Selain Rumah Instan Beton (RISHA), Ada juga Rumah Instan Kayu RIKA

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemenpupera) melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman (Puslitbang Perkim) telah mengeluarkan banyak inovasi terkait teknologi pembangunan rumah secara instan. Selain rumah instan sederhana sehat RISHA yang terdiri dari panel beton, ada juga rumah instan kayu (RIKA).

rumah kayu rika

Menurut Maryoko Hadi, Kepala Sub Direktorat Keterpaduan Perencanaan dan Kemitraan Direktorat Keterpaduan Infrastruktur Permukiman, Dirjen Cipta Karya Kemenpupera, kendati berbeda bahan baku, kedua rumah instan yang akan diterapkan dalam rehabilitasi gempa Lombok itu sama bagusnya dan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan rumah konvensional.

“Dua-duanya merupakan produk prefabrikasi yang diproses di pabrik dan diinstal di lapangan. Hanya RISHA itu sistem rangka strukturnya dari beton bertulang, sehingga desain atau penggunaan material bangunannya bisa lebih fleksibel. Kalau RIKA itu struktur dari panel kayu. Jadi RISHA lebih konvensional karena ada kolom, RIKA sudah bersifat rangka dari kayu,” jelasnya kepada housing-estate.com di Jakarta, Senin (3/9/2018).

RISHA dikembangkan sejak tahun 2004, RIKA lebih baru tahun 2010. Dua teknologi rumah instan ini telah digunakan sebagai hunian percontohan terutama di lokasi-lokasi yang terkena bencana alam maupun di area dengan kondisi lahan yang sulit. Baik RISHA maupun RIKA akhirnya bisa saling melengkapi dan dimodifikasi sesuai kebutuhan di lapangan.

Untuk teknologi RIKA, Maryoko menjelaskan, ukuran panelnya tersedia beberapa macam. Yang standar mulai dari 60 x 120 cm yang kemudian antar panelnya dibaut. Ada juga panel yang sudah berbentuk satu dinding berukuran 36 m2 (6 x 6 m2) dengan ketinggian efektif dinding 2,8 m. Satu panel besar ukurannya bisa 2,8 x 6 m2, panel dinding ini juga sudah menyediakan lubang-lubang untuk jendela. Ada juga panel berukuran 4,5 x 9,5 m seperti balok kayu.

Pengembangan teknologi RIKA berangkat dari semakin sulitnya kayu yang berkualitas, dan kalaupun ada harganya sangat mahal. RIKA dikembangkan menggunakan kayu berkualitas rendah yang cepat pertumbuhannya seperti sengon, karet, akasia, abasia, nangka, duren, dan lain sebagainya.

Kayu kualitas rendah ini kemudian diproses di pabrik sehingga memiliki kualitas yang lebih baik. Prosesnya diperkuat dengan sistem laminated veneer lumber (LVL), semacam proses perekatan pada kayu lapis sehingga kayu biasa memiliki kekuatan yang sangat keras. Proses LVL juga menghilangkan semua kelemahan kayu seperti lapuk, rawan rayap, kuat tekan, dan sebagainya.

Material kayunya juga membuat bobot RIKA lebih ringan. Sebagai perbandingan, RISHA karena menggunakan beton bobotnya mencapai 2,4 ton/m3, RIKA hanya 0,5 ton/m3. Rangka rumah menggunakan sistem RIKA bisa dimodifikasi. Misalnya, RIKA untuk rangka sementara penutupnya menggunakan bamboo, kemudian disemen dan dipasang lagi anyaman bamboo, sehingga bisa sangat kaku seperti dinding konvensional.

Bisa juga menggunakan papan semen, sementara untuk material lantai dan dindingnya bisa menggunakan bahan lain. “Untuk harganya kalau RISHA rata-rata Rp50 juta untuk rumah tipe 36 m2. Kalau RIKA tergantung kayunya. Tapi, untuk rangkanya saja rata-rata Rp26 juta untuk tipe 36 m2. Ini bisa jadi solusi untuk membuat rumah kayu dengan harga yang lebih murah. Di Amerika itu 90 persen rumahnya menggunakan kayu, di sini masyarakat belum bisa menerima karena edukasinya masih sangat kurang,” jelas Maryoko.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me