri yang akan dibangun seluas 3.900 hektar (ha). Kawasan tersebut akan digunakan oleh industri-industri dengan berbasis teknologi tinggi (high technology) dan industri pintar (smart industry) sesuai arahan dari Dewan Ekonomi Nasional. Menurut Direktur Inovasi dan Pengembangan PT RNI Djoko Retnadi, kawasan industri ini bisa berkembang seperti Sillicon Valley di Amerika Serikat. MPI DR

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com