Tren Berburu Lahan Seputar Tol Medan-Binjai

Big Banner

Majalah Properti Indonesia edisi Agustus 2018 mengulas tren pengembang yang berburu lahan potensial di sekitar jalan tol. Tak terkecuali di luar pulau Jawa, seperti medan Sumatera Utara. Sejak beroperasinya tol Medan-Binjai seksi 2-3 sepanjang 10,5 Km sejak pertengahan Oktober 2017 lalu mulai membawa dampak positif terhadap geliat bisnis properti di sejumlah kawasan yang dilalui jalan tol tersebut.

Wakil Sekretaris Jenderal DPP Realestat Indonesia (REI), Dhody Thahir mengungkapkan sebagian besar kawasan yang dilalui jalan tol Medan-Binjai merupakan sentra-sentra pertumbuhan ekonomi baik industri maupun perdagangan.

“Dengan ditambah akses tol, maka ini memberikan pengaruh positif terhadap sektor properti di kawasan itu. Saya memperkirakan pembangunan proyek properti di situ akan semakin marak,” papar Dhody.

Bila keseluruhan tol Medan-Binjai rampung, maka waktu tempuh dari Medan ke Binjai atau sebaliknya akan semakin singkat, yaitu 10-20 menit. Layaknya Bogor, Bekasi, atau Serpong bagi Jakarta, menurut Dhody, nantinya Binjai akan menjadi kota satelit atau penyangga penting bagi Kota Medan.

“Nantinya Binjai akan menjadi seperti kawasan Bodetabek di Jakarta. Masyarakat kerja di Medan tetapi tinggal di Binjai dan sekitarnya. Apalagi kedua kota ini juga sudah ditunjang sarana kereta api. Ini akan mempercepat pertumbuhan pusat ekonomi baru di Sumut,” kata Dhody yang juga pengembang senior di Sumatera Utara tersebut.

Harun Hajadi, Direktur Ciputra Group menilai semua pembangunan infrastruktur akan memberikan potensi positif terhadap suatu daerah, termasuk pembangunan jalan tol. Menurutnya, daerah sepanjang jalan tol akan bertumbuh dan yang paling diuntungkan tentu sekitar exit tol.

Menurut CEO Indonesia Property Watch (IPW), Ali Tranghanda, keberadaan infrastruktur publik, seperti transportasi massal dan jalan tol menjanjikan mobilitas masyarakat semakin baik sehingga menyulut kemunculan pusat-pusat ekonomi baru. “Buntutnya, harga properti hunian di daerah-daerah yang dilewati transportasi massal dan tol bisa terdongkrak,” ujar Ali.

Menurut Ali, properti di kawasan transportasi massal bisa membawa untung beberapa kali lipat. “Paling tidak, kenaikan harga properti bisa terjadi dua kali. Pertama, saat ada rencana pembangunan. Lalu, kedua, setelah proyek jadi,” kata Ali. Biasanya, sebelum transportasi massal beroperasi, rata-rata kenaikan harga properti di daerah-daerah tersebut hanya naik sekitar 10% dampai 15% per tahun.

Namun, jika transportasi publik telah beroperasi, kenaikannya lebih besar lagi. “Kenaikannya bisa berkisar 15% sampai 20%. Dengan catatan, proyek sudah beroperasi,” ujar Erwin Karya, Associate Director Ray White Indonesia. Keuntungan lainnya, keberadaan properti yang dekat dengan transportasi massal atau jalan tol laiknya magnet. Itulah kenapa, pada iklan-iklan properti, fasilitas itu menjadi “jualan” pengembang. Contohnya, hanya 10 menit dari gerbang tol.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com