Beli Rumah Memang Harus Nekad, tapi Bukan Berarti Jadi “Bonek”

Big Banner

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Tidak membumi adalah penyakit sebagian kita orang Indonesia. Gengsi diutamakan tanpa mengukur kemampuan. “Banyak konsumen maksa ambil rumah tipe 75 atau 90 dua lantai, padahal tipe 54 sebenarnya sudah cukup,” kata seorang pengembang di koridor Jalan Alternatif Cibubur, Kota Depok, Jawa Barat, di perbatasan dengan wilayah Jakarta Timur, Kota Bekasi dan Kabupaten Bogor.

Foto : dok. majalah housing estate

Foto : dok. majalah housing estate

Pendapat serupa diutarakan bankir Dyah Hindraswarini. “Gaji Rp6 juta dibilang Rp10 juta supaya bisa beli rumah yang lebih gede. Padahal, itu akan menyulitkan debitur sendiri membayar cicilan kredit rumah (KPR),” ujarnya.

Asal tahu saja, bank sudah memiliki standar rasio cicilan kredit maksimal yang aman bagi debitur. Yaitu, 1/3 dari penghasilan bersih yang dibawa pulang (take home pay). Tapi, itu standar umum. Di Bank BTN misalnya, standar itu diterapkan untuk penyaluran KPR bersubsidi. Sedangkan untuk KPR komersial atau nonsubsidi, standarnya 70 persen dari net income.

Misalnya, Anda bergaji Rp10 juta/bulan. Sebanyak Rp5 juta habis untuk biaya hidup sehari-hari, sehingga tersisa Rp5 juta. Berarti anda hanya bisa mengambil KPR dengan angsuran maksimal Rp3,5 juta/bulan (70% x Rp5 juta). Sedangkan Bank BNI mematok rasio cicilan 35-40 persen dari take home pay untuk semua segmen debitur. Jadi, kalau gaji Rp10 juta, Anda bisa mendapat KPR dengan cicilan Rp4 juta/bulan.

Jujur

Standar itu diadopsi bank berdasarkan survei biaya hidup. Dari survei itu diketahui, seseorang cukup menggunakan 50–55 persen penghasilannya untuk memenuhi kebutuhan pangan, sandang, pendidikan dan kesehatan. Sisanya untuk keperluan lain termasuk mencicil rumah. Tapi, berisiko kalau seluruh sisa income dihabiskan untuk rumah. Sekitar 10–15 persen tetap perlu disisihkan sebagai tabungan untuk mengantisipasi pengeluaran tak terduga. Karena itu rasio cicilan rumah direkomendasikan hanya 30–40 persen dari income.

“Dari data statistik bank terbukti rasio angsuran sepertiga penghasilan itu paling kecil kredit macetnya,” ungkap seorang banker Bank BTN. Jadi, bila membeli rumah dengan fasilitas KPR, pastikan Anda mengacu ke standar itu. Kalau tetap ingin rumah yang lebih besar, padahal rasio mencicil sudah mentok, tambah uang muka atau ambil tenor kredit yang lebih panjang. “Jangan memanipulasi data gaji karena akan menyulitkan bank dan debitur sendiri. Bisnis bank itu berbasis kepercayaan. Jadi, satu sama lain harus jujur,” kata Dyah.

Bonek

Ia menambahkan, membeli rumah perlu direncanakan dengan seksama, mulai dari uang muka, biaya-biaya, pajak, sampai besaran cicilannya setiap bulan. Pasalnya, rumah adalah soal serius dalam hidup seseorang, karena menuntut pengeluaran paling besar. Rumah juga akan menjadi basis kehidupan keluarga dalam jangka panjang. Untuk itu hitung dulu kemampuan mencicil dengan mendatangi bank dan membuka simulasi KPR di situs bank atau situs lain seperti housing-estate.com, setelah itu baru pilih rumah yang sesuai. Jangan dibalik. Memilih rumah dulu baru datang ke bank minta kredit. Kalau gaji tidak mencukupi, permohonan kredit Anda akan ditolak.

“Membeli rumah memang harus nekat, tapi bukan berarti jadi bonek. Gaji Rp5 juta mau ambil rumah yang cicilannya Rp4 juta, ya nggak bisa. Bank tidak boleh memberi kredit yang membuat orang nggak bisa makan atau nyolong,” tegas perempuan asal Surabaya itu.

Bankir Bank BTN itu menambahkan, kemampuan keuangan perlu dihitung betul karena selama 3–5 tahun pertama cicilan KPR akan terasa berat. Di sini pentingnya realistis memilih rumah, disiplin mengatur pengeluaran dan selalu menyisihkan sebagian gaji untuk ditabung. Bahkan, kalau ada bonus-bonus sebaiknya disetor ke tabungan, untuk mengantisipasi kenaikan bunga dan kemungkinan debitur kehilangan pekerjaan. Dengan demikian dalam situasi apapun cicilan tetap lancar.

“Jangan pernah menunggak, karena sekali menunggak cicilan berikutnya akan sangat berat,” katanya. Bila keadaan memang sulit, kemukakan persoalannnya kepada bank secara jujur. Bank akan mencarikan solusi mulai dari restrukturisasi, keringanan pembayaran, sampai take over (pengalihan kredit kepada pihak lain).

Kalkulator Bank

Setiap bank menyediakan kalkulator atau simulasi KPR di situsnya, begitu pula sejumlah situs properti seperti housing-estate.com. Kita tinggal memasukkan data yang diminta seperti nilai kredit yang diambil, uang muka, tenor KPR dan bunganya, kalkulator pun akan menginformasikan berapa kekuatan mencicil, maksimal harga rumah yang bisa dibeli, minimal penghasilan yang disyaratkan, dan maksimal kredit yang bisa anda dapat berdasarkan standar maksimal cicilan di atas.

Menurut kalkulator Bank BTN misalnya, bila kita membeli rumah seharga Rp250 juta dengan uang muka 20 persen (Rp50 juta), tenor kredit 15 tahun (180 bulan), cicilannya dengan bunga 11,25 persen sekitar Rp2,35 juta/bulan. Jadi, untuk mendapatkan kredit itu debitur harus memiliki net income Rp3,35 juta/bulan. Bila kurang Anda harus menambah DP, memperpanjang tenor KPR (bila masih memungkinkan), atau memilih rumah yang lebih murah.

“Hasil perhitungan itu tinggal dibawa ke BTN. Saat itu juga persetujuan prinsip terhadap permohonan kredit yang diajukan langsung kami berikan,” kata banker Bank BTN itu. Berbekal persetujuan itu anda datang ke developer merealisasikan pembelian rumah. Anda senang, developer hepi karena sudah memiliki kepastian KPR. Selanjutnya tinggal melengkapi persyaratan KPR. Paling lama dalam 5–6 hari kerja kredit sudah dicairkan ke rekening developer.

Sementara menurut simulasi BNI Griya (KPR Bank BNI) dan housing-estate.com, dengan contoh yang sama, angsurannya juga sekitar Rp2,35 juta/bulan. Bedanya minimal gaji yang disyaratkan sekitar Rp6-7 jutaan/bulan.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

housing-estate.com