Cushman & Wakefield: Real Estat RI Belum Alami Property Bubble Tetapi Tetap Waspada

Big Banner

 

Ciputraentrepreneurship News, Jakarta – Beberapa institusi riset telah mengukuhkan Jakarta sebagai salah satu tujuan investasi properti terbaik di dunia. Pertumbuhan hunian dan peningkatan harga jual propertinya juga menjadi salah satu yang tertinggi dan paling pesat dalam 1-2 tahun terakhir, di tengah penurunan yang melanda pasar properti negara lain. Demikian pernyataan Said Mustafa Chief Executive Officer dan Pemimpin Umum Majalah Properti Indonesia tadi malam (29/5/2013). 

 

Namun, di dalam masa keemasan industri properti Indonesia ini, kecemasan lain juga muncul. Gejala “property bubble” menjadi isu yang menjadi perhatian kalangan pelaku industri ini karena harga produk properti akhir-akhir ini memang menunjukkan peningkatan yang relatif drastis. “Mungkin akan muncul turbulensi yang bisa mengganggu ekonomi makro negara,” ujar Said.

Menjawab kecemasan ini, Cushman & Wakefield mencoba memberikan sebuah argumen melalui sebuah presentasi berjudul “Are We in Bubble or Not?” yang dipaparkan oleh David Cheadle, Managing Director Cushman & Wakefield Indonesia, dalam acara penganugerahan Properti Indonesia Award 2013 oleh Majalah Properti Indonesia.

Cheadle yang juga pemegang gelar BSc dalam bidang Urban Estate Management ini memberikan alasan secara singkat dan analitis mengenai bagaimana property bubble bisa terjadi.

Menurut Cushman & Wakefield, property bubble terjadi jika muncul penggelembungan ekonomi dalam pasar real estat baik dalam skala lokal atau global yang dapat terjadi dalam bentuk siklus.

Menurut pria lulusan Liverpool John Moores University ini, hal ini ditunjukkan dengan kenaikan cepat dalam valuasi properti yang ada hingga mencapai tingkatan yang tidak lagi bisa ditopang oleh ekosistem pasar di sekitarnya relatif dibandingkan dengan pendapatan dan indikator ekonomi lainnya, diikuti dengan penurunan yang bisa mengakibatkan banyak pemilik properti memegang ekuitas negatif (utang KPR lebih tinggi daripada nilai properti).

Namun bagaimana kita dapat mencegah dan mengenai property bubble? Beberapa indikator property bubble ialah kenaikan tajam dalam harga properti, pembangunan properti yang terus menerus, kenaikan jumlah properti hunian dan komersial yang kurang memenuhi harapan atau kosong, perbandingan harga dengan pendapatan (atau harga dengan biaya sewa) yang memakan banyak biaya untuk real estat, dan sebagainya.

Dari data yang disajikan oleh Cushman & Wakefield, dinyatakan bahwa Indonesia belum mengalami property bubble yang dimaksud di atas. Namun demikian, kewaspadaan terhadap kemungkinan tersebut masih perlu dijaga.

“Untuk kondominium, kami memperkirakan akan adanya permintaan yang tinggi mengangkat penjualan kumulatif ke tingkat tertinggi dalam 10 tahun terakhir,” ia memberikan simpulannya. Sementara untuk kelompok hunian tapak (landed residential), Cushman & Wakefield memprediksi terjadinya penurunan penjualan untuk tahun 2012 namun akan ada kenaikan kembali di tahun 2013. Pasar hunian tapak masih akan didominasi oleh segmen menengah atas dan atas, dan KPR masih akan menjadi primadona. Lahan industri, masih menurut pemaparan Cheadle, akan menghadapi kondisi yang di dalamnya terjadi penurunan net take-up dan harga akan menunjukkan tanda-tanda menuju titik stabil.

“Suplai masih tinggi dibandingkan permintaan di tahun ini, tingkat penjualan diperkirakan juga akan menurun sebesar 1% menjadi 81,4%,” imbuh broker properti dari Inggris ini.

Selama ini industri properti masih dikuasai anak negeri, dan banyak memberikan kontribusi pada perkembangan perekonomian nasional. Sebagian pelaku industri properti tanah air bahkan sudah mengharumkan nama bangsa dalam skala global. (*Akhlis)

ciputraentrepreneurship.com

Large Rectangle
Large Rectangle

Share

Follow Me