Masuk Semester II-2018 Bisnis Hotel, Okupansi Mulai Menggeliat Naik

Big Banner

General Manager Corporate Business and Communication PT Grahawita Santika (Santika Hotels & Resorts) Sudarsana mengatakan, memasuki semester II-2018 sudah terasa ada kenaikan permintaan terhadap hotel. “Bagus, trennya positif pada tahun ini,” katanya.

Sudarsana menyebutkan, tahun politik bisa mengerek permintaan hotel. Pasalnya, sejumlah instansi baik swasta maupun pemerintahan mulai sibuk berburu ruang untuk keperluan meeting. Adanya keperluan pertemuan ini juga berpengaruh terhadap permintaan penginapan.

Sudarsana yakin, tren ini bakal terus berlangsung hingga musim pemilu 2019. Ia pun optimistis pertumbuhan pengguna hotel tahun ini secara persentase akan naik menjadi dua digit. Indikasinya, okupansi atau tingkat keterisian hotel bertumbuh di hari-hari sibuk, khususnya hotel di Jakarta dan Surabaya.

Senior Associate Director Colliers International, Ferry Salanto mengamini bahwa momentum pilkada, pemilihan legislatif dan pilpres diprediksi akan terjadi peningkatan okupansi. “Asian Games bisa mendongkrak tingkat hunian kamar hotel di Ibukota.

Kementerian Pariwisata memperkirakan gelaran Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang akan mendatangkan wisatawan hingga 700 ribu orang,” ujar Ferry. Karena itu diharapkan, sebutnya, pasca tingkat okupansi kamar hotel di Jakarta berada di titik paling terendah selama libur lebaran Juni lalu, dapat kembali membaik melalui hadirnya moment Asian Games 2018,” tutur Ferry.

Menurut Ferry, tren bisnis perhotelan di Jakarta memiliki pola hunian yang berbeda dengan Surabaya maupun Bali. “Di Jakarta apabila masa Lebaran dan Tahun Baru biasanya membuat tingkat hunian hotel cenderung menurun. Karena banyak orang pada banyak mudik dan liburan ke luar daerah,” jelasnya.

Menurut data Colliers, hingga Kuartal II-2018, pasokan kamar hotel untuk wilayah Jakarta mencapai 39.955 unit kamar. Dan, selama periode ini tidak ada pasokan kamar hotel baru. Ferry menambahkan pasokan kamar hotel akan bertambah sekitar 2 ribu hingga akhir tahun 2018.

“Sampai 2020 akan di dominasi hotel bintang 3 yang akan dioperasikan independent
operator (non-hotel operator) sekitar 44%. Mereka operasikan sendiri, karena tidak ingin terikat dengan jaringan oprator hotel,” ujarnya.

Meski diproyeksikan akan terjadi peningkatan okupansi, namun Ferry mengatakan kinerja harga kamar hotel atau Avarge Daily Rate (ADR) mengalami penurunan setiap tahunnya. Hal itu dipicu karena jumlah pasokan kamar hotel bertambah tiap tahun, akan tetapi tamu yang menginap tidak bertambah signifikan.

Jika pada Kuartal I-2018 berada di harga USD76,7, namun saat ini hanya berada pada angka USD75,8. Akan tetapi dengan adanya moment besar yang akan dilewati oleh Indonesia, diperkirakan angka ADR di akhir tahun naik menjadi USD79,95 atau terjadi kenaikkan 2-3% hingga akhir 2018.

“Banyak hotel di Jakarta tidak menaikkan harga untuk menjaga tamu agar tetap memilih hotel tersebut, khususnya para tamu yang berasal dari korporasi yang sangat sensitif akan harga,” pungkas Ferry.

Berbeda dengan Jakarta, tingkat okupansi kamar hotel di Bali justru meningkat. Menurut Colliers naik 2,1% menjadi 71,1% hingga akhir 2018. Selain itu tarif rata-rata naik 2,2% menjadi US$116,05 hingga akhir 2018. Hal ini diakui Chairman Bali Hotel Association, Ricky Darmika Putra mengatakan, tingkat okupansi hotel tersebut meningkat hingga 4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Saat ini, rata-rata hunian hotel sekitar 75 persen. Ada peningkatan dari tahun lalu, sekitar 3-4 persen,” ujarnya.

Ricky mengungkapkan, dari okupansi hotel tersebut sebagian besar didominasi oleh wisatawan mancanegara. Namun setelah hari raya Lebaran, wisatawan dalam negeri yang datang ke Bali untuk menghabiskan libur Lebaran dengan rata-rata tingkat hunian hotel di Bali mencapai 80 persen.

Bagusnya okupansi dan harga kamar di Bali membuat suplai pasokan kamar pada kuartal kedua bertambah sekitar 185 kamar baru untuk hotel di kawasan Legian dan Ubud. Ke depan Bali akan mendapat suplai hotel luxury dengan respon bagus.

Menurut Ferry, IMF-WB annual meeting (Oktober) dan FIABCI December Meeting and Global Business Summit 2018 (Desember) akan menjadi kegiatan yang dapat meningkatkan okupansi hunian sampai akhir tahun 2018.

“Secara umum, sampai akhir 2018 okupansi kamar hotel diprediksi akan naik hingga 70%,” ujar Ferry.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me