Meski Sepi, Bukan Halangan Pengembang Terus Ekspansi

Big Banner

Meski kondisi pertumbuhan bisnis properti saat ini sedang “sepi” ternyata itu bukan halangan sejumlah pengembang untuk berhenti berekspansi. Sejumlah daerah menjadi target pengembang berbagai jenis produk properti dengan Investasi ratusan miliar hingga triliunan rupiah Sejumlah proyek siap digarap mulai semester dua tahun 2018 ini.

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) misalnya akan meluncurkan proyek terbarunya di Makassar, Sulawesi Selatan untuk pengembangan kawasan kota mandiri bertajuk Summarecon Mutiara Makassar. Proyek anyar tersebut akan resmi diluncurkan pada kuartal III-2018 di lahan seluas 329 hektar.

Tahap pertama, SMRA akan meluncurkan satu klaster hunian tapak sekitar 200-300 unit. Jemmy Kusnadi, Sekretaris Perusahaan SMRA mengatakan, pihaknya memilih untuk mengembangkan hunian untuk tahap pertama agar kawasannya hidup dulu. “Kalau kawasannya sudah hidup baru kita kembangkan komersial,” katanya.

Sementara PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang menargetkan dapat meraih marketing sales sebesar Rp7,7 triliun di tahun 2018 akan mengembangan proyek skala kota di Sentul, Bogor, bertajuk Citra Sirkuit Residence Sentul di lahan seluas 100 hektar. Proyek tersebut dibangun lewat kerjasama operasi (KSO) dengan pemilik lahan untuk pengembangan proyek rumah tapak tetapi juga akan ada apartemen dan area komersial lainnya.

“Proyek ini akan diluncurkan kuartal IV-2018 dan tahap I akan dibangun landed house semua,” kata Agus Surja Widjaja, Direktur Ciputra Group. Rumah tapak akan menyasar pasar menengah ke atas dan dibagi dua segmen. Pertama, dengan harga sekitar Rp700 juta-Rp800 juta dan kedua dengan harga Rp1,2 miliar-Rp1,4 miliar.

Agus menjelaskan, proyek yang akan dikembangkan tersebut akan menjadi bagian dari pengembangan kota seluas 1.000 ha di Sentul dengan konsep transit oriented development (TOD) sejalan dengan perkembangan pembangunan proyek kereta ringan atau Ligh Rail Transit (LRT) Jabodetabek tahap II yang akan menuju Sentul.

CTRA juga akan membangun proyek mixed use bertajuk Citra Natura di Cawang, Jakarta Timur seluas 7 ha. lewat kerjasama patungan atau join venture (JV) dengan pemilik lahan. Rencananya Citra Natura akan dibangun dengan merangkum 10 tower. Tahap pertama, perusahaan akan meluncurkan satu tower apartemen dulu yag diperkirakan akan dilakukan pada kuartal III 2018 mendatang dengan menyasar segmen menengah dan menengah bawah.

Selain dua proyek itu Ciputra Group juga berencana meluncurkan proyek lagi yaitu apartemen Pulau Gadung joint venture bersama Gamaland dan Mutivision yang akan dikembangkan di lahan seluas 13,5 ha. Di sana akan didirikan 15 tower apartemen dengan kapasitas sekitar 28.000 unit. Mixed use Setia Budi Bandung di lahan seluas 2,7 ha yang akan mencakup tiga tower gedung tinggi. Proyek ini ditaksir akan menelan investasi Rp2,25 triliun. Namun, realisasinya akan sangat tergantung pada proses perizinananya.

Sementara itu, PT Synthesis Development mengembangkan dua proyek baru di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Banten dan Pontianak, Kalimantan Barat. Ke depan Synthesis Development akan lebih banyak mengembangkan bisnis di luar Jakarta dci antaranya ekspansi ke Lombok (Nusa Tenggara Barat), Makassar (Sulawesi Selatan) dan Palembang (Sumatra Selatan). Khusus di Lombok berupa resort dan kondominium. Kebetulan Synthesis memiliki 30 ha lahan di sana. Adapun, untuk pengembangan proyek di Makassar dan Palembang lewat kerjasama operasi dengan pemilik lahan.

Proyek Pondok Cabe dikembangkan dalam konsep mixed use bertajuk Kalingga City di atas lahan 4,7 hektar. Synthesis akan membangun 192 unit rumah, tiga menara apartemen low rise dan sarana komersial. Kalingga City bakal rilis pada Agustus 2018 dan mulai dari proyek perumahan. Synthesis memasang target penjualan sebesar Rp2 triliun. Untuk apartemen, kemungkinan akan dijual dengan harga mulai Rp200 juta -Rp300 juta.

Untuk proyek Pontianak adalah perumahan Green Synthesis yang berlokasi di Jalan Gusti Hamzah dengan total area 4,5 hektar yang akan dibangun 224 rumah dan 9 commercial shop houses.

Sedangkan PT Metropolitan Land Tbk (MTLA) telah mendapatkan izin untuk mengembangkan lahan sekitar 280 ha di wilayah Jawa Barat. Olivia Surodjo, Direktur Keuangan MTLA mengatakan, lahan ini sudah mulai diakuisisi perusahaan sejak tahun lalu dan hingga saat ini sudah berhasil di bebaskan seluas 150 ha dimana tahun lalu didapat 110 ha dan 40 ha tahun ini. Nantinya, lahan ini akan dikembangkan menjadi satu kawasan kota mandiri baru.

Olivia mengungkapkan, sebetulnya pihaknya mengajukan proposal untuk pengembangan kawasan seluas 400 ha ke pemerintah daerah setempat tetapi perusahaan hanya mendapatkan izin lewat surat keputusan seluas 280 ha. Adapun sisa lahan yang belum diakuisi tersebut akan terus dikebut perusahaan tahun ini.

Pengembangan kawasan kota mandiri baru ini rencananya akan mulai dibangun tahun ini yang diawali dengan pembangunan hotel. “Rencana kalau izin master plan sudah dapat kami akan mulai groundbreaking proyek hotel di sana pada semester dua tahun ini,” kata Olivia. MPI YS

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com