Relaksasi LTV; Menggairahkan Pasar atau Ciptakan Spekulan

Big Banner

Majalah Properti Indonesia (MPI) edisi Agustus 2018 menurunkan laporan utama tentang pelonggaran kebijakan rasio loan to value (LTV) untuk kredit properti dan rasio financing to value (FTV) bagi pembiayaan properti. Caranya dengan memperkecil nilai uang muka kredit properti bagi pembelian rumah pertama untuk semua tipe hingga nol persen.

Kebijakan ini bertujuan menggairahkan kembali bisnis properti tanah air. Namun ada juga kekuatiran kebijakan ini justru melahirkan banyak spekulan, yakni membeli produk properti bukan untuk ditempati tetapi untuk dijual kebali. Sebab kebijakan ini memberikan kekebabasan bank memperkecil nilai uang muka kredit properti bagi pembelian rumah pertama untuk semua tipe hingga nol persen.

Dampak pelonggaran ini BI memproyeksi pertumbuhan Kredit Perumahan Rakyat (KPR) hingga akhir 2018 dapat terdorong sekitar 14 %. Sementara, di satu sisi, kebijakan ini justru ditanggapi secara dingin oleh beberapa pelaku usaha properti. Mengapa?

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengatakan, kebijakan yang mulai berlaku per 1 Agustus 2018 tersebut dilakukan untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi dan stabilitas sistem keuangan dengan tetap memperhatikan aspek kehati-hatian dan perlindungan konsumen di sektor properti.

“Esensinya kami membebaskan LTV. Untuk pembelian rumah kedua 80-90 persen, terkecuali untuk tipe di bawah 21 meter persegi yang memang bebas LTV-nya,” jelas Perry. Kebijakan tersebut katanya dapat meningkatkan kesempatan pada masyarakat untuk memenuhi kebutuhan rumah pertama mereka melalui skema KPR. Ia menekankan relaksasi LTV bukan berarti memberlakukan DP 0 persen, melainkan, menyerahkan mekanisme penentuan besaran uang muka KPR kepada masing-masing bank.

“LTV untuk rumah pertama kami tidak mengatur besarnya, melainkan ditentukan masing-masing bank sesuai praktek manajemen resiko yang ada,” ungkap Perry.

Senada dengan Perry Warjiyo, Ketua Umum DPP Real Estat Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata, berharap jika kebijakan relaksasi LTV yang digulirkan oleh BI dapat menjadi sebuah titik balik atau reborn bagi para perusahaan properti yang sedang mengalami penurunan dari sisi penjualan maupun performance.

“Kami berharap LTV ini bisa menjadi sebuah semangat baru bagi para pengembang untuk dapat kembali berkarya,” ujar Kang Eman—biasa ia disapa.

Direktur Ciputra Group Agussurja Widjaja, mengaku jika kebijakan relaksasi LTV sangat baik, karena bank memiliki kewenangan untuk mengelola resikonya masing-masing. Bagi developer yang mempunyai reputasi baik, tentu bank akan mempertimbangkan untuk memberikan KPR dengan Dp serendah mungkin, karena keyakinan nilai pasar dari rumah yang dijualnya akan meningkat.

Menurut Agus, kebijakan tersebut juga akan berpengaruh dalam menggairahkan pasar properti di dalam negeri.

“Meskipun, tetap diperlukan kebijakan-kebijakan pemerintah lainnya untuk menciptakan pra kondisi pasar properti yang lebih bergairah, misalnya saja suku bunga yang rendah, nilai tukar rupiah yang stabil, keadaan sosial politik yang kondusif, dan juga peningkatan daya beli masyarakat, sehingga keyakinan pembeli rumah (consumer confidence) menjadi lebih besar,” ungkap Agus.

Hendra Hartono, CEO Leads Property Services Indonesia, mengatakan, kebijakan relaksasi LTV yang digulirkan BI merupakan langkah yang tepat untuk meningkatkan penjualan produk hunian yang sempat melambat dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini dikarenakan kebijakan tersebut memungkinkan konsumen membeli properti dengan nilai uang muka yang lebih rendah dibanding aturan LTV sebelumnya.

Meski begitu, Hendra tak menampik jika kebijakan relaksasi LTV tersebut justru memunculkan tantangan baru bagi Pemerintah. Misalnya, bila produk hunian dibeli oleh investor dengan motif spekulasi, bukannya end-user (pengguna langsung). Sebab, dengan aturan LTV ringan tersebut, membuat spekulan dapat membeli hunian dengan jumlah yang cukup banyak. Sehingga menyebabkan permintaan semu yang pada gilirannya berpotensi menciptakan bubble property. MPI Riz.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me