Berbeda dengan Jakarta, Bisnis Hotel di Surabaya Cenderung Stagnan

Big Banner

Sementara itu, tingkat hunian hotel di Surabaya jauh lebih rendah dibandingkan dengan Jakarta dan Bali. Seperti halnya di Jakarta, di Surabaya juga tidak ada pasokan hotel baru selama kuartal kedua tahun 2018. Hal ini dikarenakan pengembang sadar jika okupansi masih belum terlalu bagus.

Christiane Doris Wasfy, General Manager of Hotel Ciputra World Surabaya mengatakan jika perkembangan hotel di Surabaya lebih banyak pada segmen hotel bintang 3 dan 4. Hal ini tak lepas dari adanya penurunan tingkat hunian pada hotel bintang 5 setahun terakhir ini.

Perubahan kebijakan pemerintah membuat pejabat pemerintah dan perusahaan banyak memilih hotel bintang 3 dan 4 dibandingkan hotel bintang 5. “Tren perkembangan hotel di Surabaya cenderung stagnan beberapa tahun terakhir meski belum adanya penambahan pasokan kamar baru,” jelasnya.

Guna bertahan di bisnis hotel, berbagai langkah pun dilakukan, salah satunya fokus memberikan service excellence, kuslitas produk yang unik dan unggul di sektor hospitality. Senada dengan Christiane, Luke Rowe, Head of Residential-Hotel-Advisory JLL mengatakan tidak ada hotel bintang 5 baru baik di Jakarta maupun Surabaya.

Terakhir tahun 2014 adanya suplai mewah seperti Westin, Raffles, Four Seasons dan Fairmont. “Pasar hotel bintang 5 saat ini sudah kelebihan pasokan, itulah mengapa saat ini ada hotel bintang 5 yang ditawarkan dengan tarif hotel bintang 4,” terangnya.

Lebih lanjut ia mengatakan jika permintaan hotel sangat bergantung pada lokasi dan aksesibilitas dan beberapa lokasi, seperti SCBD, lebih unggul daripada yang lain karena rasio perusahaan ke hotel. MPI DR

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me