Properti Batam Tidak Terpengaruh Krisis, Proyek2 Baru Terus Dipasok

Big Banner

Merupakan judul bahasan Majalah properti Indonesia (MPI) edisi Agustus 2018. Disebutkan bahwa perlambatan ekonomi ternyata tidak membuat sejumlah pengembang di Batam merunduk.

Dilaporkan bahwa sebagian besar para pelaku usaha di Batam, khususnya sektor properti masih tetap optimis. Indikator keyakinan ini berdasarkan peluang bisnis dan investasi Kota Batam yang masih lebih menarik dibanding Singapura, karena harga lahan di Batam hanya 10% dari harga lahan di negara serumpun tersebut. Regulasi yang baru, asing sudah dapat membeli properti dengan strata title yang langsung tanpa diubah hak dasarnya.

Indikator lain adalah masuknya sejumlah investor baru ke Batam seperti industri digital dan pemeliharaan pesawat, termasuk kembalinya bisnis oil and gas yang sebelumnya sempat hengkang akibat bisnis global yang melemah.

Pada Semester I-2018, realisasi investasi di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam mencapai USD391 juta dari total target USD700 juta yang direncanakan. Meski belum memenuhi target, hal ini menjadi sinyal positif terkait investasi Batam yang akan kembali bergeliat.

Di sektor properti, prospek investasi di Batam dapat dilihat dari pertumbuhan harga lahan yang terus meningkat di beberapa kawasan, seperti Nagoya dengan harga lahan mulai dari Rp10 – 17 juta per m2, disusul Batam Centre dengan rentang harga lahan Rp6 – Rp10 juta per m2, sungai panas dengan rentang mulai dari Rp5 jutaan, kawasan bandara dengan rentang Rp3-4 juta per m2 serta wilayah Batu Aji dengan rentang harga lahan mulai dari Rp3 jutaan per m2.

Direktur Ciputra Group, Nararya Ciputra Sastrawinata, mengatakan, setelah sempat melambat, prospek Batam saat ini mulai bergeliat dilihat dari nilai investasi yang masuk. Dari segi lokasi dan industri, Batam juga memiliki prospek yang cukup baik, terlebih seiring dengan berkembangnya industri digital di Batam. “Dilihat dari berbagai aspek seperti infrastruktur, lokasi dan prospek ke depan, potensi Batam sebagai kota masa depan sangatlah cerah,” sebut Nara.

Ciputra Grup termasuk salah satu pengembang nasional yang turut memperluas sebaran portofolionya di Pulau Batam. Berkolaborasi dengan PT Artha Megah Propertindo, Ciputra Grup mengembangkan CitraLand Megah Batam di atas lahan seluas 15 ha. Menyusul CitraLand Megah, Ciputra Group melalui Ciputra Residence kembali melansir kawasan bisnis terpadu dan terintegrasi bertajuk Citra Aerolink Batam di kawasan industri Kabil Integrated Industrial Estate (KIIE).

Senada dengan Nara, CEO PT Pollux Properti Indonesia, Tbk, Nico Po, mengatakan, geliat properti di Batam saat ini sudah jauh lebih baik, meskipun memang masih lebih rendah dibanding kota-kota besar lainnya, seperti Jakarta, Yogyakarta ataupun Medan.

Ia optimis jika nantinya bisnis properti di Batam semakin meningkat akibat adanya pergeseran orientasi hunian yang diakibatkan kedekatan jarak antara Batam dengan Singapura.

“Meski perekonomian belum terlalu kondusif seperti beberapa tahun lalu, namun proyek Pollux untuk proyek mixed use Mesterstadt, Batam masih membukukan penjualan yang cukup baik,” sebut Nico.
Berlokasi di Jl. A. Yani, Batam, di atas lahan seluas 9 hektar, proyek multifungsi yang berkolaborasi dengan keluarga besar mantan Presiden RI, BJ. Habibie ini nantinya akan merangkum 11 gedung pencakar langit yang terdiri atas 8 menara apartemen sebanyak 6500 unit, 1 kondominium hotel (kondotel), 1 rumah sakit internasional, mal, pertokoan serta 1 perkantoran dengan rencana ketinggian 100 lantai. Tak kurang, sebesar Rp11 triliun dana investasi yang dipersiapkan perseroan untuk mengembangkan proyek terbesar di Batam tersebut.

Pengembang lainnya Sinar Mas Land, termasuk pengembang nasional yang kepincut Batam dengan mengembangkan proyek bertajuk Nuvasa Bay. Di atas lahan seluas 228 hektar, nantinya akan dikembangkan residential tapak sebanyak 1.100 unit, 4.000 kondominium, resort, retail, hotel, fasilitas permainan serta adventure game.

Untuk residensial The Nove, harga yang dibanderol di atas Rp1,5 miliar hingga Rp20 miliar. Sementara, untuk kondominiumnya dilepas dengan harga perdana mulai dari Rp 500 jutaan.

“Setelah tahap pertama dipasarkan, saat ini kita meluncurkan proyek berikutnya yaitu Kalani Tower,” ujar Steven Japari, General Manager Nuvasa Bay. Kalani Tower menawarkan beragam tipe unit dimulai dari Studio, 1 Bedroom, 2 Bedroom, Loft (2 lantai), dan Penthouse dengan harga mulai dari 500 jutaan.

(Majalah Properti Indonesia (MPI) dapatkan di toko-toko buku dan agen-agen penjualan majalah dan buku di kota Anda. Versi digital MPI dapat diakses melalui:
https://ebooks.gramedia.com/id/majalah/properti-indonesia atau : https://higoapps.com/item/1399/properti-indonesia

mpi-update.com