Dengan Skim Baru Penyaluran KPR FLPP 2018 Bisa Dinaikkan Jadi 72.000 Unit

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Untuk pembelian atau pemilikan rumah sederhana bersubsidi secara kredit (KPR/KPA), pemerintah menyediakan beberapa skim kredit bersubsidi. Yaitu, KPR dengan skema fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (KPR FLPP) dan subsidi selisih bunga (KPR SSB) dengan bunga fixed (tetap) 5 persen per tahun selama masa (tenor) kredit 15–20 tahun tergantung jenis hunian. KPR bersubsidi itu masih ditambah dengan subsidi bantuan uang muka (SBUM) senilai Rp4 juta/debitur.

 

Ilustrasi

Ilustrasi

Untuk KPR FLPP, tahun ini alokasi dananya dari APBN mencapai Rp2,18 triliun untuk membiayai 42.000 unit rumah. Namun, karena realisasi penyaluran KPR FLPP 2017 jauh dari target, ada dana luncuran Rp2 triliun yang bisa dialokasikan untuk KPR FLPP 2018, ditambah target pengembalian pokok dana FLPP yang disalurkan tahun-tahun sebelumnya senilai Rp2,3 triliun, sehingga total tersedia Rp6,48 triliun untuk KPR FLPP 2018 yang cukup untuk membiayai 60.625 rumah bersubsidi.

Selama ini bank penyalur KPR FLPP menerima suntikan dana super murah dari pemerintah (cq Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat/PPDPP Kemenpupera) sebesar 90 persen dari nilai pokok kredit yang disalurkan. Dana pokok kredit dengan bunga 0,5 persen per tahun itu kemudian di-mix dengan 10 persen pokok dana kredit yang disediakan sendiri oleh bank penyalur KPR, sehingga memungkinkan bank mengenakan bunga KPR FLPP 5 persen per tahun.

Sekarang karena anggaran negara (APBN) kian ketat, skema pendanaan KPR FLPP itu diubah menjadi 75 persen PPDPP dan 25 persen bank penyalur KPR. Supaya bank tetap bisa memberikan bunga 5 persen per tahun, sebagian dari porsi dana yang 25 persen yang harus disediakan bank itu, akan disediakan BUMN PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) juga dengan bunga super murah.

“Sumber dananya dari sebagian dana penyertaan modal pemerintah di SMF yang saat ini mencapai Rp6 triliun. Bunganya 4,44 persen per tahun. Skim baru ini akan berlaku mulai 20  Agustus 2018,” kata Heliantopo, Direktur PT SMF, dalam diskusi “Skema (Baru) FLPP dan Realksasi LTV Gairahkan Pasar Perumahan” yang diadakan Forum Wartawan Perumahan Rakyat (Forwapera) dan Bank BTN di Bogor, Sabtu (4/8/2018).

Pembicara lain diskusi itu adalah Direktur Utama PPDPP Budi Hartono, Managing Director Bank BTN Budia Satria, Direktur Pola Pembiayaan Ditjen Pembiayaan Perumahan Kemenpupera Didik Sunardi, Sesditjen Pembiayaan Perumahan Kemenpura Irma Yanti, dan Wakil Ketua Umum DPP REI Umar Husin.

Menurut Heliantopo, dengan biaya dana atau cost of fund (CoF) yang diberikan SMF itu, porsi dana pemerintah (PPDPP) bisa diturunkan menjadi 75 persen, tanpa mengurangi profit margin bank dalam penyaluran KPR FLPP sebesar 1,36 persen, serta risk premium, overhead bank, premi asuransi, dan bunga KPR masing-masing tetap 0,3 persen, 1,5 persen, 0,25 persen, dan 5 persen.

Selain itu bila bank mengambil pinjaman berbunga sangat lunak itu dari SMF, kapasitas penyaluran KPR bersubsidi dengan skim FLPP juga meningkat dari semula 60.625 unit menjadi 72.225 unit dengan asumsi harga rumah rata-rata Rp120 juta/unit, karena membesarnya porsi dana yang harus disediakan bank/SMF. “Namun, kalau bank punya dana yang lebih murah sehingga tidak merasa perlu meminjam ke SMF agar tetap bisa menyalurkan KPR FLPP dengan bunga lima persen per tahun, juga tidak apa-apa,” ujarnya.

Bank BTN sebagai bank penyalur pembiayaan perumahan terbesar di Indonesia dan paling expert dan karena itu sangat mendominasi penyaluran KPR bersubsidi, dan mulai semester dua tahun ini kembali diikutkan dalam penyaluran KPR FLPP, disebutnya sudah setuju mengambil pinjaman lunak dari SMF itu.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me